Friday, April 10, 2015

Last Day in Hanoi Hingga Pengalaman Pertama Berkereta Api Lintas Negara

28 Januari 2015

Sunset di Pinggir Danau Hoan Kiem


St. Joseph Cathedral di Hanoi
Hari ini tur kapal di Halong Bay berakhir. Setelah peserta tur lelah berkayak (saya lebih memilih stay di kapal karna cuaca sangat dingin) kami melanjutkan sarapan pukul 8 pagi. Sambil sarapan tur guide memeberikan informasi bahwa grup akan dibagi ke dalam 2 kelompok, kelompok yang akan kembali ke Hanoi dan yang kan melanjutkan perjalanan di Halong Bay 1 malam lagi. Di grup ini hanya saya dan Thomas yang akan kembali ke Hanoi. Kami akan bergabung dengan beberapa turis lain yang berasal dari kapal berebeda yang akan kembali ke Hanoi juga. Kami harus beres-beres dan check out dari kamar kami yang ada di kapal sebelum jam 10 pagi, karena petugas kapal harus membersihkan kamar-kamar tersebut sebelum tiba di pelabuhan untuk dipakai oleh rombongan tur yang telah menunggu di pelabuhan. Tiap hari memang agent travel yang saya sewa memberangkatkan setidaknya 11 kapal perhari untuk tur di Halong Bay ini. Kami pun menunggu di dek ruang makan setelah membereskan barang bawaan masing-masing. Sekitar 30 menit menunggu, kapal lain merapat kearah kami untuk membarter penumpang. Peserta yang akan melanjutkan tur pindah ke kapal tersebut, sedangkan yang akan kembali ke hanoi pindah ke kapal kami. Jadi saya dan Thomas tidak perlu berpindah kapal. Salah satu peserta tur yang pindah ke kapal kami ternyata orang Indonesia. Seorang cewek asal bali, Thomas yang lebih dulu menyapanya saat saya kembali dari toilet. Sambil menunggu jadwal makan siang kami yang terakhir, kami bertiga pun mengobrol banyak hal. Susah memang, saya harus menyesuaikan bahasa antara Indonesia dan Ingris (sebab inggris saya yang pas-pasan).



Suasana Jalanan Daerah Old Quarter
Sore Hari
Kami tiba di pelabuhan jam 12.30 waktu setempat, dan baru berangkat ke Hanoi pukul 1 siang. Bus yang kami tumpangi lebih kecil dari bus sebelumnya, namun masih nyaman. Sama seperti keberangkatan sebelumnya, waktu yang dibutuhkan untuk tiba di Hanoi kurang lebih 4 jam dan sekali berhenti di rest area. Saya lebih memilih tidur sambil mendengarkan musik sampai tiba di Hanoi 4 jam kemudian. Setibanya di Hanoi, kami di drop oleh bus di hotel masing-masing, jadi jangan khawatir tersesat. Suasana sore itu sungguh sangat berbeda ketika saya pertama kali tiba di Hanoi pada malam hari. Sangat ramai dan penuh dengan pertokoan segala jenis barang dan makanan. Oleh sebab itu saya buru-buru kembali ke hostel, karna saya diberi fasilitas shower gratis meskipun saya sudah ceck out di hari saya berangkat ke Halong Bay. Sisa sore itu pun saya manfaatkan untuk eksplore Hanoi sampai malam hari mengingat jadwal kereta saya malam ini adalah jam 10 malam. Sore itu saya jalan-jalan di sekitar Old Quater dan dilanjutkan ke danau, suasananya memang berbeda sekali saat saya berkunjung malam hari. Kondisinya sangat ramai. Terlihat memang danau ini sukses menjadi tempat warga sekitar maupun turis-turis untuk bersosialisasi. Ada yang berolahraga, belajar, jalan-jalan atau hanya sekedar duduk-duduk menikmati pemandangan danau disore hari. Satu hal unik yang saya temui di Vietnam, baik Ho Chi Minh City dan Hanoi, para pelajar yang rata-rata masih remaja langsung belajar bahasa inggris di lapangan. Mereka (rata-rata berkelompok) tak ragu untuk mengajak para turis untuk bercakap-cakap guna mengasah kemampuan bahasa mereka (untung saya berwajah lokal, sempat rambut saya pirang sedikit pasti saya juga bakal diajak oleh anak-anak itu).


Aktifitas Para Ibu di Taman Pinggir Danau Hoan Kiem

Aktifitas Olahraga di Taman Hoen Kiem Lake

Menunggu Sunset Di Temani Bunga-Bunga

Malamnya saya memutuskan makan di restoran cepat saji. Menu yang saya pilih apalagi kalau bukan ikan. Sisa malam itu saya habiskan menelusuri jalan-jalan kecil di Old Quater sambil membeli beberapa souvenir buat oleh-oleh. Saya juga sempat membeli jacket musim dingin dengan brand bagus tapi harga dan kualitas sangat oke (hitung-hitung sebagai alternatif jaket saat saya wisata ke beijing nanti). Saya kembali ke hostel jam 8 malam dan berangkat ke stasiun 1 jam kemudian dengan mengendarai ojek yang telah disediakan pihak hostel yang memang sudah saya urus semuanya ketika saya pertama kali tiba di Hanoi beberapa hari lalu. Jadi saya tinggal duduk manis dan terima beres saja. Memang harga bisa sedikit lebih miring jika saya mengurusnya langsung, namun keterbatasan waktu yang saya miliki mendorong saya melakukan langkah shortcut. Supir ojek yang membawa saya malam ini sudah tua dan tidak bisa berbahasa ingris, jadi saya hanya duduk diam dibelakang pasrah dibawa oleh beliau ngebut di jalanan kota hanoi yang cukup padat.

Petugas Taman Sedang Menanam Bunga

Bunga-Bunga yang Akan Segera Ditanam
Persimpangan Di Old Quarter Hanoi Tepat di Dekat Danau Hoan Kiem

Tepat pukul 10 kurang bebera menit (saya sudah takut terlambat saat itu) saya tiba di stasiun. Karna merupakan pengalaman pertama saya sembarangan saja masuk ke stasiun dan menunjukkan tiket saya ke petugas yang sedang berjaga di sana. Petugas tersebut pun dengan senang hati mengantarkan saya ke bagian keberangkatan international (rupanya saya salah masuk terminal). Dalam tiket yang saya pegang tercantum nomor gerbong dan bed saya di kereta. Saya pun masuk ke gerbong yang tertera, kemudian menyerahkan tiket ke petugas dan dia menggantinya dengan kartu nomor tempat tidur. Tiket nantinya akan dikembalikan saat kereta sudah sampai di tujuan, hal ini bertujuan untuk mencegah penumpang kehilangan tiket. Kondisi gerbongnya sangat bersih dan rapi. Memang saat saya baca di web gerbong yang tersedia untuk turis yang akan bepergian ke Tiongkong cuma soft sleeper dengan harga sekitar 37 USD dengan waktu tempuh sekitar 12 jam perjalanan.

Kompartemen yang saya tempati berisi tiga orang penumpang, saya sendiri dan 2 orang warga Tiongkok (terlihat dari paspor yang mereka bawa). Untunglah salah satunya bisa berbahasa ingris dan masih muda, jadi saya punya teman ngobrol selama perjalanan. Namanya Wen Chen Ye, FYI, rata-rata orang Tiongkok memang memiliki banyak sekali nama untuk hanya 1 orang saja. Di negara mereka sendiri saja mereka memiliki minimal 2 buah nama sesuai dengan bahasa yang ada disana, belum lagi kalau mereka pergi keluar negeri, mereka memiliki nama berbeda lagi. Setelah mengobrol lama dia rupanya sedang mendalami Sastra Arab, karena ayahnya menyuruhnya untuk kuliah dan bekerja di timur tengah. Dia sampai tidak percaya ketika saya bilang saya muslim, dan diapun mulai bertanya mengenai banyak hal. Mulai dari bacaan dan hafalan sholat, membaca Al-Quran, sampai perkara makanan halal dan haram. Saya saja sampai merasa malu karena pelafalan bahasa arabnya sangat fasih. Dia juga membantu saya mencari tiket kereta ke Beijing untuk keesokan harinya, dan kabar buruknya tidak ada tempat duduk yang tersisa. Dia menyarankan saya untuk naik pesawat, akan tetapi harganya juga selangit. Alhasil kami menyerah dan saya memutuskan untuk mencari di stasiun saja besok pagi. Ketika saya menyebutkan akan singgah di Shanghai beberapa hari, dia dengan senang hati menawarkan bantuan bila saya membutuhkan (baik sekali kan? bahkan kami belum terlalu mengenal). Kami mengahiri obrolan malam itu karena waktu sudah menunjukkan jam 11.30 malam, karena tidak enak mengganggu rekan se kompartemen lainnya. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke perbatasan kurang lebih 1 jam lagi, jadi masih bisa dimanfaatkan untuk tidur sejenak.

Sekitar jam 1 malam kami dibangunkan petugas gerbong karena telah sampai di check point Vietnam. Kami disuruh membawa semua barang bawaan turun dari kereta dan berjalan menuju konter imigrasi. Semua paspor dikumpulkan untuk diperiksa dan kami pun menunggu dengan tertib. Sambil menunggu, teman baru saya ini bertanya banyak hal mengenai Indonesia. Dia sengaja mencari petanya di internet sambil bertanya ke saya di bagian mana letak kota saya berada. Saya menjelaskan mengenai tempat-tempat indah di Indonesia dan makanannya juga enak-enak. Tapi dia lebih tertarik ketika saya bilang gadis-gadis di Indonesia banyak macamnya, mulai dari keturunan India, Arab, eropa bahkan mendekati Afro juga ada. Dia terkagum-kagum mendengarnya. Sekitar 30 menit menunggu nama kami dipanggil satu persatu oleh petugas, dan sejauh ini belum ada masalah serius mengenai urusan di imigrasi. Kami pun naik ke kereta untuk menuju ke check point yang ke dua, Tiongkok. Butuh waktu kurang lebih 2 jam untuk sampai ke check point tersebut. Karena sangat ngantuk kami pun melanjutkan tidur kami yang tertunda, walau pun hanya beberapa jam, itu sangat berarti mengingat besok saya belum tau apa yang terjadi selanjutnya. Tepat jam 03.30 malam, kami dibangunkan kembali oleh petugas untuk turun dan membawa semua barang bawaan karena kami telah tiba di check poin Tiongkok. Tempatnya lebih besar dari pada yang di Vietnam, bangunannya juga lebih moderen. Akan tetapi berbeda dengan di check point sebelumnya, pemeriksaan disini cukup ketat. Semua barang bawaan, baik itu koper, ransel bahkan kantongan plastikpun harus dikeluarkan isinya. Para petugas berseragam ini semangat sekali dalam hal bongkar membongkar, tapi ketika memasukkan kembali ke dalam tas hmmmmmm (no offense) mungkin sudah malam dan mereka sangat ngantuk, husnudzon aja deh. Karena tak ada masalah dengan paspor, visa dan barang bawaan, saya melenggang masuk saja sampai tiba dalam kereta kembali. Welcome to China......








No comments:

Post a Comment