Saturday, May 9, 2015

Memasuki Tiongkok Melalui Nanning Dengan Kereta Api

29 Januari 2015

Kira- Kira Bacaannya Stasiun Kereta Api Nanning

Welcome to China..... Pagi ini saya tiba di Tiongkok jam 10 pagi setelah melakukan perjalanan via kereta api melalui Hanoi. Saya memasuki dataran Tiongkok melalui gerbang selatan, Nanning. Setelah menempuh perjalanan selama satu malam, tibalah saya di kota yang terletak di bagian selatan Tiongkok ini. Karena baru pertama menjejak di Tiongkok, hal pertama yang saya rasakan adalah suhu, sangat dingin dibandingkan dengan Hanoi pada malam hari, sekitar 8 derajat celsius. Untuk orang yang tinggal di daerah tropis, suhu tersebut sudah terbilang cukup menantang. Bagaimana tidak, suhu terendah di kota tempat saya tinggal hanya berada di angka 24 derajat, itupun terjadi kalau hujan turun dengan sangat lebat. Kenapa Nanning? Sebenarnya ada dua cara (sesuai riset yang saya lakukan di internet) yang dapat ditempuh bila ingin bepergian ke Tiongkok langsung dari Vietnam melalui jalur darat. Yang pertama via kereta api langsung dari Hanoi ke Nanning dan kedua Via Laocai dengan mengendarai bus langsung ke Tiongkok. Jika punya waktu yang lebih banyak saya pasti akan memilih via Lao Cai, karena bisa sekalian singgah di Sapa. Akan tetapi mengingat waktu yang saya miliki terbatas maka saya memilih yang simpel dan cepat saja, yakni Hanoi-Nanning via kereta api.

Suasana stasiun Nanning saat itu sangat ramai sekali, mengingat Imlek akan berlangsung beberapa hari lagi. Selain itu, kereta api merupakan transportasi favorit masyarakat Tiongkok. Mengapa tidak harganya yang bervariasi serta jaringan rel yang membentang keseluruh penjuru Tiongkok lah yang menjadi daya tarik utama moda transportasi ini. Begitu turun dari kereta, saya hanya mengikuti kemana orang berjalan dan tentunya mengikuti papan penunjuk arah, maklum baru pertama kali jadi masih bingung. Teman baru saya sebelumnya sudah berpindah gerbong saat kami tiba di check point imigrasi Tiongkok, alhasil saya pun bengong-bengong sendiri karena sangat susah mengajak bicara warga setempat karena terkendala bahasa. 

Keramaian di Pintu Masuk Stasiun

Sekitar 10 menit berjalan kaki, saya pun tiba di sisi luar stasiun kereta api. Posisinya tepat berada di pinggir jalan besar, jadi kalau mau melanjutkan perjalanan dengan bus, cukup berjalan ke halte yang tersedia di sisi-sisi jalan tersebut. Hal pertama yang harus saya lakukan adalah memastikan ketersediaan tiket ke Beijing, mengingat rekan saya di kereta semalam sudah mengecek kertersediaan tiket melalui internet dan hasilnya nihil. Hal ini diperparah kondisi stasiun saat itu sangat ramai. Apa salahnya mencoba, karena saya sudah menyiapkan plan B kalau-kalau sudah tidak ada tiket lagi saya akan menginap di Nanning 1 malam dan berangkat ke Beijing keesokan harinya. Kondisi stasiun saat itu sedang dalam tahap renovasi, dan sangat susah bagi saya untuk mengetahui dimana pintu masuk karena semua papan petunjuk ditulis dengan huruf yang tidak bisa saya baca sama sekali. Tapi jangan terlalu cemas, karena disinilah serunya backpacker sendirian. Yang kamu perlukan hanya berjalan meng-eksplore seluruh tempat dan memasang tampang cuek, dan kamu akan menemukan apa yang kamu cari meskipun sedikit lebih lama (namanya juga pertama kali). Hal inilah yang saya lakukan hingga saya menemukan pintu masuk stasiun. Mereka ternyata sangat mementingkan keamanan, oleh karena itu seluruh barang bawaan penumpang harus dicek dengan x-ray mirip seperti yang ada di bandara. 

Suasana Ruang Tunggu Stasiun

Setelah berhasil masuk stasiun, hal selanjutnya adalah mencari tempat penjualan tiket. Sebenarnya tepat di seberang pintu masuk stasiun terdapat mesin penjual tiket otomatis, akan tetapi saya tidak mempunyai kredit card jadi saya harus melakukannya secara manual. Untungnya di dalam stasiun semua signage sudah dilengkapi dengan huruf latin, jadi sangat mudah menemukan konter penjualan tiket di dalam gedung. Mereka memiliki sekitar 20an konterpenjualan tiket, untungnya mereka sangat aware terhadap turis asing, maka disediakanlah 1 buah konter dengan petugas yang bisa berbahasa Inggris. Dan sayapun mengambil antrian di depan konter tersebut. Dasar rejeki anak baik-baik memang tidak pernah lari kemana-mana. Saat itu saya mendapatkan satu tiket yang masih tersisa, ya walaupun itu hard seat, setidaknya saya tidak perlu menginap selama satu malam di Nanning. Sayapun mengambil tiket tersebut dengan harga 268,5 yuan atau sekitar 600ribuan, berangkat pukul 2 siang dengan memakan waktu kurang lebih 24 jam hingga sampai di Beijing. Sebelumnya saya pernah menaiki kereta api kelas ekonomi Jakarta-Surabaya yang jauh lebih lama dari ini, jadi tidak masalah (hitung-hitung pengalaman baru).
Kursi Kurang atau Orangnya Kebanyakan, Jadi Lesehan di Lantai

Sembari menunggu keberangkatan jam 2 siang saya duduk di ruang tunggu keberangkatan. Sistemnya sama seperti mau naik pesawat di bandara. Bedanya disini adalah kita boarding 15 menit sebelum kereta berangkat. Jadi semua penumpang tidak menumpuk di peron seperti halnya stasiun kereta api di Indonesia. Jenis kereta yang berangkat pun bermacam-macam, mulai dari harga ekonomis hingga harga paling pahal menyaingi tiket pesawat udara. Tiongkok sudah memiliki kereta api cepat yang mirip dengan Shinkansen di Jepang, saya urung menaikinya karena tiketnya sangat mahal lebih dari 1000 yuan untuk Nanning-Beijing memakan waktu hampir 12 jam perjalanan. Jenis tempat duduknya juga beragam hard seat (3-2), soft seat (2-2), hard sleeper (6 bed dalam satu kompartemen), soft sleeper (4 bed dalam satu kompartemen) bahakan ada tiket untuk penumpang yang bersedia berdiri ,saya tidak bisa membayangkan kalau membeli tiket ini kita akan berdiri selama 24 jam lebih dalam perjalanan ke Beijing. Saya sempat mencari toilet untuk bersih-bersih karena saya belum mandi, tapi dalam keadaan dingin seperti ini siapa pula yang mau mandi dengan air dingin. Akhirnya saya hanya membersihkan badan dengan menggunakan tissu basah (sangat membantu tissu basah yang saya bawa). Di sini saya menyadari bahwa semua artikel wisata yang ditulis oleh wisatawan mengenai kebersihan di negara Tiongkok benar adanya. Mereka tidak segan-segan meludah di sembarang tempat bahkan di lantai lobbi keberangkatan sekalipun padahal lantainya itu marmer atau keramik. Namun setiap negara pastilah memiliki keunikan atau tabiat warga yang berbeda-beda, jadi saya memakluminya saja sampai sejauh ini. Setelah bersih-bersih saya memakai pakaian hingga 3 lapis untuk persiapan karena saya akan bermalam di kereta malam ini.

Suasana Gerbong Ekonomi (Hard Seat)
15 menit menunggu panggilan lewat speaker terhadap penumpang ke Beijing pun terdengar (saya tidak paham sih karena di sampaikan dalam bahasa mandarin), tapi saya cukup melihat nomor kereta yang tertera dalam tiket dan mencocokkannya dengan signage yang ada di gerbang boarding pass. Bukan main ramainya, semua berdesakdesakan karena ingin buru-buru naik kekereta, saya santai saja sih karena saya punya tiket dan pastilah kebagian tempat duduk. Namun bukan itulah yang menyebabkan para penumpang ini berdesakan, melaikan mereka berebut kabin bagasi yang terdapat dalam gerbong. Karena saya terlalu santai, akhirnya saya tidak kebagian cabin di atas tempat duduk, maka saya terpaksa meletakkan ransel besar saya di bawah kursi dan meranggkul yang satunya lagi. Cukup mudah mencari kursi dalam gerbong kereta, untungnya mereka memakai anggka latin sama seperti di Indonesia, tidak kebayang kalau mereka menulinya dalam aksara mandarin. Awalnya saya kebagian tempat duduk di dekat gang gerbong, namun ibu-ibu didepan saya tidak nyaman duduk didekat jendela, alhasil kamipun bertukar kursi, tentunya dengan menggunakan percakapan bahasa isyarat (disini mereka belum menyadari bahwa saya turis yang sama sekali tidak bisa berbahasa mandarin). Selama perjalanan saya memilih diam dan mengamaiti aktivitas di sekitar saya, ada yang bermain kartu, membaca, makan malam, hingga bergosip pun ada (hanya asumsi karena saya tidak tahu apa yang dibicarakan). Hampir mirip dengan kereta Ekonomi di Indonesia, di Tiongkok juga banyak pedagang yang menjajakan barang dagangannya. Cuman bedanya di sini lebih ter-organisir karena dikelola langsung oleh pihak kereta api, jadi semuanya legal. Mereka bahkan diberi seragam kerja dan kalau saya lihat agak mirip seperti sales kalau di Indonesia.

Saya akan tiba di Beijing besok sekitar jam 10 atau 11. Dan karena terkendala bahasa, saya akan memilih diam, atau mendengarkan musik selama perjalanan. 
See you in Beijing....

6 comments:

  1. Mau tanyak, kembalinya ke indonesia darimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mau tanyak lagi.

      Itu dlm cerita kamu kan dari nanning langsung ke beijing.

      Ada gk kerete yg ke guangzhou dulu? Ongkosnya berapa?
      terus dicerita kamu kan dengan rute beijing - shanghai, shanghai - guangzo.
      ity berapa harga tiketnya ya?

      Delete
    2. bisa saja untuk panduan harga tiket kemarin saya ceknya langsung di google.
      salah satu webnya http://trains.china.org.cn/ silahkan dicek. tapi kalau beli saya langsung on the spot aja.

      Delete
  2. Kak mau naya ngurus visax gmana kalau dr vietnam buat masuk china

    ReplyDelete
  3. Q : how it feels? Diem diem ga ada temen ngobrol di negara antah berantah? Makannya gimanaa??

    ReplyDelete