Wednesday, March 4, 2015

Malaka ohh Malaka....

Malam, 20 Januari 2015

Setelah di Kuala Lumpur masih ada cerita drama selanjutnya. Yap, terjadi di Malaka. Sekitar 2 jam lebih saya diperjalanan menuju ke Malaka, tak terasa sama sekali. Tak ada macet dan jalanan mulus. Saya menaiki bus Transnasional dan kebagian single seat, jadi saya bisa santai dan berlapang-lapang ria.

Tepat pukul 19.20 waktu setempat saya tiba di terminal bus pusat Malaka, Malaka Sentral. Terminal ini buka 24 jam dan tersedia free wifi. Jadi sambil menunggu bisa conect ke internet. Malaka Sentral selain difungsikan sebagai terminal bus terpadu, juga difungsikan sebagai pusat pasar di Malaka. Karena saya tibanya malam hari kondisi terminal sudah agak sepi, hanya tersisa beberapa orang yang sedang menunggu bus.

Setelah turun dari Transnasional, saya pun berjalan mengikuti papan petunjuk arah menuju stasiun bus dalam kota. Sama seperti di Kuala Lumpur di Malaka juga terdapat Bus Umum yang dikelola oleh pemerintah, namanya Panorama. Sistemnya juga sama, naik melalui pintu depan bayar tiket ke supir secara cash (bisa pakai kartu kalau punya). Saya pun duduk menunggu bus yang saya akan naiki, bus no 17 dengan tujuan bangunan merah (Red Building). Sesuai dengan info dari hostel yang saya booking dari Indonesia. Saya bisa menaiki bus ini dengan ongkos 2.5 RM atau dengan menggunakan taksi 20 RM, dan tentunya saya lebih memilih yang paling murah dong kan Backpacker, jadi selalu ingat save your money for the most important things.

Hampir 2 jam menunggu bus no. 17 ini tak kunjung muncul juga, hampir putus asa juga anak mudanya. Apa trayeknya sudah gak ada atau sudah tutup karna kemalaman ya? Untuk memastikan saya bertanya ke petugas yang masih ada di stasiun. Dan untunglah katanya masi ada yang beroperasi, cuman karna sudah malam jumlah bus dikurangi jadi harus bersabar sedikit.

Bus yang di tunggu pun muncul sekitar jam 9 malam. Rupanya bukan saya saja yang menunggu bus ini banyak warga dan umumnya wisatawan yang antri untuk naik. Setelah semua penumpang naik, bus pun berangkat tidak pakai ngetem. Sepanjang jalan banyak bangunan lama di sisi kiri kanan jalan. Dan saya harus memperhatikan si 'bangunan merah' ini, karna di situ saya harus berhenti. Sekitar 20 menit bus melaju, tibalah kami di bangunan merah. Kondisi saat itu sudah sangat sepi karna sudah hampir jam 10 malam. Saya pun buru-buru mengikuti instruksi yang saya capture dari web hostel yang telah saya booking sebelumnya.

Hampir satu jam saya berjalan saya tak menemukan hostel yang saya pesan. Mau bertanya di jalan pun tidak ada yang bisa ditanyai. Inilah sialnya kalau tiba malam hari, kita tidak mempunyai waktu lebih untuk mencari lokasi penginapan yang sudah dipesan jauh-jauh hari. Dan saya tidak memiliki peta pula. Saat itu saya memutuskan untuk mencari penginapan lain yang masi buka. Dan jatuhlah pilihan pada penginapan berbentuk rumah toko dengan lokasi dekat sungai Malaka. Harganya sekitar 40RM per malam untuk kamar jenis dorm tanpa breakfast. Tanpa banyak basa basi saya langsung ambil dan langsung check in. Kondisi kamarnya rapi dan bersih, mungkin karna pada saat itu hanya saya dan bapak-bapak asal taiwan yang ada dalam kamar itu, jadi tidak terlalu sumpek.

Setelah berbincang sebentar dengan bapak-bapak asal taiwan tersebut saya memutuskan untuk stay di malaka 1 malam saja (sesuai rencana awal). Karna kata beliau 1 hari sudah cukup untuk eksplore kota malaka karna objek-objek wisata bisa dilalui dengan berjalan kaki saja.

Karena 1 harian sudah penat dengan drama jalan-jalan tanpa arah kesana kemari, saya berniat untuk mandi agar tidur lebih enak. Ketika sudah siap-siap untuk mandi (dalam keadaan 'polos') ternyata air tidak ada saudara-saudara, dan resepsionis sudah tidur pula. Fiuhhhhhh.... Alhasil saya pun tidur dengan hanya bermodalkan lap-lap cantik dengan tissu basah. XD

No comments:

Post a Comment