Wednesday, March 4, 2015

Malaka One Day Trip

21 Januari 2015

Red Building Area
Hari ini saya berniat untuk exsplore Malaka maksimal sampai jam 3 sore agar saya sampai di Kuala Lumpur tidak terlalu malam. Saya tidak mau drama pencarian hostel disana terjadi lagi seperti di sini. Setelah beres-beres dan mandi (alhamdulillah airnya hidup) saya siap-siap untuk chek out dan menitipkan tas di resepsionis. Malaka merupakan salah satu situs yang dilindungi dan telah diakui oleh UNESCO. Selain alasan tersebut saya berkunjung ke Malaka karena jaraknya dari Kuala Lumpur yang lumayan dekat.


Bangunan di Jonker Street
Cuaca pagi ini sangat cerah, saya mampir di sebuah minimarket untuk membeli sarapan dan beberapa botol air minum untuk di jalan nanti (perlu dicatat kalau kita eksplor suatu daerah dengan berjalan kaki satu harian, kita harus banyak-banyak minum biar tidak dehidrasi, kalau lapar sih bisa ditahan, tapi jangan ditiru heheeheh). Saya memulai exsplore daerah di sekitar hostel dulu. Area Jonker Street, area ini dipenuhi oleh mayoritas bangunan-bangunan lama, jadi arstektur bangunannya masi orisinil bergaya tiongkok dan bergaya kolonial. Walaupun ada beberapa bangunan baru tapi semuanya didesain mengikuti arsitektur setempat jadinya kontekstual. Bangunan-bangunan ini umumnya difungsikan sebagai hunian, bayak juga yang dijadikan hotel ataupun cafe dan restoran. Salah satu yang unik di kawasan Jongker Street ini adalah mereka pada umumnya menjual pernak pernik ataupun artcraft hasil buatan tangan sendiri, sehingga tempat ini lebih cocoknya disebut sebagai area pasar seni. Untuk harganya sendiri jangan ditanya, sesuatu yang dibuat dengan susah payah pastilah harganya ikut menyesuaikan, tapi apalah arti harga demi sebuah koleksi. ;)




Malaka Riverside
Setelah puas explore kawasan Jonker street. Saya melanjutkan berjalan menyusuri jalan kecil disepanjang sungai Malaka. Bangunan-bangunan disini juga masih sama, arsitektur melayu, tiongkok dan eropa. Cuma bedanya bangunan-bangunan ini berpapasan langsung dengan Malaka River jadi suasanaya agak berbeda. Karna masih pagi toko dan restoran di sepanjang sungai ini belum buka dan jalanan masih sepi. Alhasil sayapun selfie mumpung belum ramai orang berlalu lalang. Kalau kita menyusuri sungai ini, selain bangunan ber-arsitektur unik kita juga akan menemukan beberapa bangunan yang menjadi landmark Kota Malaka, seperti Kincir Air dan Museum Bahari (Berbentuk seperti kapal layar). Saya menyempatkan diri untuk memasuki museum ini. Dengan membeli tiket masuk seharga 6 RM saya sudah bisa memasuki Museum Bahari (Berbentuk kapal) dan Museum Maritim. 


Museum Bahari
Pertama yang saya masuki adalah Museum Bahari. berbentuk Kapal Layar dan menjadi salah satu bangunan iconic di pinggir Sungai Malaka. Museum ini terdiri dari 2 lantai dan interiornya sangat unik. Karena bangunan museum ini notabenenya adalah sebuah kapal, jadi interior dalamnya juga mengikuti interior kapal pada umumnya. Pintu masuk dan keluar berada dilantai 2. Kita harus melepas alas kaki ketika memasuki museum ini, karena lantainya terbuat dari kayu asli dan dipelitur dengan halus sekali. Jangan takut kepanasan karena kapal ini dilengkapi dengan sistem pengkondisian udara yang cukup baik. Isi dari museum ini pada umumnnya adalah memaparkan sejarah dunia perkapalan yang terjadi di Selat Malaka, mulai dari tokoh-tokoh yang berperan didalamnya, barang yang diperdagangkan hingga miniatur jenis-jenis kapal tradisional dari bebagai daerah di asia. Terdapat pula diorama-diorama menarik dilengkapi dengan patung-patung para pelaut jaman dulu. Museum kedua yang merupakan terusan tiket dari Museum Bahari yang saya kunjungi adalah Museum Maritim. Terletak di seberang jalan Museum Bahari, museum ini lebih kepada memamerkan sejarah dan teknologi persenjataan tentara laut Malaysia dari jaman dulu hingga sekarang. Selain persenjataan dan kendaraan tempur, museum ini juga memajang foto-foto kapten terdahulu hingga saat ini. Di bagian luar bangunan terdapat senjata-senjata berat seperti Kapal Tempur lengkap dengan persenjataan roketnya. 


Kincir Air di Sungai Malaka
Puas melihat sejarah perkapalan dan kelautan Malaysia, saya beranjak ke Menara Taming Sari. Menara ini dibuka untuk umum pada tahun 2008. Dengan menaiki menara ini kita dapat melihat pemandangan Kota Malaka 360 derajat dari ketinggian 110 meter. Tiket untuk dapat menikmati wahana ini adalah sebesar 20 RM. Menarik sekali, kita hanya perlu duduk dan bangunan ini akan berputar setibanya kita berada di posisi puncak. Setelah diajak berputar-putar diketinggian 110 meter selama kurang lebih 7 menit bangunan yang lebih mirip dengan akuarium in pun turun yang berarti pertunjukan telah selesai. Di bawah menara kita dapat membeli beberapa souvenir atau hanya sekedar melihat-lihat saja.


Menara Taming Sari

View Museum bahari Dari Menara Taming Sari


Porta de Santiago
Bertolak sedikit dari Menara Taming sari terdapat beberapa spot-spot menarik seperti Dataran Pahlawan dan Porta de Santiago, sebuah replika benteng pertahanan portugis. disekitar benteng ini terdapat teater outdoor untuk pertunjukan dan juga replika istana kesultanan malaysia. Naik ke atas bukit terdapat Saint Paul's Church, sebuah gereja yang dibangun oleh Portugis sekitar tahun 1521. Gereja ini juga sempat menjadi benteng pertahanan setelah diambil alih oleh Jerman, gereja ini juga dijadikan sebagai area pemakaman, sampai sekarang kita masih bisa melihat sisa reruntuhan benteng pertahanan dan beberapa makam. Puas berkeliling di atas bukit, saya kemudian turun dan duduk santai di kompleks Bangunan Merah.



Bangunan Merah
Yap, Bangunan Merah ini merupakan salah satu iconic building di Malaka, selain dijadikan meeting point tempat ini juga sangat cocok untuk duduk-duduk sambil bersantai ria. Bangunan merah ini sebenarnya terdiri dari beberapa bangunan/tempat yang dindingnya dicat berwarna merah. Di sekitar area ini terdapat Museum, Christ Church Building, Dutch Square, dan Clock Tower. Tak heran area ini menjadi pusat dari Historic Place nya Malaka. Kita dapat menikmati berbagai minuman segar seperti cendol dan es campur khas malaysia dengan harga 8 RM per porsinya. Selain itu terdapat juga becak dengan desain-desain unik yang bisa di sewa untuk berkeliling Kota Tua Malaka.



Es Campur Malaka
Waktu menunjukkan jam 3 sore saya pun bergegas ke Hostel tempat saya menginap untuk mengambil ransel dan kembali lagi ke Dutch Square untuk naik bus menuju Malaka Sentral. Tiket ke Kuala Lumpur saya dapatkan di Loket Malaka Sentral dengan harga 10 RM. Tersedia banyak bus dengan berbagai pilihan untuk menuju Kuala Lumpur, umumnya mereka berangkat tiap jam, jadi jangan khawatir. Tak lama menunggu bus yang saya tumpangi tiba dan saya tidak lupa membeli beberapa souvenir khas Malaka untuk dijadikan oleh-oleh.


Perjalanan ke Malaka kali ini sangat berkesan, karena ini merupakan pertama kalinya dan saya lakukan sendiri dengan cara Backpacker terlepas dari kejadian dimalam sebelumnya but it still memorable. Jadi tunggu apa lagi, jika kamu berkunjung ke Malaysia tidak ada salahnya memasukkan Malaka ke dalam itenary perjalanan kamu. 

Selamat berlibur, Salam and Keep Prepare for Your Next Adventure ..!!!!!

No comments:

Post a Comment