Thursday, April 2, 2015

Berkunjung Melihat Secuil Kehidupan Sungai Mekong

25 Januari 2015

Suasana Pelabuhan Sungai Mekong


Menkong River Side
Setelah memesan paket Full Day Tour Sungai Mekong kemarin, saya diwajibkan bangun pagi-pagi sekali karena akan dijemput jam 7 pagi untuk memulai tour tersebut. Saya membeli paket tur ini sebesar 250.000 VDN dan itu merupakan harga final setelah melakukan tawar menawar yang cukup alot (setelah bertanya kepada teman seperjalanan di bus, mereka rata-rata mendapatkannya di atas 300.000 VDN). Setelah mandi dan beres-beres perlengkapan yang akan dibawa saya singgah ke mini market terdekat untuk membeli persediaan air minum dan sarapan ringan berupa roti. Saya tiba di tempat penjemputan tepat jam 7 dan dijemput oleh bus shuttle 30 menit kemudian, dan selama 30 menit berikutnya kami masih harus menjeput wisatawan-wisatawan lainnya yang hendak pergi mengunjungi Sungai Mekong. Terdapat 2 jenis tur untuk menikmati sungai ini, yakni dengan paket One day Tour dan 2 days 1 night tour. Di dalam tur inilah saya berkesempatan berkenalan dengan turis-turis lainnya, ada dari Inggris, Jepang, Singapura dan pasangan asal Indonesia (sayangnya saya lupa menamakan nama mereka, padahal sepanjang tur kami banyak bercerita berbagai hal). Perjalanan menuju Sungai Mekong ini akan memakan waktu kurang lebih 4 jam, karena kecepatan bus sangat dibatasi, hanya boleh melaju dengan kecepatan 40 km/jam, kalau melebihi akan kena tilang dan mereka sangat taat, karena polisi-polisi lalu lintas di sini tidak berseragam resmi, sehingga sulit mengenali mana polisi mana masyarakat biasa.

Kapal Yang Kami Tumpangi
Sepanjang perjalanan sang Tour Guide menjelaskan beberapa hal, seperti kondisi sosial masyarakat vietnam, bagaimana mereka sulitnya mendapat pekerjaan, mahalnya harga tanah dan properti, sehingga memaksa mereka tinggal di pinggiran dan bekerja di perkotaan. Inilah salah satu alasan mengapa sepeda motor sangat mendominasi di kota-kota besar Vietnam. Selain itu dia juga menjelaskan panjang lebar mengenai kondisi Sungai Mekong. Sungai ini merupakan salah satu dari sungai terbesar di dunia. Aliran sungainya sendiri dimulai dari Tibet, mengalir melintasi China, Myanmar, Laos, Kamboja, Thailand dan berakhir di lautan lepas Vietnam. Tak heran sungai ini memegang peranan penting bagi kehidupan perekonomian di sekitar daerah-daerah yang dilaluinya. Tour guide yang menemani kami bercerita menjelaskan hampir 2 jam hingga akhirnya bus kami berhenti di rest area untuk sekedar membeli minuman dan makanan ringan.

Suasana Dalam Kapal
Bus berhenti sekitar 30 menit, di sinilah saya mulai berkenalan dengan pasangan asal Indonesia. Mereka berasal dari Jakarta dan baru menikah, dan si istri sedang hamil muda. Ketika saya tanyakan apa tidak masalah bepergian jauh dengan kondisi seperti itu, mereka bilang sampai sejauh ini belum terjadi masalah serius dan semua berjalan dengan lancar. Sangat susah memdapatkan cuti yang pas bagi mereka karena satu bekerja di bank dan satunya lagi di perusahaan asuransi. Jadi memang mereka telah mempersiapkan liburan ini dengan serius, bahkan bulan februari mereka berencana untuk liburan ke Jepang menghabiskan sisa cuti tahunan. Tak terasa waktu rehat sudah habis, semua penumpang pun disuruh naik ke bus untuk melanjutkan perjalanan.

Dibutuhkan waktu 1 hingga 2 jam lagi untuk sampai di pelabuhan Sungai Mekong. Dalam sesi kedua perjalan ini saya mendapat teman baru lagi, Mikaela, turis asal Ingris. Sepanjang perjalanan kami berbicara banyak hal, seperti pekerjaan, kehidupan sosial kedua negara (sok serius ya) hingga pengalaman traveling ke berbagai negara. Dia juga solo traveller seperti saya (dia aja cewek berani). Ini merupakan hari kedua dia di HCMC, merencanakan perjalanan selama 2 minggu di Vietnam, dia akan mengunjungi Danang, Hanoi, Na Trang, Mui Ne dengan menaiki open bus tour. Berbeda dengan saya yang hana beberapa hari di Vietnam, kota yang saya kunjungi oun cuma HCMC dan Hanoi. Mungkin saya akan mengunjungi tempat-tempat lainnya di lain kesempatan. Dia juaga kaget ketika saya bilang akan ke Beijing, Shanghai dan Guangzhou. Karna tidak lazim memang disaat musim dingin di belahan bumi bagian utara orang cenderung liburan ke tempat yang lebih hangat. Tapi why not? Ini pengalaman pertama saya dan saya belum pernah melihat salju sama sekali.

Antrian Naik Kapal Kecil
Tepat jam 11 siang kami sampai di pelabuhan Sungai Mekong. Karena pelabuhan ini merupakan pelabuhan wisata, jadi kapal-kapal yang bersandar di sini pun kebanyakan kapal wisata dari segala ukuran. Kami di briefing oleh tour guide mengenai kegiatan yang akan dilakukan hari itu. Kami diberikan kesempatan untuk ke kamar kecil sebelum memulai berlayar dengan kapal 10 menit kemudian. Layaknya tempat kunjungan wisata, ditempat ini sangat banyak toko-toko penjual souvenir. Saya pun menyempatkan melihat-lihat sembari mengambil beberapa foto di pelabuhan ini.

Suasana Menaiki Kapal Kecil
Setelah menunggu beberapa saat, tour guide pun datang dan menyuruh kami bergerak menuju kapal yang akan ditumpangi. Kapal nya berukuran sedang, kira-kira bisa menampung hingga 30an orang. Saya pun langsung menuju posisi duduk yang pas. Pertama-tama kami akan mengitari sungai mekong terlebih dahulu. Tak banyak memang yang bisa dilihat, selain kapal-kapal wisatawan terdapat pula kapal tongkang pengangkut material bangunan serta kapal penumpang yang melalui sungai ini. Dipinggiran sungai banyak terdapat pohon-pohon bakau. Sekitar 45 menit mengitari sungai kami pun berlabuh di salah satu dermaga kapal. Kami diarahkan tur guide ke salah satu peternak lebah di lokasi tersebut. Kami pun mencicipi madu asli yang masih hangat dicampur dengan teh lokal. Madu-madu yang ada disini selain diolah jadi makanan juga di buat untuk kepentingan kosmetik dan obat-obatan. Tujuan selanjutnya adalah menaiki perahu kecil bermuatan 5 orang. Dari dermaga kami berjalan sekitar 10 menit hingga sampai ke sungai kecil tempat berkumpulnya kapal-kapal ini. Di sana ternyata sudah banyak antri wisatawan-wisatawan lain yang berbeda grup dengan kami. Sambil menunggu saya mengambil beberapa foto di tempat ini sambil melihat lingkungan sekitar. Dalam menaiki kapal kecil ini saya diajak berkelompok oleh pasangan asal Indonesia dan mereka mengajak salah seorang turis cewek asal jepang sehingga kami lengkap ber empat.

Proses Pemerasan Santan
Tak berapa lama tibalah giliran kami menaiki kapal. Tur guide menginstruksikan agar kami jangan banyak bergerak ketika di atas kapal, karna ukurannya yang kecil jadi gerakan apapun yang kami buat sangat berpengaruh ke kapal yang kami tumpangi. Setelah semua naik ke kapal kecil tersebut, berangkat lah kami menyusuri sungai kecil berair cokelat ini. Ini merupakan kali kedua saya menaiki kapal kecil. Pertama dulu saya mencobanya di Thailand, di pasar terapung. Tapi bedanya kali ini kapal lebih kecil dan dikayuh secara manual, sangat seru. Kiri kanan sungai ditumbuhi sejenis tanaman berduri seperti pohon salak. Kondisi air sugai saat itu sangat dangkal tapi perahu masih bisa melaju dengan normal. Sekitar 40 menit mengarungi sungai kecil ini kami sampai di sisi aliran sungai mekong yang lebih besar. Di sana kapal semula yang kami tumpangi telah menunggu untuk menjemput kami.


Memasak Adonan
Tujuan berikutnya setelah berperahu ria adalah tempat pembuatan Coconut Candy (di Indonesia kita mengenalnya dengan tingting atau lebih mirip dodol). Untuk mencapai pabrik dodol ini kami harus berjalan membelah hutan (bukan hutan sih, lebih ke perkebunan) selama kurang lebih 15 menit. Di sana kami dijelaskan bagai mana cara membuat coconut candy ini sampai jadi dan bisa dinikmati dalam beberapa pilihan rasa. Cara pembuatanya sendiri hampir mirip dengan cara membuat dodol di kampung halaman saya. Cuma yang unik di sini, adonan yang telah jadi diaduk menggunakan mesin di atas kompor, proses pemerasan kelapa pun dilakukan dengan menggunakan alat agar mempermudah proses produksi dodol ini. Berbeda dengan kampung halaman yang semuanya masih dilakukan dengan cara manual. Terdapat beberapa varian rasa yang bisa dinikmati seperti jahe, pandan, durian, kacang, coklat, nangka dan masih banyak lagi.

Puas berwisata di tempat pembuatan coconut candy kami pun bersiap ke pemberhentian selanjutnya, makan siang, menikmati pertunjukan musik lokal, dan kembali ke HCMC pukul setengah 3 sore. Kami tiba di kota sekitar pukul 6 malam. Dan saya menikmati sisa malam dengan duduk-duduk di taman Pham Ngu Lao dan makan malam di salah satu restoran halal di dekat Bien Than Market.

Local Music Performance

1 comment: