Monday, October 12, 2015

Hari Terakhir di Guangzhou hingga Menaiki Kereta Api Menuju Hongkong

9 Februari 2015
Gedung Pencakar di  

Hari terakhir di Guangzhou, awalnya saya di sini rencananya cuman 2 hari saja. Cuman setelah dipikir dan mendengarkan tentang cerita sema backpacker di hostel bahwa cost di Hongkong sangat mahal, saya menambah reservasi hostel saya 1 malam lagi. Saya berpikir lebih baik menghabiskan waktu di Guangzhou daripada di Hongkong. Setelah beres-beres barang bawaan, saya pun check out hostel dan menitipkan tas saya di hostel karena kereta saya ke Hongkong berangkat jam 3 sore hari. Saya sudah membeli tiket kereta pada hari sebelumnya seharga 150 Yuan (sekitar 300 ribuan) dengan waktu tempuh kurang lebih 3 jam, seperti Jakarta-Bandung lah. 

Under Ground Khusus Pejalan Kaki di Persimpangan Jalan


Kondisi Jalanan Kota Guangzhou

Danau Buatan di Tengah Taman Kota New Town
Pagoda di Dekat Canton Tower
Pagi ini saya ingin mengunjungi pusat bisnisnya kota Guangzhou, dimana terletak banyak bangunan pencakar langitnya. Sebenarnya sudah saya kunjungi beberapa dihari pertama saya tiba di Guangzhou, tetapi cuaca saat itu kurang bagus karena berkabut. Saya turun di stasiun subway Zhujiang New Town. Yappp New Town, kompleks gedung pencakar langit di tempat ini sebenarnya sudah dikonsep dan memiliki masterplan yang telah direncanakan dengan matang, dan saat ini masih terus dikembangkan. Beberapa bangunan yang terdapat di kompleks ini sudah saya jelaskan sebelumnya, seperti opera house, perpustakaan dan museum. Akan tetapi masih banyak bangunan-bangunan tinggi dengan bentuk yang menarik. Di tengah komplek blok-blok gedung yang super tinggi ini terdapat taman kota yang cukup luas. Taman ini memanjang dari sisi barat ke timur sampai dengan sungai Guangzhou, dengan menara Canton di ujung nya. Jadi secara tidak langsung gedung-gedung tinggi di kompleks New Town ini memberikan vista ke ara menara Canton di seberang sungai. Di bawah taman yang luas ini terdapat mall dan parkir yang menjadi penghubung atar gedung, canggih bukan....

Suasana Ruang Tunggu Sebelum Stasiun Kereta Api Guangzhou


Suasana di Dalam Kereta Api Menuju
Hongkong
Setelah puas berkeliling New Town saya pergi ke destinasi terakhir yakni sebuah pagoda yang letaknya dekat dengan menara Canton. Karena tidak banyak yang bisa dinikmati di pagoda ini saya memutuskan kembali ke hostel untuk mengambil ransel dan singgah sebentar di restoran untuk makan, waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang.

Saya tiba di stasiun kereta api Guangzhou sekitar pukul 2 siang. Ini lah enaknya kalau moda transportasi publiknya sudah terintegrasi, jadi kita dapat menentukan berapa lama kita akan sampai di tempat tujuan, sehingga tidak tergesa-gesa di jalan. Karena merupakan perjalanan lintas negara maka harus masuk pengecekan imigrasi dahulu sebelum masuk ruang boarding kereta api. Sistemnya sama seperti di bandara. Kereta yang saya tumpangi saat itu berangkat tepat pukul 3 sore. Kondisi keretanya sendiri cukup bagus dan nyaman. Karena penumpangnya tidak banyak, saya duduk sendiri sehingga lebih santai dan lapang. Pemandangan sepanjang perjalanan kurang begitu menarik jadi saya lebih memilih untuk tidur di kereta,

Kereta tiba di Hongkong sekitar jam 7 kurang 15 menit. Tantangan saya berikutnya adalah menukarkan sisa duit saya dari yen ke mata uang Hongkong. Bagaimana mau naik Subway kalau tidak ada uang, saya cari-cari mesin atm juga tidak ada. Alhasil saya pun memutuskan berjalan kaki, karena menurut papan petunjuk yang ada di sana butuh waktu 15 menit menuju Stasiun Sham Sui East dengan berjalan kaki. Hostel yang saya book di internet memang ada di sekitar stasiun tersebut, jadi saya berjalan dan membaur dengan warga lokal saja, hitung-hitung olah raga. Kondisi saat itu sangat ramai karena mungkin lagi rush hour nya warga Hongkong, sekitar jam 7 malam. Karena saya tidak memiliki peta, jadi saya hanya memanfaatkan felling saja, jadi jangan DICONTOH. Kebodohan ini membawa saya berputar-putar selama hampir 2 jam dalam menemukan hostel yang sudah saya booking, karena saya hanya memanfaatkan petunjuk yang disediakan di halaman web hostel dan mencatatnya di kertas. Sekali lagi JANGAN DITIRU.....!!!

Kondisi Sungai di Guangzhou
Makan Mie Terakhir Sebelum Menuju Hongkong
Drama pencarian hostel-pun berakhir ketika saya keluar dari pintu keluar yang dituliskan di web dan posisi hostel-nya itu tepat berada di sebelah kirinya, cuman beberapa meter menyebrangi jalan. Di pintu masuk lantai dasar sudah sangat banyak calo yang menawarkan berbagai macam penginapan dengan harga bervariasi, bahkan beberapa ada yang sampai ngotot mengikuti. Tapi saya menjelaskan bahwa saya sudah book sebelumnya dengan harga yang jauh lebih murah dari yang mereka tawarkan. Rupanya dalam satu gedung yang saya datangi terdapat puluhan hostel dengan pengelola dan manajemen yang berbeda, wajar saja calonya jadi bejibun. Sayapun menaiki lift menuju lantai yang telah ditulis di web. Saya book untuk satu malam di internet dan extent 1 malam lagi. Harga untuk dua malamnya itu sendiri 250 HKD (sekitar 480ribuan) dengan ukuran kamar 3 kali 3 diisi oleh 4 orang plus kamar mandi di dalam (bisa dibayangkan sendiri). Itu sudah harga kamar paling murah yang saya temukan di web. Hongkong memang benar-benar mahal pemirsah....Belum lagi karena perut sudah lapar saya main masuk restoran saja malam itu, dan ketika saya minta bill nya saya terkuras lagi 20 HKD (kalikan deh tuh) saya benar-benar terjebak, dalam hati besok harus lebih hati-hati lagi. 

Karena sudah lelah saya pun kembali ke hostel karena jam saat itu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Penghuni kamar saat itu selain saya ada dua orang lagi, yang laki-laki dari Rusia dan yang perempuan asal Swedia. Mereka juga mengeluhkan ukuran kamar yang kecil, tapi mau gimana lagi itu sudah harga yang pantas saat itu. Apalagi mereka berdua cuman numpang tidur doang besoknya sudah check out dengan tujuan masing-masing. 

Cukup untuk hari ini, saya sudah lelah. Selamat malam Hongkong. Semoga mimpi indah, untung mimpi gak dikenakan tarif. Hoammmmm.... 


No comments:

Post a Comment