Thursday, June 4, 2015

Beijing Firstimer....

31 Januari 2015

Temple Of  Heaven
Petunjuk di Tangga Hostel
Sepuluh hari lebih saya telah pergi jauh dari Indonesia, tepatnya ini hari ke-12 saya melakukan backpacker, dan tibalah saya di Beijing. Setelah menimbang dan berpikir semalaman, hari ini saya berencana untuk mengunjungi Forbiden City terlebih dahulu. Karena semua instruksi dan cara menuju kesana sudah terpampang di dinding tangga hostel, memudahkan saya untuk pergi sendiri tanpa menggunakan guide. Hal yang saya lakukan pertama adalah sarapan, beruntungnya hostel yang saya tinggali memiliki cafe yang menyediakan sarapan pagi. Sebagai Backpacker paspasan, saya hanya memilih menu dengan harga yang paling murah, berupa toast dengan telur mata sapi seharga 35 yuan (what?????!!!! hampir 70ribu hanya untuk sarapan saja). Karena sudah terlanjur masuk dan melihat-lihat menu, gengsidong kalau tidak jadi pesan. Alhasil sarapan hari pertama saya di Beijing sangat menguras kantong saudara-saudara. Setelah sarapan saya kembali kekamar untuk mengambil tumpukan pakaian yang akan saya laundry, saya sudah mempersiapkannya semalam. Harga laundry di sini sekitar 20 yuan perkilonya, cukup mahal lah di banding Indonesia yang hanya 8000an perkilo. 
Gedung Opera Beijing

Seperti rencana awal, tujuan saya pagi ini adalah Forbiden City, petunjuk yang tertera di dinding tangga hostel sudah cukup lengkap, jadi saya tinggal mengikutinya saja. Karena lokasi hostel dan forbiden city ini masih terletak di ring 1 Beijing Subway jadi saya cukup membayar tiket sebesar 2 yuan saja. Saya berhenti tepat disebelah gedung operanya Beijing, National Centre for The Performing Arts. Bentuk bangunannya sangat unik, menyerupai separuh telur yang dikelilingi oleh danau yang airnya masih membeku. Karena waktu masih menunjukkan jam 9 pagi, saya menyempatkan berjalan-jalan mengitari gedung opera ini. Saya sempat masuk kedalam bangunan untuk menghangatkan diri, biarpun matahari diluar terik tapi suhunya mencapai -8 derajat celsius. Saya melihat harga tiket untuk menyaksikan pertunjukan opera ini. Jangan ditanya harganya berapa, cukup mahal. Selain tiket yang mahal saya memang tidak terlalu minat untuk menonton pertunjukan opera, apalagi dengan bahasa yang tidak saya mengerti, jadi saya memutuskan keluar dan mengambil beberapa foto di luar gedung. 


Setelah puas di gedung opera, saya melanjutkan perjalanan menuju Forbiden City. Bukan main antrian untuk menuju pintu masuk area wisata ini. Kareana hari ini adalah hari sabtu, jadi sangat banyak warga lokal yang datang membawa rombongan keluarganya berjalan-jalan. Tepat di seberang gerbang masuk Forbiden City terdapat Tiananmen Square, sebuah lapangan besar yang berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan event-event besar kenegaraan di Tiongkok. Di ujung lapangan terdapat Tugu, Monument's to The People Heroes dan bangunan Mausileum of Mao Zedong (Tempat peristirahatan terakhirnya Mao Zedong). Karena tidak tertarik dengan Tiananmen Square ini saya memutuskan untuk lanjut memasuki gate utamanya Forbiden City, Gate of Heavenly Peace. Bukan main besarnya gerbang ini, seluruh bangunan identik dengan warna merah dan ornamen-ornamen dengan skala yang sangat besar, sehingga terlihat monumental. Sebelum memasuki area utama, saya terlebih dahulu membeli tiket masuk seharga 40 yuan, kita bisa menyewa guide electronic berupa recorder yang didalamnya berisi full penjelasan mengenai Forbiden city ini, tapi siap-siap di charge dengan biaya yang lebih lagi tentunya.


Forbiden City
Ornamen di Forbiden City

Ada sedikit tips dalam mengunjungi area wisata ini. Apabila kamu tidak memiliki guide, selalu siapkan peta untuk menjadi panduan dalam mengelilingi area wisata yang luasnya hampir 80 ha ini. Pintu masuk dan pintu keluar area wisata ini berbeda, jadi pastikan telah menyiapkan rute yang pas sehingga tidak bolak-balik mengunjungi tempat yang sama. Saya menghabiskan waktu kurang lenih 5 jam untuk mengitari Forbiden City ini, meskipun saya akui saya tidak menyusuri seluruh pelosok yang terapat di area wisata ini.

Didalam area wisata kita dapat mengunjungi beberapa museum, seperti museum lukis, keramik, tembikar, patung dan sebagainya. Beberapa diantaranya memang dapat dinikmati dengan gratis alias free entry, tapi ada juga loh yang harus bayar extra fee buat beli tiket tambahan. Karena lebih banyak yang gratis daripada yang bayar jadi saya sudah cukup puas dengan hanya mengunjungi museum-museum yang tidak berbayar tersebut. Saya mengeksplore Forbiden City ini sampai kira-kira jam 1 siang. Saya Keluar dari gerbang utara kompleks wisata, di sana sudah banyak bis wisata yang menunggu penumpangnya, karena saya solo traveler yang tidak ditunggui oleh satu bis pun, saya melanjutkan berjalan ke arah kanan jalan. Berbekal peta yang saya miliki dan papan petunjuk area wisata yang ada dipinggir jalan, saya memutuskan untuk pergi ke Soho Galaxy. Di peta memang terlihat sangat dekat, cukup berjalan melewati 2 buah persimpangan jalan, kita akan sampai di gedung perbelanjaan dengan gaya arsitektur yang unik tersebut.Ternyata saya salah, saya berjalan hampir 1 jam hingga akhirnya menemukan gedung yang saya cari. Sebenarnya saya bisa mengunakan subway, tetapi saya ingin mencoba berjalan kaki sembari menikmati atmosfer suasana kota di siang hari.


View Forbidden City dari Atas

Sangat mudah untuk mengenali bangunan ini dari persimpangan Chaoyangmen, bentuk bangunannya yang khas dan unik sangat kontras dengan bangunan di sekitarnya. Saya tertarik mengunjungi bangunan ini karena latar pendidikan saya adalah arsitektur, jadi saya merasa sangat wajib untuk mengunjungi bangunan-bangunan yang berarsitektur unik. Bangunan ini dirancang oleh arsitek wanita yang karya-karyanya tidak diragukan lagi, Zaha Hadid. Semua karya-karyanya sangat mudah dikenali, karena bentuknya modern dinamis dan tidak lazim. Bangunan ini difungsikan sebagai mall atau pusat perbelanjaan yang terdiri dari 4 buah bangunan bulat berbentuk seperti telur. Saya menyempatkan mengambil beberapa foto sebelum saya bergegas ke tempat wisata selanjutnya. Sangat banyak spot menarik untuk dijadikan latar untuk berfoto di area bangunan ini.



Soho Galaxy Beijing

Pelataran Soho Galaxy


Museum Kereta Api
Tujuan Saya berikutnya adalah Temple of Heaven. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 2.30 sore saya harus bergegas karena loket penjualan tiket tutup jam 4 sore. Saya bergegas ke stasiun subway dan melihat pemberhentian terdekat ke area wisata tersebut. Tiantandongmen, pintu masuk kuil sebelah timur, setelah mendapat tiket subway saya pun menuju ke Temple of Heaven. Karena tidak memperhatikan dengan tepat, saya turun di terminal yang salah, saya turun di terminal chongwenmen. Saya menyadarinya setelah keluar dari stasiun dan tidak melihat adanya tanda-tanda kuil samasekali. Yang ada adalah bangunan museum kereta api dan keramaian jalan besar yang biasa di temui di Beijing. Sayapun terpaksa membeli tiket lagi dan tiba di Temple of Heaven pukul 3 sore. Tiket masuk untuk menikmati kuil ini sebesar 30 yuan, itu sudah termasuk memasuki seluruh kuil yang terdapat dalam komplek Temple of Heaven.

Pelataran Temple of  Heaven
Circular Mound Altar

Hall of Prayer Building
Lebih besar dari Forbiden city, luas area kuil ini mencapai lebih dari 200 ha. Bedanya adalah Kuil ini lebih didominasi oleh taman dan area hijau lainnya. Bangunan yang terdapat di kompleks ini berupa the Hall of Prayer for Good Harvest (Qiniandian), merupakan bangunan yang menjadi ikon tempat wisata ini; The Imperial Vault of Heaven, di sini terdapat dinding yang dapat memantulkan suara atau gema; dan yang terakhir adalah The Circular Mound Altar, berupa panggung bulat yang cukup luas. Selain bangunan-bangunan tersebut terdapat juga taman bunga serta atraksi-atraksi lainnya. Menurut keterangan yang saya baca di papan-papan informasi, bangunan-bangunan di kompleks ini melambangkan hubungan antara bumi dan surga. Square atau persegi melambangkan bumi sendangkan circular atau lingkaran melambangkan surga. Karena waktu sudah sore tepat jam 5, menandakan kuil ini akan tutup saya pun bergegas keluar karena hari semakin gelap dan dingin. Saya tidak sempat mengunjungi rose garden, tapi saya sudah cukup puas karena saya sudah mengambil beberapa foto menarik di kuil ini.

Sebelum kembali ke hostel saya pergi ke stasiun kereta api, Beijing West, untuk membeli tiket ke Shanghai besok lusa. Karena musim liburan menjelang imlek saya takut tidak kebagian tiket, jadi untuk berjaga-jaga saya membelinya 2 hari sebelumnya dan saya mendapatkan tiket hard seat seharga 156 yuan. Setelah urusan tiket selesai saya menyempatkan untuk berjalan-jalan di sekitar wangfujing street dan makan malam di restoran dekat hostel. Saya tidak mau lagi memesan menu nasi, karena takut tidak habis. Sebagai gantinya saya memesan Mi kecap yang rasanya cukup enak dan mengenyangkan.

No comments:

Post a Comment