Monday, August 26, 2019

Teknik Coloring Sederhana Menggunakan Lightroom Android Yang Membuat Feed Instagrammu Jadi Ketje

follow IG @hari.srg

Belakangan ini banyak yang mengajukan permintaan terkait bagai mana saya menghasilkan editan foto-foto di akun instagram pribadi saya yang kata mereka "menarik". Nah, untuk memuaskan rasa keingin tahuan kalian berikut teknik editing sederhana yang saya lakukan.
  • Pastikan di smartphone kalian sudah ter Install Adobe LightRoom, untuk yang android silahkan langsung melunjur ke Playstore dan pengguna iOS silahkan meluncur ke AppStore.
  • Buka galeri foto kalian, dan langsung pilih foto yang akan kalian edit warnanya menjadi lebih ketje. Klik share (ikon dengan lambang 3 buah lingkaran terhubung) dan selanjutnya cari dan klik ikon Lightroom nya. Nah secara otomatis foto kalian tersebut akan terintegrasi dan langsung ada di galerinya Lr.

  • Buka aplikasi Lr, langsung klik "All Photos" dan cari foto yang telah kamu share tadi.

  • Nah setelah fotonya terbuka, langsung klik ikon "Auto" yang bergambar pemandangan pada bar di bawah maka secara otomatis gambar kalian akan terkoreksi warna, cahaya dan kontrasnya.

  • Setelahnya klik ikon "color" yang bergambar termometer. Pada setingan ini silahkan ganti Temp, Tint, dan Vibrance nya dengan angka 8, 0, -13. Kemudian setelah angka tersebut kalian input, klik tombol "Mix" dan pilih warna biru tua. Isi Hue, Saturation, dan Luminancenya dengan angka -11, 24,-61. Klik done

  • Untuk brightness dan contrast nya silahkan masuk ke pengaturan Light (ikon bergambar matahari) dan isikan Exposure, Contrast, Highlights, Shadows, Whites, Blacks dengna angka 0.25EV, 19, -11, 24, 12, 2. 

  • Angka-angka tersebut diatas tentunya bisa kalian sesuaikan dengan selera masing-masing. Jika foto yang kalian edit mirip dengan yang saya gunakan pada tutorial ini maka angka-angka tersebut akan bekerja dengan baik persis seperti foto-foto pada feed IG saya. Apabila tidak kalian harus cari angka-angka yang pas, tergantung teknik pengambilan gambar yang kalian lakukan.
  • Setelah selesai kutak-katik warna dan telah menemukan tone yang sesuai. selanjutnya sipan gambar yang kalian edit supaya bisa di upload di Instagram dengan cara klik titik 3 di sudut kanan atas. Pilih "Save to Device" kemudian pilih opsi "Highest Avaliable Quality" dan terakhir klik "OK".

  • Horeeee....gambar kamu akan secara otomatis tersimpan di galery Adobe Lightroom.

Terus gimana kalau mau nyimpan settingan yang udah pas dan cocok di hati? Gampanglah, gak seribet nyimpan sidia yang ternyata berpaling ke lain hati, wkwkwkwkw. Untungnya Lightroom memberi kemudahan buat penggunanya dengan cara menyimpan setingan-setingan tersebut kedalam bentuk "preset". Preset ini nantinya tinggal kamu aplikasikan ke foto-foto yang mau di edit aja tanpa repot mengatur angka-angka di tiap setingannya. Untuk berbagi ke teman-teman kamu juga bisa jadi gampang, tinggal copy paste aja presetnya ke lokasi file yang ditentukan. Berikut cara-caranya:
  • Pada jendela editan photo yang telah selesai utak atik di lightroom klik titik 3 di sudut kanan atas, pilih create "preset"
  • Pada bagian tersebut kamu bisa memberi nama preset yang akan kamu simpan. Terus centang semua opsi setingan yang akan kamu simpat, dalam hal ini saya centang semuanya.

  • Terus klik centang pada sudut kanan atas, maka Owalaaaaaa..... Preset yang kamu buat sudah jadi. Tinggal cek di jendela presetnya apakah sudah tersedia atau belum.

  • Untuk berbagi preset tersebut, kamu perlu membuka (untuk pengguna Android) My File > Internal Stotage > Android > data, terus cari dan klik com.adobe.lrmobile > files > carouselDocuments > 00000000000000000000000000000 > Profiles > Settings > UserStyles





  • Pada jendela UserStyles ini tersimpan semua preset yang telah kalian save di Lightroom. Cuma masalahnya preset-preset tersebut tersimpan dalam format .xmp dan namanya agak sedikit berantakan. Jadi untuk mencari preset yang kamu simpan kamu cuma perlu mengetahui tanggal dan jam preset tersebut dibuat. Biasanya preset dengan urutan terakhir dalam laman ini adalah preset yang paling akhir di save.

  • Setelah menemukan preset yang kamu cari, kamu tinggal copy dan paste preset tersebut ke lokasi yang sama di ponsel android yang berbeda.
  • Kemudian cek list preset pada AdobeLightroomnya apakah sudah tersedia.
Demikian teknik sederhana dalam mengedit foto yang saya lakukan untuk feed instagram saya. Beberapa preset yang saya buat bisa kalian download di sini ya. Maaf sebelumnya karena tutorial ini hanya berlaku di Smartphone android saja, soalnya saya belum punya iPhone. Hahahahahahah.....

Tuesday, May 28, 2019

Finally... Taj Mahal.......

Taj Mahal pagi hari
Agenda utama kami ke Agra adalah mengunjungi the one and only Taj Mahal. Mungkin bukan kita aja, semua orang yang berkunjung ke India belum sah rasanya kalau belum mengunjungi bangunan megah yang menjadi saksi bisu kemegahan cinta Shah Jahan pada sang istri Mumtaz.

Mengunjungi bangunan iconic ini harus dimulai dari pagi hari, subuh sih sebenernya. Kami bangun jam 5 subuh, mandi dan belum sempat sarapan, karena petugas hostel belum bangun. Dari hostel ke tempat penjualan tiket dibutuhkan waktu sekitar 15 menit berjalan kaki. Jangan takut karena walaupun berangkat subuh, suasana jalan menuju Taj Mahal sudah ramai sama pemburu sunrise. Begitu sampai di boot penjualan tiket antrian sudah panjang dong sama wisatawan mancanegara walaupun gerbang masuk baru buka jam 6 pagi. Tiket masuk untuk wisatawan manca negara sekitar 1000 Rupee (per 2018, 2019 naik jadi 1300), sudah termasuk pelapis alas kaki dan satu botol air mineral.

Kami masuk dari East Gate karena hostel yang kami tempati ada di sisi sebelah timur Taj Mahal. Begitu memasuki gerbang kita harus melewati pemeriksaan keamanan, sama halnya ketika masuk ke bandara. Barang yang dibawa ke dalam juga gak boleh macem-macem, yang paling aneh sih gak boleh bawa masuk permen karet, hahahahaha. 

Begitu selesai cek barang-barang bawaan, kami langsung masuk melalui gerbang utama bercat merah. Dari sini sih udah keliatan megahnya, belum lagi Taj Mahalnya ya. Beberapa pengunjung yang sudah selesai diperiksa barang bawaanya bahkan ada yang berlarian. Ya, buat pemburu spot photo ketje, ini lah jam yang pas untuk mengambil photo Taj mahal dengan latar matahari terbit yang tidak di invasi pengunjung dimana-mana, jadi free human being. Waktunya singkat sih cuman sekitar 15 atau 20 menitan sebelum pengunjung tumpah ruah dipelataran Taj Mahal.

Great Gate, Pintu masuk kawasan utama Taj Mahal

Berdiri di depan Gate Utama Berwarna Merah (namanya Great Gate), melihat Taj Mahal terbingkai frame gerbang dari kejauhan itu mata langsung berkaca-kaca. Duh, liat Taj Mahal aja gini, gimana pas liat Ka' Bah entar ya, nagis kayaknya. Dari kejauhan Taj Mahal terlihat gagah, simetris, berwarna putih bersih. Di depannya terdapat kolam panjang dengan air yang tenang merefleksikan bentuk indah Taj Mahal dari kejauhan. Di sini tuh pas depan kolam banyak orang yang foto-foto lo, karena merupakan spot buat fotografer yang ingin nangkap simetrisnya bangunan itu cuma dari sini. Karena ramai jadi harus ngantri ya temen-temen, sesama kang foto gak bole sikut-sikutan. Hahahahaha....

Kami tidak mau berlama-lama di spot ini, karena masih banyak spot lain yang masih sepi dan bagus dijadikan latar untuk berfoto. Dari kolam ini kami bergerak ke sisi barat Taj Mahal, terdapat bangunan mesjid berwarna merah di sana. Dari sini kita bisa foto si Taj dari angle yang berbeda dan tetep dapat frame bagus kalau ngambil dari dalam mesjid. Karena kita datangnya pagi spot ini juga akan segera ramai karena dari spot ini kita bisa rekam si Taj dengan latar matahari terbit dibelakangnya. Puas ambil foto dari sisi sini, kita bergerak masuk ke bangunan utama yang menjadi primadona se India.

Suasana Taj Mahal sekitar jam 7 pagi, masih sedikit berkabut

Hunting foto sunrise dari arah mesjid 

Siap-siap pose buat pemotretan, hahahah
Interior dalam mesjid Taj Mahal
Jalur masuk wisatawan lokal dan wisatawan mancanegara di sini dibedakan teman-teman. Mungkin karna bayarnya beda jadi perlakuan juga beda kali ya. Untuk memasuki bangunan marbel megah berwarna putih ini. Naik beberapa anak tangga ke level yang lebih tinggi, kemudian melintasi teras utama bangunan Taj. Begitu menginjak teras yang terbuat dari marble putih ini rasanya dingin sekali, mungkin karna masih pagi. Banyak yang lesehan di lantai putih tersebut, mungkin kalau tidak ada petugas yang berjaga saya sudah guling-gulingan sangking nyamannya. Dari sini, kita bisa melihat jelas detail bangunan Taj Mahal yang legendaris. Dinding luarnya terbuat dari marmer putih dengan berbagai ukiran dan lukisan indah. Mostly bentuk patternnnya motif bunga dan kaligrafi ayat Al-Qur'an. Konon katanya bentuk dari motif-motif ini juga di kombinasikan dengan batu permata berbagai warna pengganti cat. Wahhhhhhhh.......

Masuk kedalam bangunan makam, terdapat 2 buah replika pusara makam Mumtaz dan Shah Jahan. Kedua makam tersebut tepat berada di bawah kubah Taj Mahal yang paling besar. Makam yang asli terletak di lantai bawah bangunan. Cahaya di dalam bangunan hanya bersumber dari celah-celah pintu dan jendela pada dinding bangunan. Pada dinding bangunan terdapat sebuah jendela yang terbuat dari Marble berbentuk lattice, jadi jendelanya itu ditutupi semacam jeruji bermotif sarang lebah tapi terbuat dari marble putih bukan besi. Konon katanya kalau berfoto dibalik jeruji marbel ini, kita akan kembali ketempat ini lagi di msasa yang akan datang, hahahahaha. Let's see....

Ukiran dan lukisan kaligrafi di dinding Taj Mahal

Foto di sini katanya bakalan balik lagi dan
betul 2019 saya ke sini lagi

Selain bangunan makam, yang merupakan bangunan utama, terdapat beberapa bangunan lain yang ada di kompleks Taj Mahal ini. Seperti yang saya sebut sebelumnya, ada bangunan Mesjid berwarna merah di sisi barat makam, bangunan di sisi lainnya (sebelah timur) berbentuk sama adalah The Jawab yang berfungsi sebagai guest house. Bentuk dasar dari kedua bangunan ini sama seperti Jama Masjid yang ada di Delhi yakni terdiri dari 3 kubah. Semua bangunan ini, termasuk tomb yang menjadi bangunan utama, dikelilingi oleh tembok berwana merah setinggi 6 meter yang berfungsi sebagai pelindung dan juga pembatas kawasan. Di sebelah utara kompleks Taj Mahal berbatasan langsung dengan Yamuna River.

Kami berada di kompleks Taj Mahal hingga siang hari, sekitar jam 1 siang kami keluar untuk makan siang di sekitar hostel dan memutuskan untuk istirahat sebentar mengingat cuaca siang itu sangat panas. Sore harinya kami bergerak ke permukiman di sisi selatan Taj Mahal untuk mengambil beberapa foto Taj dari angle yang berbeda. Dari rooftop restoran yang ada di sini kami mendapat beberapa foto dengan latar yang sangat menarik. Bangunan Taj Mahal yang sangat megah dan bersih sangat kontras dengan kondisi permukiman di sekitarnya.

Sisa hari pertama kami habiskan di tepi Sungai Yamuna, tepat di belakang Taj Mahal. Dari sisi ini kita dapat menyaksikan matahari terbenam dengan siluet bangunan Taj di depannya. Dari sisi sungai ini juga kita dapat menyewa perahu warga setempat untuk mengambil foto Taj Mahal dari sisi sungai, yang pasti viewnya akan sangat indah. Teman saya bergabung dengan wisatawan lain menaiki perahu ini karena saya memang tidak tertarik. Dia mengeluarkan duit sekitar 300 rupe untuk biaya urunan sewa perahu bersama 5 orang wisatawan lainya.

Sudut lain menikmati keindahan Taj Mahal

Sunsetan di Yamuna River dengan siluet Taj Mahal

Kang jaga Vilaa di sekitar Taj, hahahaha

Hari ini masih terasa seperti mimpi rasanya. Bisa menyaksikan saksi bisu kemegahan cinta sang raja terhadap istrinya yang telah tiada. Saya yang terbiasa melihat foto Taj dari buku pelajaran SD hingga google-ing. Menyaksikan langsung kemegahan bangunan yang bahkan saya duduk-duduk dipelataran makamnya. Alhamdulillah.... sesuatuuu....

Sekian cerita Agra hari pertama, nantikan cerita berikutnya ya.
Keep Exploring
Keep jalan-jalan...

Sunday, March 31, 2019

Hari Terakhir di Delhi, Menuju Agra dengan Menggunakan Bus Umum

Sebagian dari reruntuhan di kompleks Qutab Minar
Hari ke-3 di Delhi, setelah sarapan, mandi dan check out. Kami melanjutkan perjalanan di sisa hari sebelum pindah lokasi ke Agra. Sedikit info transportasi, kami sebenernya pengen banget naik itu yang namanaya kereta api di India. Pengen ngerasain gitu, gimana sumpeknya, ramainya, joroknya gerbong kereta api di India itu (kata orang-orang sih). Tapi apa daya, sejak dari Jaipur-Delhi dan Delhi-Agra, kami gak kebagian tiket barang kelas ekonomi satupun gengs. Katanya sih amannya harus pesen 3 hari atau seminggu sebelum berangkat, tapi kan kita punya jadwal fleksibel banget, ngaret malah, jadi takut aja gitu kita ditingal kereta. Jadi sedikit pembelajaran buat kamu yang ingin menggunakan jasa kereta api di India, booking lah jauh-jauh hari. Bisa sih on the spot pada hari yang sama, tapi ya gitu, untung-untungan. Bisa dapat bisa enggak. Hahahahaha

Buat kamu yang mau nyobain naik bus dari Delhi ke Agra, bisa langsung dari Anand Vihar Bus Terminal. Dari sini bus berangkat setiap 2 jam sekali hingga jam 10 malam. Untuk menuju terminal, kamu bisa menggunakan MRT Jalur Biru dan berhenti di Anand Vihar ISBT Station. 

But, kami belum mau berangkat...

Destinasi terakhir yang kami kunjungi sebelum bertolak ke Agra adalah Qutab Minar dan Lotus Temple. Pertama kami mengunjungi Lotus Temple dulu, mengingat hari masih pagi dan belum terlalu panas. Untuk menuju Lotus Temple ini kita dapat menggunakan MRT Jalur Ungu dan berhenti di Stasiun Kalkaji Mandir. Dari stasiun kita masih harus berjalan beberpa meter lagi, hingga akhirnya sampai di gerbang masuk kuil. Tapi sayang sodara-sodara, kuilnya tutup. dan kita hanya bisa menyaksikan kemegahan kuil dari luar pagar saja, SAD. 

Fotonya dari balik kerangkeng gays...
Biar kerangkengnya ilang di zoom dikit. Hahahaha
Yang ini fotonya sambil jinjit dari pagar

Puas foto-foto dari luar kami melanjutkan perjalanan ke Qutb Minar. Dari Lotus Temple kami naik MRT dan bertukar jalur ke yang berwarna oranye hingga akhirnya kami turun di Stasiun Qutab Minar. Dari stasiun kami masih melanjutkan perjalanan dengan menggunakan tutuk, karena jarak yang lumayan jauh kalau harus berjalan kaki, ongkos tuktuk setelah kami tawar 30 rupee untuk berdua. Sesampainya di gerbang pintu masuk, kami membeli tiket untuk wisatawan manca negara seharga 500 rupee.

Satu hal yang menarik di beberapa tempat wisata yang kami kunjungi sejauh ini adalah, antrian untuk warga lokal dan wisatawan manca negara itu selalu dipisahkan. Jadi jangan jiper duluan kalau kalian menemukan antrian meliuk-liuk kayak ular, karna itu biasanya antian buat warga lokal. Untuk wisatawan mancanegara umumnya lebih sepi dan lancar. 

Suasana pintu masuk kompleks Qutab Minar
Semakin ramai ketika masuk kedalam kompleks
Yang menjadi primadona

Begitu memasuki kawasan Komplek Qutab Minar ini, menara  setinggi 73 meter langsung menjadi point of view kawasan. Mulai dibangun pada tahun 1192, desain menara mengadopsi desain Minaret of Jam yang ada di Afghanistan. Selain minaret yang menjadi primadona kawasan, terdapat bangunan-bangunan lain juga di sekitarnya, seperti beberapa bangunan makam dan juga pelataran mesjid yang dulunya difungsikan untuk tempat ibadah. Melihat indahnya ukiran dan relif yang terdapat di setiap dinding bangunan dan menara membuat saya terkagum-kagum sekaligus takjub akan kemampuan seniman-seniman India zaman dulu. Mereka mampu membuat desain sebagus dan serapih ini, bahkan dengan skala yang cukup besar, pada zaman dulu yang bahkan teknologi pun serba terbatas.

Ukiran di dinding menaranya gengs... Rapi dan detail banget kan??

Penampakan bagian bangunan yang masih berdiri utuh

Berfoto bersama sang primadona

Beberapa detai di dinding-dinding bangunan

Beberapa sudut bangunan yang bagus untuk tempat foto

Foto dulu sebelum pulang. Hahahaha

Setelah puas keliling kawasan Qutab Minar dan mengambil beberapa foto, kami memutuskan untuk kembali ke hostel untuk mengambil barang-barang yang dititipkan. Kami berencana berangkat ke Agra tepan jam 2 siang agar tidak kemalaman ketika nanti tiba di Agranya. 

Begitu tiba di terminal bis, kami langsung mencari bus tujuan Agra. Untungnya ada Goverment bus, sebutan mereka untuk bus umum, yang akan berangkat 15 menit lagi sesaat setelah kami sampai di terminal. Tiketnya sebenernya 300 rupe per orang, cuma saya tawar 570 rupe untuk berdua, lumayan kan 30 rupe untuk tambahan ongkos tuktuk ke hostel sesampainya di Agra nanti. Hahahahahaha..

Perjalanan ke Agra di tempuh dalam waktu 4-5 jam, untungnya jalur yang kami lalui kali ini sangat mulus. Berbeda dengan jalur Jaipur-Delhi yang penuh guncangan dan godaan, hahahahaha. Karena merupakan tujuan favorit mungkin pemerintah memperbaiki akses Delhi-Agra agar nyaman dan lebih efisien, karena banyak juga lo touris yang mengambil one day trip dari Delhi dengan tujuan hanya ingin mengunjungi Taj Mahal. Jadi berangkat subuh pulang petang gitu.

Dengan perjalanan mulus tersebut, dan kondisi bus yang lumayan nyaman (gak berdesak-desakan), kami sampai di Agra sekitar pukul 7 malam. Kami memilih hostel yang dekat dengan gerbang masuk Taj Mahal agar bisa ngantri tiket subuh-subuh. Dari terminal bus, kami naik TukTuk dengan harga yang sudah di nego 150 rupe buat berdua. Tuktuk yang pertama kami naiki habis bensin, dan kami diturunkan di tengah jalan. Sebenarnya dia menyuruh kami menunggu sembari dia mengisi dan mencari bensin yang entah dimana. Tapi begitu dia pergi, bagai mangsa empuk kami langsung di sambar oleh supir Tuktuk yang lain. Yah kami ngikut aja, dengan harga yang sama dan kami gak rugi juga, hahahaha. Maaf supir Tuktuk yang ke satu mungkin malam ini anda belum beruntung. Hahahahah

Sekian cerita Delhi di hari terakhir.
Penasaran dengan Agra?? 
Tunggu cerita selanjutnya ya...

Friday, February 22, 2019

New Delhi, Nyobain Es Krim yang Diduga Kadaluarsa

Bangunan utama Humayun Tomb
Hari ke-2 di Delhi, pastinya lebih seger duong. Secara tidurnya berkualitas, hahahah. Hostel yang kami pilih suasananya sangat nyaman, AC nya sangat dingin dan tipikal hostel-hostel backpacker pada umumnya, ramai pelancong-pelancong ber budget tipis dari berbagai negara. Setelah sarapan dan mandi kami bergegas ke destinasi berikutnya. Oh ia, seharusnya hari ini hari terakhir saya dan teman saya di Delhi sebelum bertolak ke Agra. Tapi karena masih banyak destinasi yang belum didatangi dan terlalu cepat untuk berpindah kota, kami memutuskan untuk extend 1 malam lagi.

Destinasi pertama untuk hari ini adalah India Gate. Untuk mencapai lokasi ini sangat banyak stasiun MRT di sekitar lokasi, karena kawasan India Gate ini adalah kawasan perkantoran dan pusat pemerintahan. Tapi kami saat itu turun di Central secretariat station. Kami masih harus menyambung perjalanan dengan menggunakan tuktuk karena walaupun jam 10 pagi, matahari di Delhi udah serasa di padang Mahsyar aja, panasnya sampai ke ubun-ubun (ini lebai sih, hahahah). Setelah tawar-menawar kami deal dengan harga 30 rupee. Karna jalanannya lurus dan lebar, India Gate serasa dekat tapi percayalah butuh waktu 5 menit mencapai lokasi menggunakan Tuktuk. Lain cerita lagi kalau kami berjalan kaki di pagi hari yang berasa siang bolong seperti ini???? Alamat dah udah, hahahha.

Es krim yang expire datenya dihilangkan

India Gate berasa pasar malam minus biang lala dan komedi putar

Canopy dan khalayak di sekitarnya

India Gate dan traveler

Api abadi (Amar Jawan Jyoti) tepat di bawah India Gate 

Di India Gate, sangking panasnya kita coba makan eskrim bungkusan semacam Walls gitu, emang walls sih kayaknya brandnya. Harganya murah banget sekitar 50 rupe, kalau dirupiahkan sekitar 1000an gitu untuk jenis cone yang mirip corneto. Usut punya usut ternyata tanggal kadaluarsanya udah di hapus paksa sodara-sodara, mungkin udah lewat kali ya makanya dijual murah. Dan kita biasa-biasa aja gitu makannya, alhamdulillah sampai sekarang masih sehat. Hahahahaha...

Ini emang orang-orang India hobi jalan-jalan dan piknik kali ya, suasana India Gate saat itu Ruammme banget. Udah kayak pasar malam tapi siang minus biang lala dan komedi putar, hahahah. India Gate ini adalah sebuah monumen, War Memorial Monument, yang dibangun untuk mengenang 70.000 tentara yang gugur selama perang dunia ke-1. Bentuknya mirip  Arc de Triomphe di paris atau buat yang tinggal di Kediri mirip monumen yang di simpang lima itu loh. Dibangun pada tahun 1921, monumen ini tingginya 42 meter dan nama-nama para tentara terukir di semua sisi dinding monumen. Di bawahnya terdapat api abadi, yang kemarin diambil untuk pembukaan acara Asian Games Jakarta Palembang. Jadi api yang dibawa naik pesawat ke Indonesia itu ambilnya dimari gaisss...

Puas berfoto dan keliling di tempat ini kami bertolak ke destinasi berikutnya, Humayun Tomb. Untuk ke sini kami harus menaiki Tuktuk ke stasiun MRT terdekat kemudian turun di Khan Market Station. Dari Stasiun MRT kami masih harus melanjutkan perjalanan menggunakan Tuktuk lagi dengan ongkos 70 rupe buat berdua.Tiket masuk untuk wisatawan manca negara sebesar 500 rupe per orangnya. Kami sampai di Hamayun sekitar jam 2 siang. Menjelang sore mataharinya sudah mulai bisa diajak kompromi, gak sepanas jam 10 pagi tadi lagi.

Masuk dari gerbang depan Humayun Tomb

Penampakan dari sisi lain Humayun Tomb

Masuk dari gerbang utama, kompleks situs ini terdiri dari beberapa bangunan makam di dalamanya. Seperti bangunan mesjid beserta makam Isa Khan, Makam dan Taman Bu Halima (namanya emang bu halimah lohhh yaaa, hahaha), Makam dan Mesjid Afsarwala, beberapa rest house dan beberapa taman-taman kecil. Bangunan utamanya, Hamayun Tomb merupakan bangunan yang di khususkan untuk makam Bega Begum, istri pertama Humayun. Kalau buat orang awam ya, makam-makam di sini bentuknya seperti mesjid. Ukurannya juga buka main besarnya. Di sekiling bangunan makam terbentang taman dengan rumput hijau yang lumayan luas, cukup untuk membuat bangunan makam istri Raja Humayun ini menjadi bangunan yang monumental. Menikmati sore hari di kompleks makam ini sangat menyenangkan. Saya perhatikan semenjak dari Jaipur hingga Delhi, raja selalu membuat makam istri dan keluarganya semegah dan sebagus mungkin. Sehingga biarpun fungsinya sebagai makam, namun jauh dari kesan seram sama sekali.

Langit-langit kubah Humayun Tomb

Makam Humayun tepat dibawah kubah bangunan utama

Bangunan makam di sekitar bangunan utama

Sistem pengairan di dalam kompleks kawasan Humayun Tomb
Bagian interior dalam Humayun Tomb

Waktu menunjukkan jam 4 sore, kami bertolak ke destinasi terakhir hari ini. Letaknya ada di kawasan Chandni Chowk, pasar di kawasan kota lama Delhi. Ada sebuah rooftop yang instagramable banget. Di lihat dari photo-photo yang bertebaran sih bangusnya kesana pas sunset. Tapi melihat waktu yang sudah menunjukkan jam 5 sore kami ragu akan dapat momen yang pas ketika disananya atau malah zonk. Dan ternyata benar, sesampainya di stasiun Chawri Bazar, kami gak tahu ke arah mana harus berjalan. Alhasil hanya memanfaatkan foto di HP dan menanyakan lokasi tersebut ke warga sekitar, hahahahaha, useless banget kayaknya ya. Sejam mondar-mandir di pasar, akhirnya kami menemukan tempat yang dicari. Pintu masuknya berada di gang kecil, gak ada papan penunjuk arah, jadi harus niat memang nanya-nanyanya. Melewati beberapa jalan setapak, akhirnya kami sampai di rooftop lantai 4 permukiman warga. Tapi sayangnya kami tiba mataharinya udah keburu ilang. Dan dari pada nanggung, ya kita foto aja di gelap-gelapan. Hahahahaha....

Mataharinya udah keburu pergi

Hari ke-2 ini kami cuma sanggup datengin 3 destinasi, nyerah sama panasnya India. Satu hal yang seger di hari ke-2 ini adalah nyobain jus nenas porsi besar dengan harga murah di Chandni Chowk. Jusnya gak oplosan loh, ASELI... nenasnya langsung di peresss depan mata masukin ke gelas. Cuman ya gak tau mesin peras sama gelasnya steril apa enggak. Hahahahahah

Sekian hari ke-2
Keep jalan-jalan, keep eksploring....