Sunday, March 31, 2019

Hari Terakhir di Delhi, Menuju Agra dengan Menggunakan Bus Umum

Sebagian dari reruntuhan di kompleks Qutab Minar
Hari ke-3 di Delhi, setelah sarapan, mandi dan check out. Kami melanjutkan perjalanan di sisa hari sebelum pindah lokasi ke Agra. Sedikit info transportasi, kami sebenernya pengen banget naik itu yang namanaya kereta api di India. Pengen ngerasain gitu, gimana sumpeknya, ramainya, joroknya gerbong kereta api di India itu (kata orang-orang sih). Tapi apa daya, sejak dari Jaipur-Delhi dan Delhi-Agra, kami gak kebagian tiket barang kelas ekonomi satupun gengs. Katanya sih amannya harus pesen 3 hari atau seminggu sebelum berangkat, tapi kan kita punya jadwal fleksibel banget, ngaret malah, jadi takut aja gitu kita ditingal kereta. Jadi sedikit pembelajaran buat kamu yang ingin menggunakan jasa kereta api di India, booking lah jauh-jauh hari. Bisa sih on the spot pada hari yang sama, tapi ya gitu, untung-untungan. Bisa dapat bisa enggak. Hahahahaha

Buat kamu yang mau nyobain naik bus dari Delhi ke Agra, bisa langsung dari Anand Vihar Bus Terminal. Dari sini bus berangkat setiap 2 jam sekali hingga jam 10 malam. Untuk menuju terminal, kamu bisa menggunakan MRT Jalur Biru dan berhenti di Anand Vihar ISBT Station. 

But, kami belum mau berangkat...

Destinasi terakhir yang kami kunjungi sebelum bertolak ke Agra adalah Qutab Minar dan Lotus Temple. Pertama kami mengunjungi Lotus Temple dulu, mengingat hari masih pagi dan belum terlalu panas. Untuk menuju Lotus Temple ini kita dapat menggunakan MRT Jalur Ungu dan berhenti di Stasiun Kalkaji Mandir. Dari stasiun kita masih harus berjalan beberpa meter lagi, hingga akhirnya sampai di gerbang masuk kuil. Tapi sayang sodara-sodara, kuilnya tutup. dan kita hanya bisa menyaksikan kemegahan kuil dari luar pagar saja, SAD. 

Fotonya dari balik kerangkeng gays...
Biar kerangkengnya ilang di zoom dikit. Hahahaha
Yang ini fotonya sambil jinjit dari pagar

Puas foto-foto dari luar kami melanjutkan perjalanan ke Qutb Minar. Dari Lotus Temple kami naik MRT dan bertukar jalur ke yang berwarna oranye hingga akhirnya kami turun di Stasiun Qutab Minar. Dari stasiun kami masih melanjutkan perjalanan dengan menggunakan tutuk, karena jarak yang lumayan jauh kalau harus berjalan kaki, ongkos tuktuk setelah kami tawar 30 rupee untuk berdua. Sesampainya di gerbang pintu masuk, kami membeli tiket untuk wisatawan manca negara seharga 500 rupee.

Satu hal yang menarik di beberapa tempat wisata yang kami kunjungi sejauh ini adalah, antrian untuk warga lokal dan wisatawan manca negara itu selalu dipisahkan. Jadi jangan jiper duluan kalau kalian menemukan antrian meliuk-liuk kayak ular, karna itu biasanya antian buat warga lokal. Untuk wisatawan mancanegara umumnya lebih sepi dan lancar. 

Suasana pintu masuk kompleks Qutab Minar
Semakin ramai ketika masuk kedalam kompleks
Yang menjadi primadona

Begitu memasuki kawasan Komplek Qutab Minar ini, menara  setinggi 73 meter langsung menjadi point of view kawasan. Mulai dibangun pada tahun 1192, desain menara mengadopsi desain Minaret of Jam yang ada di Afghanistan. Selain minaret yang menjadi primadona kawasan, terdapat bangunan-bangunan lain juga di sekitarnya, seperti beberapa bangunan makam dan juga pelataran mesjid yang dulunya difungsikan untuk tempat ibadah. Melihat indahnya ukiran dan relif yang terdapat di setiap dinding bangunan dan menara membuat saya terkagum-kagum sekaligus takjub akan kemampuan seniman-seniman India zaman dulu. Mereka mampu membuat desain sebagus dan serapih ini, bahkan dengan skala yang cukup besar, pada zaman dulu yang bahkan teknologi pun serba terbatas.

Ukiran di dinding menaranya gengs... Rapi dan detail banget kan??

Penampakan bagian bangunan yang masih berdiri utuh

Berfoto bersama sang primadona

Beberapa detai di dinding-dinding bangunan

Beberapa sudut bangunan yang bagus untuk tempat foto

Foto dulu sebelum pulang. Hahahaha

Setelah puas keliling kawasan Qutab Minar dan mengambil beberapa foto, kami memutuskan untuk kembali ke hostel untuk mengambil barang-barang yang dititipkan. Kami berencana berangkat ke Agra tepan jam 2 siang agar tidak kemalaman ketika nanti tiba di Agranya. 

Begitu tiba di terminal bis, kami langsung mencari bus tujuan Agra. Untungnya ada Goverment bus, sebutan mereka untuk bus umum, yang akan berangkat 15 menit lagi sesaat setelah kami sampai di terminal. Tiketnya sebenernya 300 rupe per orang, cuma saya tawar 570 rupe untuk berdua, lumayan kan 30 rupe untuk tambahan ongkos tuktuk ke hostel sesampainya di Agra nanti. Hahahahahaha..

Perjalanan ke Agra di tempuh dalam waktu 4-5 jam, untungnya jalur yang kami lalui kali ini sangat mulus. Berbeda dengan jalur Jaipur-Delhi yang penuh guncangan dan godaan, hahahahaha. Karena merupakan tujuan favorit mungkin pemerintah memperbaiki akses Delhi-Agra agar nyaman dan lebih efisien, karena banyak juga lo touris yang mengambil one day trip dari Delhi dengan tujuan hanya ingin mengunjungi Taj Mahal. Jadi berangkat subuh pulang petang gitu.

Dengan perjalanan mulus tersebut, dan kondisi bus yang lumayan nyaman (gak berdesak-desakan), kami sampai di Agra sekitar pukul 7 malam. Kami memilih hostel yang dekat dengan gerbang masuk Taj Mahal agar bisa ngantri tiket subuh-subuh. Dari terminal bus, kami naik TukTuk dengan harga yang sudah di nego 150 rupe buat berdua. Tuktuk yang pertama kami naiki habis bensin, dan kami diturunkan di tengah jalan. Sebenarnya dia menyuruh kami menunggu sembari dia mengisi dan mencari bensin yang entah dimana. Tapi begitu dia pergi, bagai mangsa empuk kami langsung di sambar oleh supir Tuktuk yang lain. Yah kami ngikut aja, dengan harga yang sama dan kami gak rugi juga, hahahaha. Maaf supir Tuktuk yang ke satu mungkin malam ini anda belum beruntung. Hahahahah

Sekian cerita Delhi di hari terakhir.
Penasaran dengan Agra?? 
Tunggu cerita selanjutnya ya...

Friday, February 22, 2019

New Delhi, Nyobain Es Krim yang Diduga Kadaluarsa

Bangunan utama Humayun Tomb
Hari ke-2 di Delhi, pastinya lebih seger duong. Secara tidurnya berkualitas, hahahah. Hostel yang kami pilih suasananya sangat nyaman, AC nya sangat dingin dan tipikal hostel-hostel backpacker pada umumnya, ramai pelancong-pelancong ber budget tipis dari berbagai negara. Setelah sarapan dan mandi kami bergegas ke destinasi berikutnya. Oh ia, seharusnya hari ini hari terakhir saya dan teman saya di Delhi sebelum bertolak ke Agra. Tapi karena masih banyak destinasi yang belum didatangi dan terlalu cepat untuk berpindah kota, kami memutuskan untuk extend 1 malam lagi.

Destinasi pertama untuk hari ini adalah India Gate. Untuk mencapai lokasi ini sangat banyak stasiun MRT di sekitar lokasi, karena kawasan India Gate ini adalah kawasan perkantoran dan pusat pemerintahan. Tapi kami saat itu turun di Central secretariat station. Kami masih harus menyambung perjalanan dengan menggunakan tuktuk karena walaupun jam 10 pagi, matahari di Delhi udah serasa di padang Mahsyar aja, panasnya sampai ke ubun-ubun (ini lebai sih, hahahah). Setelah tawar-menawar kami deal dengan harga 30 rupee. Karna jalanannya lurus dan lebar, India Gate serasa dekat tapi percayalah butuh waktu 5 menit mencapai lokasi menggunakan Tuktuk. Lain cerita lagi kalau kami berjalan kaki di pagi hari yang berasa siang bolong seperti ini???? Alamat dah udah, hahahha.

Es krim yang expire datenya dihilangkan

India Gate berasa pasar malam minus biang lala dan komedi putar

Canopy dan khalayak di sekitarnya

India Gate dan traveler

Api abadi (Amar Jawan Jyoti) tepat di bawah India Gate 

Di India Gate, sangking panasnya kita coba makan eskrim bungkusan semacam Walls gitu, emang walls sih kayaknya brandnya. Harganya murah banget sekitar 50 rupe, kalau dirupiahkan sekitar 1000an gitu untuk jenis cone yang mirip corneto. Usut punya usut ternyata tanggal kadaluarsanya udah di hapus paksa sodara-sodara, mungkin udah lewat kali ya makanya dijual murah. Dan kita biasa-biasa aja gitu makannya, alhamdulillah sampai sekarang masih sehat. Hahahahaha...

Ini emang orang-orang India hobi jalan-jalan dan piknik kali ya, suasana India Gate saat itu Ruammme banget. Udah kayak pasar malam tapi siang minus biang lala dan komedi putar, hahahah. India Gate ini adalah sebuah monumen, War Memorial Monument, yang dibangun untuk mengenang 70.000 tentara yang gugur selama perang dunia ke-1. Bentuknya mirip  Arc de Triomphe di paris atau buat yang tinggal di Kediri mirip monumen yang di simpang lima itu loh. Dibangun pada tahun 1921, monumen ini tingginya 42 meter dan nama-nama para tentara terukir di semua sisi dinding monumen. Di bawahnya terdapat api abadi, yang kemarin diambil untuk pembukaan acara Asian Games Jakarta Palembang. Jadi api yang dibawa naik pesawat ke Indonesia itu ambilnya dimari gaisss...

Puas berfoto dan keliling di tempat ini kami bertolak ke destinasi berikutnya, Humayun Tomb. Untuk ke sini kami harus menaiki Tuktuk ke stasiun MRT terdekat kemudian turun di Khan Market Station. Dari Stasiun MRT kami masih harus melanjutkan perjalanan menggunakan Tuktuk lagi dengan ongkos 70 rupe buat berdua.Tiket masuk untuk wisatawan manca negara sebesar 500 rupe per orangnya. Kami sampai di Hamayun sekitar jam 2 siang. Menjelang sore mataharinya sudah mulai bisa diajak kompromi, gak sepanas jam 10 pagi tadi lagi.

Masuk dari gerbang depan Humayun Tomb

Penampakan dari sisi lain Humayun Tomb

Masuk dari gerbang utama, kompleks situs ini terdiri dari beberapa bangunan makam di dalamanya. Seperti bangunan mesjid beserta makam Isa Khan, Makam dan Taman Bu Halima (namanya emang bu halimah lohhh yaaa, hahaha), Makam dan Mesjid Afsarwala, beberapa rest house dan beberapa taman-taman kecil. Bangunan utamanya, Hamayun Tomb merupakan bangunan yang di khususkan untuk makam Bega Begum, istri pertama Humayun. Kalau buat orang awam ya, makam-makam di sini bentuknya seperti mesjid. Ukurannya juga buka main besarnya. Di sekiling bangunan makam terbentang taman dengan rumput hijau yang lumayan luas, cukup untuk membuat bangunan makam istri Raja Humayun ini menjadi bangunan yang monumental. Menikmati sore hari di kompleks makam ini sangat menyenangkan. Saya perhatikan semenjak dari Jaipur hingga Delhi, raja selalu membuat makam istri dan keluarganya semegah dan sebagus mungkin. Sehingga biarpun fungsinya sebagai makam, namun jauh dari kesan seram sama sekali.

Langit-langit kubah Humayun Tomb

Makam Humayun tepat dibawah kubah bangunan utama

Bangunan makam di sekitar bangunan utama

Sistem pengairan di dalam kompleks kawasan Humayun Tomb
Bagian interior dalam Humayun Tomb

Waktu menunjukkan jam 4 sore, kami bertolak ke destinasi terakhir hari ini. Letaknya ada di kawasan Chandni Chowk, pasar di kawasan kota lama Delhi. Ada sebuah rooftop yang instagramable banget. Di lihat dari photo-photo yang bertebaran sih bangusnya kesana pas sunset. Tapi melihat waktu yang sudah menunjukkan jam 5 sore kami ragu akan dapat momen yang pas ketika disananya atau malah zonk. Dan ternyata benar, sesampainya di stasiun Chawri Bazar, kami gak tahu ke arah mana harus berjalan. Alhasil hanya memanfaatkan foto di HP dan menanyakan lokasi tersebut ke warga sekitar, hahahahaha, useless banget kayaknya ya. Sejam mondar-mandir di pasar, akhirnya kami menemukan tempat yang dicari. Pintu masuknya berada di gang kecil, gak ada papan penunjuk arah, jadi harus niat memang nanya-nanyanya. Melewati beberapa jalan setapak, akhirnya kami sampai di rooftop lantai 4 permukiman warga. Tapi sayangnya kami tiba mataharinya udah keburu ilang. Dan dari pada nanggung, ya kita foto aja di gelap-gelapan. Hahahahaha....

Mataharinya udah keburu pergi

Hari ke-2 ini kami cuma sanggup datengin 3 destinasi, nyerah sama panasnya India. Satu hal yang seger di hari ke-2 ini adalah nyobain jus nenas porsi besar dengan harga murah di Chandni Chowk. Jusnya gak oplosan loh, ASELI... nenasnya langsung di peresss depan mata masukin ke gelas. Cuman ya gak tau mesin peras sama gelasnya steril apa enggak. Hahahahahah

Sekian hari ke-2
Keep jalan-jalan, keep eksploring.... 

Sunday, February 17, 2019

Welcome To Delhi, eksplore di Hari Pertama

Agrasen Ki Baoli
Dari stasiun bus, setelah mendapatkan kartu one day pass nya MRT, kami bergerak ke Hostel yang telah kami booking via internet. Letaknya di pinggiran kota, tapi kami memilih penginapan yang ekat dengan stasiun MRT biar dekat kemana-mana menggunakan kereta. Jangan lupa meminta MAP rute MRT di bagian informasi, karena akan sangat membantu selama kamu berada di delhi nantinya. Map dan tiket sudah di tangan, kami langsung bergegas ke hostel dengan menggunakan MRT. Pemberhentian yang palng dekat dengan hostel tempat kami menginap adalah Laxmi Nagar Station di jalur biru kalau di peta sebelah timur.

Butuh waktu sekitar 45 menit untuk kami sampai ke hostel. karena masih jam 7 pagi, kondisi jalanan dan kereta masih sepi. Sama seperti di Jaipur, udara pagi di Delhi juga sama dinginnya loh dan pastinya debu masih tetap everywhere. Walaupun di keterangan bookingan check in bisa dilakukan jam 2 siang kami kekeuh datang ke hostel, ya minimal bisa mandi dan rebahan sebentar di lobby hostel sebelum melanjutkan perjalanan menjelajah kota Delhi. Beruntung, selain mandi kami juga dapat sarapan gratis sih di hostel walaupun hitungannya kami belum tamu resmi di sini. Hahahahaha...

Suasana stasiun MRT Delhi

Di dalam gerbong MRT Delhi
Setelah mandi, jam menunjukkan pukul 9 pagi, kami bergegas ke destinasi pertama. Agrasen Ki Baoli, sebuah situs kuno yang saat ini populer karena dijadikan lokasi syuting filimnya Amir Khan (PK) dan Sri Devi (MOM). Dengan menggunakan MRT kita dapat trun di stasiun terdekat, ada tiga pilihan stasiun yakni Janpath, Barakaba road dan Mandi House Stasion. Tapi yang paling-paling dekat adalah Barakamba Road, dimana kamu hanya perlu berjalan sekitar 500 meter lagi untuk mencapai situs kuno ini. Gunakanlah selalu Google Map offline, karena beberapa destinasi wisata di Delhi letaknya bukan di jalan besar yang mudah dikenali. Seperti Agrasen Ki Baoli ini, dia terletak di dalam kawasan komplek permukiman dan perkantoran.

Suasana di dalam situs Agrasen Ki Baoli
Beberapa spotfoto menarik
Atap sumur di lantai bawah

Ketika kami sampai, lokasi ini ramai dipenuhi anak-anak ABG. Dari gelagatnya sih mereka ini anak-anak SMP yang lagi prosesi pemotretan buat buku tahunan. Soalnya ada guru-gurunya juga. Situs ini berukuran 60 x 15 meter dan 108 anak tangga. Dibangun pada abad ke-14, situs ini berfungsi sebagai sumur penampungan air. Sama halnya dengan step well yang kami datangi di Jaipur, cuman dengan bentuk yang berbeda. Kami eksplore lokasi ini selama kurang lebih 2 jam. Mengambil beberapa foto, karena lokasinya kecil dan sangat ramai kami kemudian bertolak mengunjungi destinasi berikutnya.

Suasana Agrasen Ki Baoli sekitar jam 10 pagi
Destinasi berikut yang kami kunjungi adalah Jama' Masjid. Terletak di Old Delhi, kamu bisa mencapai destinasi ini dengan menggunakan MRT jalur ungu dan turun di Jama' Masjid Station. Dari stasiun ini kamu hanya perlu berjalan sekitar 300an meter. Destinasi lain yang dekat dengan stasiun ini adalah Red Fort. Kedua situs ini terletak dikawasan kota tuanya Delhi, Old Delhi. Berhubung sudah siang, kami bergegas ke Masjid dulu untuk makan siang dan sholat zuhur. Sepanjang jalan menuju mesjid banyak pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai keperluan sehari-hari. Di sekitar masjid juga ada bazaar, kalau bahasa kita lebih tepatnya sih pasar. Kami makan siang di pasar ini sembari menunggu adzan zuhur.

Suasana jalan menuju Jama Masjid Delhi
Gerbang masuk Jama Masjid Delhi
Gerbang masuk masjid dari arah timur
Tampakdepan Jama Masjid Delhi
Masjid ini termasuk salah satu masjid terbesar di India. Dibangun pada masa pemerintahan Raja Shah Jahan 1644. Bangunan masjid terbuat dari marble dan red sand stone. Masjid ini dapat menampung 25.000 jamaah sholat. Berdiri 2 menara setinggi 40 meter di sisi kiri dan kanannya. Bagian tengah halaman masjid terdapat kolam air yang berfungsi sebagai tempat berwudhu. Bangunan ini terbuka untuk umum, biaya masuk gratis. Namun kalau kamu bawa kamera, akan dikenakan charge 300 rupe per kamera. Dan kalau mau naik ke salah satu menara akan dikenakan biaya tambahan lagi. Karena bangunan masjid ini masih difungsikan sebagai tempat ibadah umat muslim, kondisinya akan selalu ramai dari subuh hingga isya. Kami duduk menikmati susana masjid dan berkeliling ke tiap sudut sembari mengambil beberapa foto. Asyik jepret sana sini gak kerasa udah ashar lo, karena naggung kami menyelesaikan sholat ashar dulu dan kemudian lanjut ke destinasi selanjutnya, Red Fort. 

Tempat berwudhu di Jama Masjid Delhi
Suasana di depan mihrab mejid
Pemandangan dari dalam mesjid
Interior dalam mesjid

Dari halaman mesjid kita dapat melihat bangunan benteng berwarna merah di seberangnya. Kelihatan begitu dekat, tapi butuh waktu sekitar 15 menit berjalan ke benteng tersebut. Begitu sampai di gate pintu masuk, kami langsung terkejut melihat antrian yang sangat panjang. Tiket masuk untuk wisman dipatok 500 rupe per orang. Melihat antri yang cukup panjang dan hari sudah makin gelap, kami urung masuk ke dalam benteng karena percuma, akan susah hunting foto kalau kondisi bangunan rame begini, yang ada bocor di mana-mana dong, hahahahha. Alhasil kami hanya duduk di depan pintu masuk dan mengambil beberapa foto sebagai bukti kalau kami udah pernah ke benteng ini, yaaaa biar pun cuma depannya doang.

Kami di Red fort, lebih tepatnya di halamannya, sampai jam setengah 6 sore. Sambil menunggu magrib kami menyempatkan untuk makan malam disekitar masjid dan memustuskan untuk kembali ke hostel karena sudah capek dan terlebih lagi kami kurang tidur pada malam sebelumnya.

Halaman depan Red Fort
Gerbang utama Red Fort
Orang Indonesia nyasar di Red Fort
Impresi saya mengenai kota Delhi di hari pertama adalah, suasananya lebih moderen daripada Jaipur, ya ialah, secara ibukota negara gini. Karena sudah berpengalaman di Jaipur, di Delhi kami aman dari scam setidaknya di hari pertama ini okelah. Berpindah kemana-mana lebih gampang karena ada MRT, berbeda dengan Jaipur yang full meengandalkan Tuktuk. Oh ia, harga barang-barang di sekitar masjid juga murah-murah lo. Layak lah dipertimbangkan kalau mau beli oleh-oleh. Tapi ya ada harga ada kualitas ya. Pinter-pinter nawar aja. Hahahaha

Sekian Delhi hari pertama...

Friday, February 15, 2019

Jaipur ke Delhi dengan Sleeper Bus

Suasana Sydicam malam hari
Setelah mengambil tas yang di titip di hostel, kita berangkat ke Sydicam. Tiket belum dapat dong, karena kami sudah dapat info kalau bus ke Delhi itu ada setiap jamnya jadi kami santai saja. Kami tiba di Sydicam jam 8 malam. Seperti biasa, begitu turun dari Tuktuk, melihat kita bawa tas dan koper, langsung dong kitanya dikerubuti kayak semut ngerubutin gula. Setelah tawar sana tawar sini, dan memakai trik emak2 nawar di pasar (yang pura2 pergi gitu lo). Kami mendapat tiket 650 rupe untuk berdua, AC dan Sleeper. Itu udah nawar dan merekanya maunya turunya cuma 50 rupe. Tapi lumayan lah, kita dapat selonjoran di dalam bus sampai besok paginya.

Ini merupakan pengalaman saya kali kedua (bukan raisa loh ya) naik sleeper bus setelah perjalanan dari Siem reap ke Ho Chi Minh. Dalam bus ukuran besar tersebut dalamnya dimodifikasi sedemikian rupa. Jadi untuk bagian bawahnya tetap berupa tempat duduk dengan konfigurasi 2-1, Tapi di atasnya ada kompartemen untuk tidur tetap dengan konfigurasi 2-1. Kompartemen nya sendiri sepanjang tubuh manusia normal. Dengan pintu kaca, kita di dalam serasa manusia dalam aquarium, hahaha. Bus ini berangkat jam 10 malam. Dan saat itu penumpangnya full, bahkan ada yang ngemper di gangnya juga loooo...

Naik bus ini sebenernya kurang nyaman sih, karena kompartemennya selain isinya kami berdua, ditambah barang bawaan kami yang kami masukkan juga ke dalamnya. Selain itu cara supir bawa busnya juga agak ugal-ugalan, gak perduli jalanan berlubang, jalanan berbelok, dihajar aja semua dengan kecepatan yang konstan. Tapi karena seharian sudah cape, ya kitanya langsung molor aja walaupun kompartemennya wangi semerbak bau kaki kita berdua, hahahahaha....

Kondisi di dalam bus
Bus berhenti sekitar jam 2 malam. Mungkin si supir ngantuk, jadi mau ngopi dulu. Jangan bayangkan dong rest area yang luas, dengan gerai makanan dimana-mana. Setelah mengintip dari jendela mobil, karena kita memang malas turun. Selintas, terlihat lapangan luas, karena gelap, dengan satu warung tenda di pinggir jalan. Bagaimana dengan buangair kecilnya?? ini yang menarik nih. Semua penumpang yang ingin buang air kecil bebas aja gitu pipis di lapangan luas. Kalau pria sih masih lumrah ya. Yang saya kaget itu, para bu ibu juga ikut-ikutan dong. Mereka langsung angkat rok dan jongkok dong, untung gelap yak jadi gak keliatan itunya, hahahahaha.

Usai 30 menit bus berhenti untuk istirahat, bus melanjutkan kembali perjalanan. Kami tiba di Delhi sekitar jam 6 pagi, sebelumnya pak kondektur membangunkan kami kalau sudah mau dekat pemberhentian terakhir, jadi semua penumpang harus bersiap-siap. Kami turun di sebuah Terminal bus yang terintegrasi dengan stasiun MRT. Kondisi saat itu masih gelap. Semua penumpang diturunkan di pintu masuk terminal, gak tahu deh maksudnya apa. Begitu turun bus langsung dong wangi semerbak tercium disepanjang jalan, bau apa lagi kalau bukan bau pesing. 

Kami berjalan menuju ke stasiun MRT mengikuti penumpang lain dengan tujuan sama. Di dalam stasiun, sama seperti MRT di China, semua barang bawaan harus dicek melalui x-ray dan semua penumpang harus melewati mesin pendeteksi logam. Setelah semua selesai diperiksa dan kami membeli tiket terusan MRTyang one day pass, kita langsung cek stasiun terdekat dengan hostel yang sudah kita pesan sebelumnya via online. Oh ia, one day pasnya harganya 500 rupe a.k.a 100 ribuan untuk dipakai seharian. 100 rupenya merupakan deposit dan bisa dikembalikan setelah habis masa berlakunya.

Sunday, February 3, 2019

Eksplore Jaipur Hari Kedua, Masih Bergelut dengan SCAM

Hawa Mahal
Hari ke-2 di Jaipur, hari terakhir sebelum kami bertolak ke Delhi. Pagi hari kami sudah disibukkan dengan mencari tiket menuju ke Delhi. Hostel yang kami tumpangi sungguh tidak bisa memberikan solusi, mungkin karna kami mesannya dadakan kali ya, husnuzdhon ajah. Dipagi hari yang lumayan dingin, kami berangkat ke stasiun kereta api Jaipur. Kami memang sudah berkeinginan untuk setidaknya mencoba kereta api, at least sekali selama di India. Namun benar kata rekan-rekan yang sudah duluan ngelayap ke India, kalau membeli tiket kereta api on the spot itu jarang sekali dapat, minimal kita sudah harus memesannya 3 hari sebelum atau lebih gampang mantaunya kita harus punya aplikasi lokal yang bisa mencek ketersediaan kursi kereta pada tanggal dan hari yang kita inginkan. Cuman mendaftar aplikasi jalan-jalan di India tidak segampang di Indonesia, instalnya sih gampang namun registrasinya cukup ribet karena kita harus log in dengan nomor lokal dan kalau kita ingin mendapat nomor lokal harus registrasi menggunakan tanda pengenal dan dikenakan biaya tambahan.

Setelah tak ada harapan di stasiun kereta api, kami pun bertolak ke Sydicam, kawasan pool bus yang melayani trayek antar kota di Jaipur. Di sini terjadi drama lagi, masih dengan supir Tuktuk. Di awal kita sudah sepakat dengan harga 5 rupe/orang dengan rute stasiun-sydicam. Tidak terjadi tawar menawar yang alot memang pada saat itu. Apa karna dia memang tidak mengerti bahasa Inggris, atau memang pura-pura tidak mengerti. Kami pun pada awalnya sudah curiga karena murah banget dengan jarak yang sama ketika kami dari hostel ke stasiun yang diminta 50 rupe/2 orang. 

Sesampainya di Sydicam, kami turun dan menyerahkan pecahan 10 rupe. Dia langsung marah, yang kami gak tahu maksud dan inti percakapan yang beliau sampaikan. Sontak sekeliling langsung ramai dengan calo-calo bus, dan kami pun langsung dikerubuti. Karena tidak mau masalah makin panjang kami pun membayar ongkos tuktuk 150 rupe untuk 2 orang setelah awalnya dia meminta 100 rupe/orang. Dari insiden tersebut, kami kalau memesan tuktuk selalu sedia pena dan kertas untuk menyepakati ongkos yang dipahami oleh kedua belah pihak.

Kami banyak mendapat info di Sydicam, di lokasi ini juga ternyata ada terminal bus ekonomi, yang busnya semacam metromini (tanpa AC dan duduknya berhimpit-himpitan), ada juga bus dengan AC dan kursi yang empuk. Untuk perjalanan jauh ada bus jenis sleeper dari kelas teri hingga kelas kakap. Tergantung ketersediaan budget kita berapa. Setelah mendapat info kalau bus ke Delhi itu tersedia setiap jamnya. Kami pun dengan tenang melanjutkan explore Jaipur hari ke-2 setelah sebelumnya check out dan meninggalkan tas di Hostel. Tur hari ini kami pergi jalan di sekitaran Pink City, Albert Hall, Hawa Mahal dan paling jauh Galtaji. Pertama, kami order tuktuk ke Hawa mahal karena kami baru lewat saja kemarin belum sempat foto. Tuktuk dari Sydicam ke kawasan ini 100 rupe/2 orang. 


View dari cafe arahan si kawan

Bentuk fasade bangunan Hawa Mahal

Sesampainya di Hawa Mahal, sudah sekitar jam 10 pagi, suasana sudah mulai ramai dan banyak yang berfoto2. Hawa Mahal sendiri dibangun oleh sang raja untuk putri-putrinya menyaksikan kehidupan masyarakat di luar istana. Jadi para putri dan selir-selirnya di sediakan bangunan yang fasade bangunan nya penuh jendela-jelndela kecil untuk "mengintip" ke arah jalan raya. Bangunannya sendiri sangat unik karena bentuknya mirip sarang lebah dan secara keseluruhan berbentuk seperti mahkota yang mengerucut dibagian atasnya. 

Hawa Mahal terletak di pusat keramaian, khususnya wisatawan, di Jaipur. Jadi jangan heran kalau akan banyak warga lokal berpakaian rapi yang akan mendekati kamu ketika asik berfoto-foto di sini. PDKTnya akan mulai dari dia menebak kita berasal darimana, kemudian kalau sesuai dia akan bilang punya kenalan di sana, atau dia akan berencana ke sana, terus setelah perbicangan berjalan lancar baru dia mulai mengajak kamu ke cafe kenalannya, ke toko souvenir kenalannya, ke toko textil kenalannya dan menawarkan paket tur miliknya. Kira-kira seperti itu alurnya, diingat ya.... hahahaha

Dan entah scam atau tidak kami pun mengalami hal serupa. Pertama, seseorang berpakaian rapi berteriak dari kejauhan ketika kami sedang asik mengambil foto. "Indonesia", teriaknya. Karena senang ada yang ngeh kita dari Indonesia, kita langsung kaget (padahal kentara ya mukanya kalau bukan Malaysia ya Indonesia, ia kali Nigeria). 

Dia mulai melancarkan jurusnya, dia bilang punya "pacar" orang Aceh yang baru berkunjung ke Jaipur. Dia menunjukkan visa Malaysia, Singapur, dan Indonesia, menjelaskan dia berencana berlibur kesana selama 2 bulan bersama pacarnya. Dan seketika kami diajak ke cafenya yang belum selesai (dan mau aja), tepat di seberang Hawa Mahal, jadi kami bisa menikmati bangunan dan suasana jalanan yang ramai sambil bersantai. Makan berdua habis 720 rupe dengan menu toast dan 2 gelas jeruk. Sambil makan dia video call dengan "pacar" yang diceritakannya sebelumnya. Ternyata domisilinya di Lokhseumawe, terlalu sempurna buat sebuah scam kan? Tapi kami ikut aja permainannya, hingga bertukar kontak dan janji ketemuan kalau berkesempatan ke Jaipur lagi dan sebagainya dan sebagainya. Bertepatan hari Jum'at dan dia ternyata muslim juga, kami di ajak solat jum'at bareng di mesjid terdekat. Jadi menurut kalian ini masih scam atau gak? hahahaha.....

Usai sholat jum'at kami bergegas ke Albert Hall, sebuah museum di Jaipur yang dulunya dirancang untuk menjadi Town Hall. Bangunan ini berisi artefak-artefak bersejarah termasuk lukisan, karpet, keramik, patung dan berbagai jenis kristal. Bangunan berada di luar benteng Pink City. Berbentuk simetris sehingga memunculkan kesan monumental berpadu denga gaya arsitektur Indo-Saracenic, yakni perpaduan antara gothic (bukan sazkia loh ya), hindu dan mughal. Dihalamannya sendiri sangat banyak merpati, jadi tau lah ya karena kemarin kurang puas berfoto dengan sekawanan merpati di Amber Fort, semuanya kami lampiaskan di sini. Hahahahaha.... Tiket masuk ke Albert Hall adalah 300 rupe/orang dan diskon setengahnya jika bisa menunjukkan student card. Jadilah kami 450 rupe/2 orang karena teman saya punya kartu pelajar.


Bermain bersama merpati di depan Albert Hall

Tempat spot photo menarik di dalam iner court Albert Hall

Suasana dalam museum

View dari lantai 2 museum


Puas berkeliling di dalam museum, kami bergerilya di luar museum mencari tuktuk yang mau membawa kami ke Galtaji. Kami pun medapatkan harga 100 rupe buat berdua, awalnya ragu dengan harga tersebut. Cuma ketika kami konversikan cuma sekitar 20an ribu berarti cuma 10.000/orangnya kami langsung naik saja. Setelah melihat perjalanan yang ditempuh dan kondisi tuktuk yang mati segan hidup tak mampu ketika melalui tanjakan kami jadi kasihan dengan harga 100 rupe tadi. Sesampainya di Galtaji dia menyarankan untuk mennunggu dan bersedia membawa kami pulang, karena situasi di sana memang sangat sepi. Dan kalau dia pulang juga belum tentu dapat penumpang di perjalanan. Setelah sepakat dia  menunggu, kami pun masuk ke kuil.


Pemandangan perbukitan menuju ke Galtaji

Suasana komplek kawasan kuil Galtaji

Danau yang menjadi tempat mandi kera 
Kuil ini dikenal juga dengan nama Hanuman Temple. Jadi dari namanya uda kebayang dong ya kalau di sini bakal banyak mangki. Jaraknya sekitar 10 km dari Jaipur, mendaki gunung lewati lembah (semakin iba dengan supir tuktuk yang cuma dibayar 100 rupe). Kuil berada di hutan konservasi, jadi sepi banget selama perjalanannya. Di sepanjang perjalanan banyak terdapat merak berkeliaran. Tiket masuk kuil GRATIS, tapi kamera dikenakan charge 100 rupe/kamera. 

Terdapat beberapa kuil di dalam komplek Galtaji ini, masing-masing dewa diberi kuil yang berbeda-beda. Di dalamnya terdapat kolam dan air terjun yang digunakan para petapa untuk mandi. Di sini juga kita kena scam lo, hahahahaha. Harusnya untuk semua hal yang berbau agama gak ada paksaan dong ya. Tapi ketika dia meminta sumbangan seiklas hati di dalam kaleng sudah terpampang pecahan rupe terbesar 2000 rupee, sekitar 400 ribuan rupiah. Karna gak mau dipaksa saya juga ngakalin dong. Kebetupan di dompet cuma punya selembar pecahan 100 rupee, dan beberapa uang rupiah. Saya ngeles cuma punya ini, sambil menunjukkan dompet. Kalau mau saya kasih ini, sambil nunjuk pecahan 50.000 rupiah. Setelah berpikir beberapa saat (elahhhh gaya dianya) dia kemudian cuma minta selembar uang 100 saya. Alhamdulillah, untung pecahan rupe gak saya simpen di dompet jadi sukses menghindar. Hahahahaha.... 

Galtaji Temple


Salah satu spot photo menarik di depan lower tank Galtaji
Jadi tips nih ya buat yang mau ke India. Jangan mudah percaya sama orang di sana. Memang sih gak semua warga lokal itu tukang scam, tapi ada baiknya kalau selalu waspada. Baik itu di tempat wisata, terminal, hostel, bahkan kuil, kalau ada orang yang mendekati dan menawarkan sesuatu jangan langsung diterima. Kalau tidak mau berdebat cuekin aja jalan terus. Tapi kalau mau ngeladenin dan punya tenaga berlebih lanjut aja, dan taksir harga yang dia tawaar, masuk akal atau ngak. Kalau gak cocok yah tinggalin ajah. Ujungnya dia pasti mengumpat sih, cuma dalam bahasa India yang kita juga gak paham, balas aja ngumpat dalam bahasa daerah masing-masing. Hahahahahah....