Saturday, May 9, 2015

This Is Beijing

30 Januari 2015

Rute Beijing Subway

Tepat pukul 11 siang saya samapai di staiun Beijing Xi, Beijing. Begitu turun dari kereta api brrrrrrrr..... Sungguh dingin tak terkira. Minus 4 derajat celsius. Begitu sampai di dalam ruangan stasiun saya langsung mengambil perlengkapan winter dari dalam tas berupa topi kupluk, ear warm dan sarung tangan tentunya. Awalnya karna dari dalam kereta saya lihat matahari bersinar cukup cerah saya tidak memakai perlengkapan tersebut langsung dari kereta. Ternyata saya salah. Hal yang saya lakukan di dalam stasiun setelah memakai Perlengkapan winter adalah mencari stasiun subway. Meskipun letaknya masih di dalam stasiun yang sama, saya tetap membutuhkan waktu untuk menemukannya. Begitu tiba di stasiun subway, suasananya ternyata sangat ramai sekali. Karena jam sudah masuk jadwal makan siang mungkin. Sayapun langsung mempelajari rute subway yang terdapat di dinding stasiun. Saya memang belum membooking hotel sebelumnya karena masih bingung. Tapi saya sudah mencatat alamat masing-masing alamat hostel yang mungkin akan saya coba datangi.

Suasana Peron Stasiun Beijing
Begitu mendapat tempat tujuan pertama, saya langsung antri membeli tiket. Memang sudah terdapat mesin tiket otomatis, namun antriannya sama panjang dengan tiket manual. Karena memang saya tidak ada pecahan duit kecil jadi saya memilih antri di konter pembelian tiket manual. Budaya antri di Tiongkok memang sangat bagus. Meskipun mereka tidak berbaris rapi, tapi sepertinya setiap orang sudah tau posisinya masing-masing. Tujuan saya saat ini adalah daerah Dengshikou. Di peta memang dia terletak di subway ring 1, yakni ring terdekat dengan forbiden city, jadi kita bisa berjalan kaki ke lokasi wisata tersebut kalau mau. Saya memilih daerah tersebut karena ada beberapa hostel yang akan saya coba datangi. Tiba di petugas penjual tiket saya pun menyebut stasiun tujuan saya "Dengshikou" karena pengucapan saya yang aneh (maklum bukan native speaker), petugas kebingungan sehingga saya mengucapnya berkali-kali. Karna dasarnya saya tidak tahu pengucapannya seperti apa saya langsung saja menunjuk stasiun yang ada di peta yang tergantung di kaca konter. Petugas langsung ber oohhhhhh sambil serius menyebutkan 6 yuan, harga tiket subway nya. Tiket sudah ditangan, selanjutnya adalah mencari peron keberangkatan. Terdapat dua jenis jalur subway yakni loop line (melingkar) dan straigt line (searah). Untuk mencapai stasiun yang akan saya tuju, saya harus berganti subway sebayak 1 kali. Jadi harus teliti memang. Untungnya saya sudah pernah naik MRT di Singapura dan sistemnya sama dengan subway di Beijing. Kita cukup memegang peta dan mendengar pengumuman di dalam kereta. Beres....

Saya tiba di stasuin tujuan sekitar jam 1 siang. Saya memang lebih banyak duduk dan mengamati ketika saya tiba di tempat-tempat baru. Jadi memakan waktu yang lama. Saya tidak punya clue mengenai arah tujuan saya ketika saya sudah keluar dari stasiun. Alhasil saya pun akhirnya berputar-putar di daerah Dengshikou dan masuk kebeberapa jalan-jalan kecil. Selama saya berjalan, saya tidak menemukan sayupun tanda-tanda hostel. Semua yang saya jumpai hotel berbintang, minimal bintang 2. Saya urung masuk ke hotel menanyakan rate harga, karena saya sudah yakin pastilah sangat mahal. Sayapun memutuskan tetap mencari penginapan murah disekitaran daerah ini. Walaupun clueless sebenarnya. Satu pelajaran yang saya dapat hari ini adalah siapkan peta yang detail. Karena itu akan sangat membantu jika memang kita tidak memakai map dari smartphone. Tapi percuma memakai smartphone karena disini google di ban alias tidak bisa dibuka. Termasuk facebook, twiter, instagram, dan bahkan youtube. Ini membuktikan bahwa mereka ternyata memang suka produk sendiri. Jadi kalau masyarakat membutuhkan mesin pencari di internet mereka punya baidu. Kalau ingin menonton video di internet mereka punya produk sendiri, bahkan mereka punya bemacam media sosial sendiri.

Suasana Sekitar Hostel Tempat
Saya Menginap
Lelah mencari alamat-alamat yang saya catat di notes membuat saya semakin cemas karena hari semakin malam. Jam 4 saat itu saya bahkan menanyakan alamat yang saya cari ke satpam atau petugas-petugas yang berdiri di depan gedung-gedung besar, mereka bahkan tidak tau. Mungkin karena saya menulisnya dengan aksara latin jadi mereka sedikit tidak paham, apalagi mereka tidak pandai berbahasa ingris sama sekali, makin memperparah kondisi saat itu. Hampir saya menyerah saat itu, memang rejeki anak baik, saya menemukan salah satu nama jalan yang saya tulis di catatan dan dekatnya persis didepan salah satu stasiun subway, bukan stasiun saya turun tadi sebenarnya. Sayapun menelusuri jalan tersebut hingga saya menemukan salah sayu hostel yang saya cari, Saga Youth Hostel. Tanpa banyak babibu saya langsung masuk berharap masih ada dorm yang masih tersisa, dan beruntung, masih ada dorm dengan 4 bed yang tersedia saat itu dengan harga 60yuan. Sayapun langsung membayarnya untuk 2malam kedepan. Didalam hostel kondisi ruangan cukup nyaman dan hangat yang paling penting. Karena mereka memiliki sistem penghangat ruangan. Saya memasuki kamar saya di lantai 4 dan kondisinya sangat rapi, di dalam kamar sudah ada pengguni yang lebih dahulu check in rupanya. Asal Pakistan, yang bersekolah di Tiongkok dan berencana ingin pulang kenegara asalnya untuk berlibur, libur imlek, namanya Zee. Masih muda tapi rambutnya sudah memutih beberapa, mungkin karena terlalu banyak belajar.

Dinding tangga hostel
dilengkapi dengan poster destinasi wisata
lengkap dengan harga tiket dan cara mencapainya
Saya langsung mengeluarkan isi tas saya saat itu. Menyortir pakaian mana yang akan dilaundri dan mana yang masih layak pakai. Setelah selesai saya langsung bersiap untuk mandi karena memang cukup gerah. Meskipun suhu dingin ternyata tetap tidak nyaman apabila belum mandi, mengingat saya terakhir mandi saat berada di hanoi, sekitar 2 hari lalu. Hehehehe. Untunglah hostel ini punya hot shower, jadi saya mandi cukup lama, hitung-hitung menghangatkan diri. Begitu selesai saya langsung bersiap untuk makan malam. Sama dengan ritual mandi, makan besar terakhir saya adalah ketika di hanoi dan itu juga sudah 2hari yang lalu. Saya mengajak zee juga, awalnya cuma basa basi saja. Tapi dia mengiakan dan langsung bersiap. Untungnya dia juga muslim jadi dia merekomendasikan beberapa tempat makan yang halal dan enak. Dia juga menyarankan apabila tidak menemukan restoran halal, cari saja McD dengan menu ikan, pasti dapat karena mereka ada di every corner of the street katanya sambil tertawa. 2 blok dari jalan tempat hostel tempat kami menginap kami menemukan restoran yang pas. Saya langsung memesan menu makanan yang ada nasinya. Karena saya tidak bisa membaca aksara mandarin ini saya hanya menunjukkan gambar yang tertera ke teman baru saya dan dia membantu memesankan. Selebihnya dia yang memilih sendiri sembari bertanya saya suka pedas atau tidak (tentu saja saya suka pedas). Makan malam saat itu pun berlangsung dengan santai, masalah rasa jangan ditanya, tak ada yang lebih enak dibanding masakan Indonesia, hahahaha. Kami pun mengobrol banyak hal malam itu. Mulai dari pendidikannya, pekerjaan yang saya lakukan, hingga budaya kedua negara. Percaya atau tidak meskipun saya dalam kondisi lapar, saya tetap tidak bisa menghabiskan makanan yang saya pesan, mungkin porsinya memang kebanyakan atau ukuran nasi di negara ini memang agak besar-besar. Tiba di urusan bayar membayar, awalnya dia menyarankan untuk patungan alias bagi dua, tapi akhirnya dia membayar seluruh makanan sendiri, saya menyodorkan uang pecahan 50 yuan saat itu tapi dia tetap menolak (aduhhhhh rejeki anak baik memang tak lari kemana). 

Setelah urusan perut selesai kami pun kembali ke hostel, kondisi udara saat itu memang sangat dingin sekali. Mungkin karena tubuh saya belum beradaptasi dengan cuaca di sini. Sayangnya rekan baru saya ini besok sudah harus berangkat ke Qatar untuk menemui saudaranya sebelum pulang ke Pakistan. Karenasudah lelah dan ngantuk saya memutuskan untuk kembali kekamar dan dia masih mau duduk-duduk di Lounge Hostel. Di kamar saya bertemu dengan teman yang baru Check in lagi, namanya Leo, asal Argentina. Niat hati mau istirahat akhirnya tertunda karna kami mengobrol sampai jam 12 malam.

No comments:

Post a Comment