Saturday, March 14, 2015

Siem Reap Firstimer, Berkunjung Ke Angkor Wat

23 Januari 2015

Pintu Masuk Kuil Angkor Wat
Sekitar jam 7 pagi pesawat Air Asia yang saya tumpangi mendarat di bandara Siem Reap, Kamboja. Inilah pertama kali saya berkunjung ke Kamboja. Bandaranya tergolong bandara kecil, namun merupakan bandara internasional karena destinasi utama Siem Reap ini adalah Angkor Wat, situs candi yang masuk kedalam World Heritage Unesco, tak heran kalau banyak maskapai internasional wara wiri disini. Setelah turun dari pesawat saya langsung antri di konter imigrasi, dan beruntungnya sebagai pemegang pasport Indonesia kita bebas visa untuk memasuki negara-negara ASEAN kecuali Myanmar. Paspor telah di stempel, saya langsung menuju ke pintu keluar untuk mencari tuktuk, tapi sebelumnya saya harus memecah 100 USD ke pecahan lebih kecil. Kita dapat mengunakan USD di Kamboja sebagai alat transaksi, selain mata uang resmi kamboja yakni Riel Kamboja. Begitu keluar dari pintu bandara saya langsung didatangi seorang supir tuktuk, apalagi kalau bukan menawarkan jasa tuktuknya. Setelah tawar menawar harga dengan supir tuktuk kami sepakat diharga 45 USD untuk sewa tuktuknya satu hari sampai jam 6 sore. Sebelumnya saya sudah riset di internet kalau harga tuktuk ke kota itu sekitar 20 USD sekali jalan dan sewa tuktuk one day tour ke angkorwat sekitar 20 sampai 25 USD. Jadi kami sepakat diharga 45 dengan syarat dia mengantar saya terlebih dahulu ke loket pembelian tiket bus ke Phnom Phen untuk nanti malam.


Kompleks Kuil Bayon
Setelah semuanya beres, kami langsung berangkat mencari loket pembelian tiket. Saya sudah mencatat alamatnya sewaktu di Indonesia, dan selanjutnya biar urusan si supir tuktuk ini yang mencari. Saya tergolong gambling dalam hal memilih supir tuktuk ini. Soalnya saya sendiri belum pernah ke Kamboja sebelumnya, ditambah info dari internet yang menyebutkan bahwa terdapat scam dimana-mana, jadi tak ada pilihan lain selain waspada. Dalam tawar menawar harga tuktuk tadi pun sama, saya hanya modal feeling saja yang kemudian sepakat diharga 45. Supir tuktuk yang saya sewa umurnya lebih muda 3 tahun dibawah saya, jadi sangat enak diajak ngobrol apalagi bahasa inggrisnya sama dengan saya yang  'paspasan'. Semua kendaraan di kamboja kemudinya di kiri berbeda dengan di Indonesia, jadi kalau di jalan raya mereka berkendara di sebelah kanan. Ras masyarakat disini juga hampir sama dengan di Indonesia, mulai dari mata, hidung sampai warna kulit. Tak heran kalau saya kerap diajak warga sekitar berdialog dalam bahasa mereka yang logatnya hampir mirip dengan logat tanah kealhiran saya, Batak. :)

Kodisi Jalan Menuju Angkor
Sekitar 45 menit lebih berkendara, kami sampai di pusat kota Siem Reap. Kondisinya hampir sama dengan daerah-daerah di Indonesia. Kiri kanan jalan utama terdapat ruko maupun bangunan komersial yang kebanyakan dijadikan pertokoan maupun penginapan. Selain itu terdapat juga beberapa pasar dadakan dalam perjalanan saya menuju tempat pembelian tiket, jadi tak heran kalau kondisi jalanan saat itu macet. Kurang lebih seperti kondisi pasar kaget di Indonesia pada umumnya. Setelah sampai di pool pembelian tiket bus ke Phnom Penh, saya langsung menanyakan bus Giant Ibis yang banyak direkomendasikan orang di Internet. Tapi sayangnya sudah full book semua. Jadi dia menawarkan bus yang berbeda dengan harga yang lebih mahal sedikit sekitar 12 USD. Karna tidak ada pilihan dan itu satu-satunya bus malam yang tersedia, saya pun langsung membeli tiket tersebut. Tiket sudah ditangan, karna saya tidak menginap di Siem Reap, petugas loket menyarankan saya tiba di tempat ini sebelum jam 10 malam, karena bus akan berangkat pukul 22.30 malam dan saya akan di jemput di tempat saya membeli tiket. Setelah menitip tas di loket saya dan tuktukpun meluncur ke destinasi wisata tersohor di negeri ini, Angkor Wat.

Relief  Wajah di Kuil Bayon
Dalam perjalanan menuju Angkor Wat, saya berdiskusi dengan supir tuktuk mengenai rute terbaik dalam mengunjungi situs candi terbesar di dunia ini. Terdapat 4 situs yang paling populer, yakni Angkor Wat, Bayon, Angkor Thom dan Ta Prohm. Kami akan memulainya dari Bayon, Angkor Thom, Ta Prohm dan yang terakhir Angkor Wat. Kenapa kami mengunjungi Angkor Wat terakhir? Karena saat itu waktu sudah menunjukkan jam 10 pagi dan kondisi Angkor Wat pada jam itu adalah yang paling padat, jadi dia menyarankan Bayon lah yang pertama kali dikunjungi. Setelah tiba di tempat pembelian tiket, dia mengarahkan saya ke peta yang menunjukkan kompleks candi di sekitar Angkor Wat dan rute-rute yang akan kami lalui. Dia menjelaskan secara detail dan tempat-tempat pemberhentian atau meeting point kami nantinya, karena yang akan mengeksplore candi itu nantinya saya sendiri dan dia hanya menunggu di parkiran tuktuk. Saya membeli tiket one day pass dengan harga 20 USD. Supir tuktuk mengingatkan saya agar menjaga tiket tersebut karena sewaktu-waktu akan ada petugas yang memeriksa. Ditiket tersebut terdapat foto kita, jadi kita tidak dapat menggunakan tiket orang lain karna foto tersebut akan dicocokkan dengan wajah pemiliknya.

Bayon, kuil yang kami kunjungi merupakan satus-satunya Kuil Budha yang terdapat di komplek angkor dan didirikan oleh Raja Jayawarma VII. Kuil ini identik dengan stupa atau menara 4 wajahnya. Terdapat lebih dari 200 wajah yang terukir di stupa-stupa ini dan semua wajah-wajah ini umumnya sama. Menurut supir tuktuk yang saya tanyai, wajah-wajah ini melambangkan senyum tulus dari hati atau sifat welas asih bodhisatwa, karena tidak memperlihatkan gigi sama sekali. Kuil ini terletak di tengah komplek kuil Angkor. Di sebelah Bayon, apabila kita berjalan sedikit lebih jauh, terdapat Terrace of Elephants. Bangunan ini merupakan pelataran luas yang diperuntukkan Raja untuk menyambut para tentara-tentaranya. Terrace of Elephants merupakan bagian dari Kompleks Kuil Angkor Thom. Di dalam kompleks ini juga terdapat susunan batu, yang telah direstorasi, membentuk Budha Tidur.

Jembatan  Penghubung Terrace of Elephants dan Angkor Thom


Kompleks Kuil Angkor Thom



Susunan Batu yang Membentuk Relief Budha Tidur 


Pohon yang Tumbuh di Reruntuhan
Ta Prohm
Setelah Puas jalan-jalan mengelilingi Angkor Thom dan Bayon saya ke parkiran mencari supir tutuk untuk melanjutkan perjalanan ke Ta Prohm. Sepanjang perjalanan kiri dan kanan jalan merupakan hutan yang masih sangat asri. Semakin dekat ke Ta Prohm, ukuran pohon semakin besat-besar dan tinggi-tinggi. Apabila sudah pernah menonton film Tomb Raider nya Angelina Jolie, pasti sudah tidak asing lagi dengan kuil ini. Yap, kuil yang dijalari akar-akar pohon raksasa. Karena usia dari pohon-pohon yang terdapat di kuil ini sudah tua dan bahkan sudah mati, untuk menjaga bentuk dan susunan kuil, beberapa pohon disanggah dengan menggunakan besi. Pemerintah Kamboja sangat merawat situs ini, terlihat sangat banyak sekali kegiatan restorasi dimana-mana, karna mungkin pemerintah sadar bahwa situs Angkor ini merupakan sumber pendapatan devisa mereka dari segi pariwisata. Puas mengelilingi Ta Prohm dan mengambil beberapa foto saya pun keluar dari kompleks kuil tersebut. Diluar kompleks sangat banyak pedagang baik itu makanan maupun souvenir, kondisinya hampir sama seperti di Prambanan. Sebelum memulai perjalanan selanjutnya saya terlebih dahulu makan siang merangkap malam, karna susah mendapatkan makanan halal di daerah ini. Saya pun memilih ikan sebagai menu. Ikan tersebut disajikan menggunakan santan dan bumbunya hampir sama seperti masakan Indonesia, mereka menyebutnya Amok Fish. 


Kompleks Kuil Ta Prohm

Akar Pohon yang Merambat di Reruntuhan Ta Prohm

Jalan Menuju Angkor Wat
Kuil berikutnya dan yang terakhir yang saya kunjungi adalah Angkor Wat. Kuil ini merupakan iconnya kompleks candi di Angkor. Di kelilingi oleh sungai, kuil ini merupakan satu-satunya kuil yang menghadap ke arah barat. Karena posisinya, tak heran banyak orang yang rela bangun pagipagi untuk menyaksikan sunrise di tempat ini. Karena merupakan Kuil beraliran hindu pada awalnya, Angkor Awat didedikasikan untuk penyembahan terhadap dewa Wisnu. Kuil ini didirikan pada zaman pemerintahan Raja Suryawarman II, ditemukan dan direstorasi pada tahun 1986 dan 1992, serta ditetapkannya kuil ini sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO menjadikannya sebagai destinasi utama pariwisata yang banyak dikunjungi oleh masyarakat mancanegara. Bentuknya yang unik menjadikannya sebagai simbol negara Kamboja. selain sebagai kuil, Angkor Wat juga berfungsi sebagai galeri, tak heran jika di sepanjang koridor di ke empat sisi bangunannya terdapat relief-relief yang menceritakan kisah Ramayana dan Mahabrata. Saya mengeksplore kuil ini hingga jam 5 sore, kondisi saat itu sangat ramai sekali. Karena saya jajni dengan supir tuktuk untuk kembali ke kota pada jam 5 sore saya pun menyudahi perjalanan saya di Angkor. 

View Angkor Wat dari Danau

Komplek Kuil Angkor Wat



Salah Satu Area Di Angkor Wat
   
Relief di Sepanjang Koridor Angkor Wat

Pub Street
Satu hari merupakan pilihan yang pas untuk mengunjungi Angkor jika anda tidak memiliki waktu yang banyak seperti saya. Selain tiket one day pass, terdapat juga tiket yang berlaku 3 hari dan juga tiket yang berlaku hingga 1 minggu penuh. Selain menggunakan tuktuk, para wisatawan juga dapat menggunakan sepeda untuk mengeksplorasi kompleks kuil ini. Jaraknya dari kota Siem Reap sekitar 50 km dan dibutuhkan waktu sekitar 1 jam lebih apabila dicapai dengan menggunakan sepeda. Setelah di drop oleh si supir tuktuk di loket pembelian tiket bus, waktu saat itu menunjukkan pukul 18.30 waktu setempat, saya pun berkeliling kota Siem Reap. Karena lokasi saya membeli tiket sangat dekat dengan Pub Street, kalu di bali seperti kawasan legian, alhasil saya berkeliling sembari membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang nanti. Tepat jam 22.00 malam saya pun kembali ke loket pembelian tiket dan dijemput tak lama setelahnya. Waktu yang diperlukan untuk sampai ke kota Phom Pehn sekitar 7 sampai 8 jam, dan saya akan tiba disana sekitar jam 6 pagi. Saya memilih bus malam agar bisa sekalian bermalam di dalam bus, oleh karena itu saya memilih jenis sleeper bus yang didalamnya terdapat tempat tidur sebagai ganti kursi yang terdapat pada bus-bus umumnya.



2 comments:

  1. mas,itu dari siem reap ke phnom penh jadinya pake bus apa yah yang malam berangkatnya?

    ReplyDelete
  2. Mahal banget sewa tuk-tuknya. Saya dapet 15 usd sudah free pick up dari terminal dan anter ke bandara plus keliling dari subuh sampai jam 10 malam

    ReplyDelete