Thursday, April 9, 2015

Berkeliling Melihat Bangunan-Bangunan Bersejarah di Ho Chi Minh City

26 Januari 2015

Independence Palace Building

Setelah menikmati Sungai Mekong dihari sebelumnya. Hari ini saya berniat untuk eksplore Ho Chi Minh City seharian sebelum saya berangkat ke Hanoi nanti sore. Saya tidak memerlukan paket tour untuk kegiatan kali ini, karena sesuai dengan arahan agen travel yang saya jumpai ketika membeli tiket pesawat bilang, saya bisa menjelajahi kota ini hanya dengan berjalan kaki saja. Setelah itu saya juga mendapat info dari teman seperjalanan saya sewaktu ke Mekong kemarin bahwa dia juga sudah melakukan eksplore kota Ho Chi Minh sehari sebelumnya, dan dilakukan dengan berjalan kaki. Maka saya optimis hari ini akan berjalan dengan lancar.
Notre Dam Catedral
Pagi itu saya berkemas dan siap-siap untuk ceck out dari hostel. Saya menitipkan ransel di hostel dan memesan taksi ke bandara untuk nanti sore seharga 15 USD. Seperti hari sebelumnya, saya singgah dulu di mini market untuk sarapan dan membeli beberapa botol air mineral untuk bekal di jalan. Sebelum melakukan penjelajahan hari itu saya mendowload peta kota Ho Chi Minh dari internet agar saya tidak tersesat dan berputar-putar di daerah yang sama, walaupun insiden ini kerap terjadi karena bingung masalah orientasi di peta, Tapi jangan khawatir, justru semakin jauh tersesat maka semakin banyak dan beragam yang dapat dilihat asalkan ingat arah jalan untuk kembali ke tempat semula.

Tempat yang saya kunjungi pertama kali adalah Saigon Square, di sini terdapat patung Uncle Ho dan bangunan Balai kota Saigon. Tapi sayangnya bangunan ini sedang direnovasi total, jadi saya tidak bisa melihat dari dekat karna tertutup oleh tenda. Sepuluh menit berjalan ke arah utara saya menemukan Notre Dam Square, bangunan gereja dengan dinding bata ekspose yang di depannya terdapat patung Bunda Maria. Sepelemparan batu dari gereja ini terdapat Saigon Central Post, Kantor POS nya Vietnam. Baik itu eksterior maupun interior dari kedua bangunan ini sangat dipengaruhi oleh kebudayaan eropa. Mengingat saat peperangan dulu Portugis dan Perancis memegang peranan yang sangat penting terhadap kebudayaan di Vietnam. Tak hanya di Ho Chi Minh City, hampir semua bangunan-bangnan bersejarah di negara ini dipengaruhi oleh gaya arsitektur eropa. 


Saigon Central Post Office
Interior Katedral Notredame
Puas menikmati katedral dan kantor pos saya bergerak menuju Reunification Palace atau lebih dikenal Independence Palace. Berbeda dengan bangunan bersejarah lainnya, bangunan ini sudah sangat modern di zamannya. Istana ini didesain oleh arsitek terkenal Vietnam pada jaman peperangan sekitar tahun 1975. Karena dirancang oleh arsitek, tak heran kalau bentuk bangunan mulai dari denah hingga fasad sarat dengan filosofi-filosofi dari daerah timur. Penjelasan mengenai filosofi ini dapat dilihat pada dinding pintu utama gedung. Sebelum jadi museum seperti saat ini, awalnya bangunan ini difungsikan sebagai pusat pemerintahan Vietnam. Didalamnya terdapat ruang-ruang pertemuan sampai bunker penyelamatan kalau-kalau terjadi keadaan darurat. Tiket masuk untuk menikmati museum ini adalah sebesar 30.000 VDN atau sekitar Rp. 15.000an. 

Saya berada dimuseum Independence Pace kurang lebih 1 jam. setelah itu saya keluar dan bersantai sejenak di taman yang terletak tidak jauh dari museum ini. Taman-taman di Ho Chi Minh City sangat bersih dan terawat, jadi tidak heran kalau banyak dimanfaatkan oleh warganya untuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial. Waktu itu terdapat beberapa bazar yang dilakukan oleh masyarakat lokal. Di Pham Ngu Lao dekat tempat saya menginap bahkan ada perlombaan membuat roti. Warga Vietnam memang sudah biasa sarapan dengan menggunakan roti dengan isian daging atau sosis, minimal dengan isian telur dadar atau matasapi. Hal ini merupakan salah satu pengaruh kebudayaan eropa jaman dulu, tak heran setiap pagi banyak pedagang-pedagang roti hilir mudik menjajakan jenis roti ini. ukurannya pun bukan main besarnya, panjangnya kurang lebih 40 cm.

Interior Saigon Post Office
Cukup menikmati suasana taman saya melanjutkan perjalanan mencari Saigon Opera House. cukup lama saya mencari bangunan ini, hingga hampir putus asa. Karena saat itu banyak proyek-proyek konstruksi jalur MRT di jalan-jalan utama, sehingga memaksa saya untuk memutar jalur. Hal ini kerap membuat saya disorientasi posisi. Alhasil saya jadinya jalan-jalan tanpa arah tujuan. Disinilah serunya jalan-jalan tanpa perencanaan terlebih dahulu, kita akan tersesat dan banyak menemukan hal-hal baru yang tidak terduga sebelumnya. Karena waktu menunjukkan jam makan siang, jangan heran kalau berjalan di trotoar jalan di Ho Chi Minh City akan banyak anda temukan para buruh-buruh konstruksi makan beramai-ramai sampai menutup jalur pejalan kaki. Sudah menjadi kebiasaan rupanya bagi para pekerja, bukan hanya buruh saja akan tetapi pegawai-pegawai kantoran juga melakukan hal yang sama, cuma bedanya mereka lebih memilih makan ditempat makan lesehan yang terdapat di depan toko pinggir jalan. Selama hampir 1 jam berjalan akhirnya saya menemukan Saigon Opera House yang ternyata letaknya dekat dengan Balai Kota Saigon, yang saya kunjung pertama kali tadi pagi. Cuma karena tertutup seng, dan jalan yang diblokir memaksa saya memutar lebih jauh lagi. Saya tidak masuk ke gedung karena tiketnya cukup membuat kantong kering. Alhasil saya hanya menikmati keindahan arsitektur bangunan dari luar saja.

Tepat jam 2 siang, saya memutuskan kembali ke hostel untuk bersiap menuju bandara. Di tengah jalan saya berhenti sebentar di Bien Thien Market berbelanja souvenir untuk dijadikan oleh-oleh. Jam 3 tepat taksi yang menjemput saya pun tiba dan saya tiba di bandara kurang lebih 45 menit kemudian. Pesawat yang saya tumpangi take off jam 05.56 waktu setempat, jadi saya masih memiliki waktu untuk makan malam dan istirahat sejenak. Sialnya saya diturunkan supir taksi di International Terminal, jadi saya harus berjalan lagi menenteng tas saya yang besar menuju terminal keberangkatan domestik. Untuk kelas bandara internasional dan merupakan bandara utama di Vietnam, bandara ini cukup besar, tapi masih kalahlah sama Sukarno-Hatta. Saya pun menuju kounter chek in, sebelumnya saya baca di internet bahwa akan sangat banyak ditemui warga-warga lokal yang main selonong di antrian, jadi ketika saya menemukannya di lapangan saya sudah tidak heran lagi. 

Ruang Pidato Presiden
Ruangan Komando Kontrol Pertahanan Negara 


Beberapa Bangunan Di Pusat Kota Bergaya Arsitektur Eropa

Saigon Opera House
 
Suasana Jalan Di Pusat Kota
Saya tiba di Hanoi jam 08.30 malam. Sebenarnya ada beberapa pilihan alternatif menuju ke pusat kota, Old Quarter. Saya memilih taksi karena kondisi saat itu sudah malam, dan butuh waktu yang lama untuk menunggu bus umum datang. Perjalanan menggunakan taksi memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Kondisi kiri kanan jalan sudah sangat legang, toko-toko sudah tutup padahal belum jam 10 malam. Supir taksi dengan teliti mencari alamat tujuan dengan berbekal alamat Hostel yang saya tuliskan sewaktu saya booking di HCMC. Tepat jam 10 malam tibalah kami di Bodega Hotel. Rupanya saya sudah ditunggu oleh petugas hostel yang kemudian membantu membawakan tas saya. Taksi yang saya tumpangi memakai argo dan perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 1,5 jam itu dihargai sebesar 350.000 VDN sekitar Rp. 125.000an (lumayan lah, menguras kantong). Selain saya ada juga satu suami istri dan kedua anaknya yang check in berbarengan dengan saya. Setelah tanya ini itu dengan receptionist hostel saya pun memutuskan untuk membooking paket tur ke Halong bay untuk keesokan harinya selama 2 hari 1 malam dan sekalian memesan tiket kereta api ke Nanning. Total harga yang saya keluarkan saat itu sekitar 161 USD. Setelah saya tawar menawar cukup alot dengan si receptionist saya hanya mendapatkan ekstra free shower dan ojek gratis ke stasiun kereta api. Tak apalah karena semua serba dadakan. Saya sadar harga tersebut bisa jauh lebih murah apabila saya mencarinya secara independen, tapi permasalahannya adalah di waktu. Hostel yang saya book memang tidak cukup bagus fasilitasnya, namun kondisi yang bersih dan pelayanan yang ramah menjadi nilai plus yang dimiliki hostel ini, apalagi dorm yang saya pesan hanya diisi oleh saya seorang. Jadi kalau cuma numpang tidur dengan sarapan gratis, hostel ini bisa jadi salah satu pilihan yang patut untuk dipertimbangkan.



No comments:

Post a Comment