Friday, November 16, 2018

Last Day.... Wisata Arsitektur di Tokyo (Explore Tokyo Part. 2)

Jalanan Ginza saat Car Free Day

25 September 2016, setelah 8 hari di Jepang akhirnya kami harus pulang. But, masih ada 12 jam sepersekian menit dan sepersekian detik yang bisa dimanfaatkan untuk eksplor Tokyo sebelum akhirnya kami boarding jam 9 malam. Pagi itu kami bersiap-siap berangkat, karena bertepatan dengan hari minggu, saya dan 3 teman lainnya berangkat terpisah dengan Stefani yang saat itu diajak oleh Mbak Ayu dan suaminya ke Yokohama sembari sebelumnya menghadiri kebaktian rutin. Sementara saya dan beberapa teman lainya sudah membuat list semalaman terkait destinasi hari ini. Kami memutuskan utuk berwisata arsitektur di Tokyo. Ada beberapa bangunan-bangunan unik yang bisa dikunjungi dan akan sangat bagus jika dijadikan objek foto.

Ekterior Sunweel Muse yang masive

Bagian tengah bangunan yang berfungsi sebagai pintu masuk dan sirkulasi

Destinasi pertama yang kami kunjungi adalah Sunwell Muse, sebuah galery yang terletak di sekitaran Shibuya dan merupakan karya dari arsitek Takato Tamagami dan Tsutomu Hasegawa. Difungsikan sebagai gallery fashion dan juga workspace bagi perusahaan tekstil Sunwell. Bentuk bangunannya sangat simpel dan moderen, memiliki bentuk utama berupa kubus dimana terdapat cutting lengkungan di tengahnya sebagai representasi dari bentuk lekuk tubuh wanita. Karena hari minggu, gallery tutup sehingga kami tidak dapat masuk kedalam untuk melihat-lihat interiornya. Untuk kesini kalian bisa menggunakan subway dan turun di Stasiun Harajuku atau stasiun Kita Sando dan berjalan sekitar 300an meter lagi untuk mencapai bangunan unik ini. 

Bangunan beda arsitek tapi teksturnya sama

Ometosando karya Toyo Ito

Keyaki Building karya Noriko Dan

Yang ini??? jangan ditanya. Hahahhahaha

Selanjutnya kami mengunjungi Omotesando Building yang masih terletak di Shibuya. Terdapat dua buah bangunan dengan arsitek yang berbeda. Bangunan pertama adalah Tod’s L-shaped Omotesando Building yang dirancang oleh Toyo Ito dan bangunan baru yang tepat berada di sudut bangunan ini, Omotesando Keyaki Building, yang merupakan karya dari arsitek Norihiko Dan. Baik Toyo Ito maupun Norihiko, keduanya memanfaatkan struktur beton expose sebagai pembentuk wajah bangunan sehingga keduanya terlihat kontras dan berdiri gagah di tengah bangunan-bangunan di sekitarnya. Kamu dapat turun di stasiun Omote-Sando jika ingin berkunjung ke bangunan ini.

Butik Prada karya Herzog de Mouron

Wajah bangunan yang bermaterial kaca dengan permukaan cembung dan cekung

Bangunan berikut yang kami kunjungi adalah Prada Store karya Herzog & de Meuron. Terletak sekitar 400an meter dari bangunan sebelumnya, turun di stasiun yang sama yakni Omote-Sando, kamu hanya perlu menemukan arah pintu keluar yang mengarah ke jalan Minami-Aoyama. Bangunan karya arsitek asal Swiss ini memanfaatkan gubahan kaca sebagai material utama pembentuk wajah bangunan. Berfungsi sebagai fashion store yang dimiliki oleh Prada, bangunan ini memanfaatkan ilusi optik yang diakibatkan oleh fasade kaca yang sebagian memiliki permukaan yang cekung dan cembung sehingga objek di dalam bangunan terkesan bergerak saat kita berjalan melintasinya. Tidak jauh dari Prada Store, jika berjalan melewati persimpangan sebelah kiri jalan kita akan menemukan Sunny Hills building, bangunan karya Kengo Kuma. Kalian akan langsung mengenali bangunan ini karena bentuk fasadenya yang unik dan sangat kontras dibanding bangunan-bangunan di sekitarnya. Arsiteknya berpendapat bahwa dengan memanfaatkan material kayu sebagai kmponen utama wajah bangunan akan memberi kesan lembut bagi kawasan sekitarnya yang merupakan bangunan bermaterial beton. Berfungsi sebagai cake shop, bentuk bangunan ini terinspirasi dari keranjang bambu. 

Sunny Hills karya Kengo Kuma

Detail Fasade bangunan

Detail fasade bangunan

Detail fasade bangunan


Belum berhenti sampai disitu, Tokyo masih punya bangunan hasil karya arsitek ternama lainnya. The National Art Center adalah destinasi berikutnya. Bangunan ini terletak berdekatan dengan Roppongi West Park. Kalian bisa menggunakan subway dan berhenti di stasiun Roppongi atau yang lebih dekat adalah stasiun Nogizaka. Dirancang oleh arsitek kondang Kisho Kurokawa, bangunan ini difungsikan sebagai museum dan galeri seni. Yang unik dari bangunan ini adalah fasade bangunannya yang merupakan gubahan kaca yang dibentuk menyerupai gelombang. Tidak hanya memperindah bentuk visual bangunan, fasade kaca ini juga berfungsi mengurangi radiasi dan paparan sinar UV sehingga udara di dalam bangunan menjadi lebih dingin dan sejuk. 

National Art Center karya Kisho Kurokawa

Interior dalam bangunan

Fasade kaca yang dapat mengurangi paparan radiasi sinar UV

Bentuk gelombang pada fasade bangunan

Bertolak dari kawasan Roppongi, kami bergerak ke destinasi berikutnya di kawasan Ginza. Kawasan ini merupakan pusat dari berbagai brand fashion terkenal dunia di Tokyo, mulai dari department stores, butik, restoran dan coffeehouse terkenal dunia berada di kawasan ini. Beruntung karena hari minggu, sama seperti beberapa kota di Indonesia, kawasan ini juga menerapkan sistim car free day. Jadilah jalan yang lebarnya mencapai 20 meter dijadikan jalur pejalan kaki yang bebas dilalui tanpa takut bersinggungan dengan kendaraan bermotor. Di kawasan ini terdapat beberapa bangunan berarsitektur unik lainnya seperti Mikimoto Ginza dan juga Nagakin Capsule Tower. Mikimoto Ginza dirancang oleh Toyo Ito, dengan konsep desain fasade yang menyerupai Keju Swiss. Jadi kamu pasti langsung mengenalinya apabila bertandang ke Ginza karena bentuk jendelanya yang tidak beraturan. Berikutnya adalah Nagakin Capsule Tower yang merupakan karya dari Kisho Kurokawa. Jika kamu pernah menonton X-Men: Wolferine yang kedua, pasti kamu langsung mengenali bangunan ini. Karena bangunan ini dipakai sebagai salah satu set di dalam filmnya.

Koridor pertokoan Ginza

Capsule Tower

Menara Capsule Tower

Detail fasade Capsule Tower

Mikimoto Ginza karya Toyo Ito

 Waktu menunjukkan pukul 4 sore, kami menyudahi wisata arsitektur pada hari itu. Sebelum pulang ke rumah Mbak Ayu dan bersiap-siap ke bandara, masih ada satu tempat lagi yang ingin kami kunjungi. Yup, Akihabara. Kawasan ini sangat terkenal bagi otaku, sebutan bagi penggemar yang memiliki ketertarikan lebih terhadap manga atau pun anime di Jepang. Jika kamu penggemar anime-anime Jepang, Akihabara adalah surga dunia yang pas bagi otaku-otaku seperti anda. Karena sudah mulai gelap, maka lampu-lampu neon yang menjadi penanda toko-toko di sini akan mulai dihidupkan. Lampu-lampu ini menambah keriuhan dan semakin menambah kecerian bagi kawasan Akihabara. Di sini kami menyempatkan membeli kebab, yang seporsinya cukup untuk 2 kali makan. Karena kami pesawat malam, maka kebab ini adalah pilihan yang pas untuk mengisi perut saat di dalam pesawat.

Akihabara surganya para otaku

Gemerlap Akihabara menjelang malam

Akihabara dimalam hari

Dari Akihabara kami bertolak ke rumah Mbak Ayu untuk mengambil barang bawaan. Mbak Ayu dan keluarga mengantar para mahasiswa berdompet tipis ini ke Stasiun Tama Plaza yang berjarak satu stasiun dari rumahnya. Dari Tama Plaza ini kami langsung menaiki bus yang akan mengantar kami ke bandara Haneda. Lebih simpel jika dibandingkan dengan menggunakan kereta pada saat pertama kali tiba di hari pertama. Hahahahaha... Bukan perjalanan namanya kalau tidak ada trial and error kan? jadi diasikin aja, toh semuanya akan menjadi cerita yang sangat menarik jika diingat-ingat kembali. 

Thursday, November 15, 2018

Eksplore Tokyo Part 1

Yoyogi Stadium

Tiba di terminal bus Ikebukuro terlalu pagi adalah salah satu keputusan yang kurang tepat. Begitu turun dari bus, kami langsung mencari toilet umum untuk sekedar mencuci muka dan menggosok gigi. Keluar dari terminal suasana jalanan masih sangat sepi, hanya terlihat satu dua orang yang bersiap untuk berangkat kerja. Hal yang kami lakukan setelah keluar terminal adalah mencari stasiun komuter menuju rumah Mbak Ayu di Saginuma. Kami terpaksa memutar sangat jauh karena shortcut yang melintasi sebuah mall masih ditutup. Alhasil kamipun berjalan bergerombolan menginjakkan kaki di paving yang masih basah akibat embun atau gerimis yang mengguyur tempat ini tadi malam. Karena merupakan kawasan pertokan dan mayoritas kawasan entertaiment, tak heran kalau sepagi ini kawasan ikebukuro ini masih sepi. Kami tiba di stasiun Ikebukuro sekitar jam 6.30 pagi, dan diluar dugaan, stasiun bawah tanah ini sudah sangat ramai sekali berbeda dengan suasana di luar yang seperti kota mati.


Ikebukuro di pagi hari

Kondisi terminal yang masih sepi

Di sini kabut pagi masih nutupin gedung2 tinggi gitu lo

Jalanan di kawasan Ikebukuro

Tampak beberapa warga yang bersiap memulai aktivitas hariannya

Suasana stasiun bawah tanah yang sudah ramai

Sesampainya di rumah Mbak Ayu kami bergegas mandi dan sarapan untuk melanjutkan perjalanan menjelejah Kota Tokyo, jangan kasi kendor mennnnn. Tujuan pertama pagi itu adalah Harajuku, Yoyogi Stadium, dan Meiji Jingu Temple. Semua destinasi itu letaknya berdekatan dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Stasiun terdekat untuk ketiga destinasi tersebut adalah Harajuku Station. 

Tempat pertama yang kami kunjungi tak lain adalah kawasan Harajuku Street, karena kami berhenti di stasiunnya. Harajuku merupakan salah satu distrik di Shibuya. Kawasan ini terkenal sebagai pusat berkumpulnya anak-anak muda Jepang yang super duper kreatif, jadi jangan heran kalau ketika berkunjung ke tempat ini kalian akan banyak menemukan anak-anak muda Jepang berdandan dengan gaya "unik" dan "nyentrik". Di kawasan ini bertebaran butik-butik dengan style fashion yang berbeda dengan yang lainnya. Jadi jika kamu ingin merasakan atmosfir nyentriknya anak-anak muda Jepang, tempat ini adalah pilihan yang tepat.

Harajuku Station


Persimpangan Harajuku Street yang tepat berada di depan Harajuku Station


Kondisi kawasan Harajuku saat weekend


Setelah Harajuku, tujuan selanjutnya adalah Yoyogi Stadium. Destinasi ini bisa dicapai dengan berjalan kaki dari Harajuku Station sekitar 200an meter. Karena lagi weekend, suasana kawasan Harajuku, Yoyogi Stadium dan Meiji Jinggu sangatlah ramai. Kami tertarik mengunjungi stadion ini karena memiliki bentuk arsitektur yang unik. Hal yang membuat bangunan ini unik adalah bentuk atapnya. Kalau kalian memiliki background pendidikan arsitektur pasti familiar dengan bentuk atap dengan struktur suspensi dan tentunya kalian juga akan kenal dengan arsitek yang mendesainnya, Kenzo Tange. Puas berfoto dan mengamati bentuk struktur stadion yang unik ini kami pun bergerak menuju Meiji Jingu Temple. Lokasinya tepat berada di depan stadion. Siap-siap berjalan kaki guys, karena untuk mencapai bangunan utama kuil ini kamu harus berjalan sekitar 800an meter. Tapi tenang, jarak tersebut akan terasa ringan karena kita akan disuguhkan pemandangan hutan yang sangat asri dan bersih, berasa bukan lagi ditengah hiruk pikuknya kota Tokyo. Bangunan ini didedikasikan untuk Kaisar Meiji yang merupakan kaisar pertama di zaman Jepang moderen.

Tapilan bangunan Yoyogi stadium


Bentukan atap Yoyogi stadium

Selfie depan gerbang masuk Meiji Temple

Lampu jalan di sepanjang perjalanan menuju ke kuil


Gerbang ikonik yang sama seperti di gerbang masuk


Ada beberapa spot foto ketje diperjalanan menuju kuil



Suasana dalam kuil yang ramai


Semacam kartu permohonan/ doa dan harapan



Full team foto depan kuil Meiji

Puas bermain di dalam kuil, sangat ramai karena ada upacara pernikahan di dalamnya, kami memutuskan untuk mencari makan siang. Beruntungnya kami saat itu stefani kedatangan teman SMP nya dari jogja yang lagi menempuh pendidikan di Jepang. Karena perut sudah keroncongan kamipun dibawa untuk makan ramen, yang katanya terenak se Shinjuku, dan yang penting HALAL. Bila tertarik kalian bisa cari lokasinya di Google maps "shinjuku gyoen ramen ouka". Kalian hanya perlu menggunakan  subway dan berhenti di stasiun Shinjuku-Gyoemmae. Tips dari teman yang sudah tinggal lebih lama dari kami di Jepang, kalau makan mie itu kita harus menyeruputnya hingga keluar bunyi. Hal ini sudah lumrah jika makan di restoran Jepang, khususnya jika tempat makan berada berada tepat di depan kokinya. Seruput menyeruput ini menandakan makanan yang dihidangkan enak dan secara tidak langsung etika tersebut dianggap sebagai penghargaan kepada kokinya.

Foto di depan restoran sama yang punya warung ramen

Interior dalam warung ramen

Jam menunjukkan pukul 4 sore, dan cuaca saat itu sedang gerimis. Destinasi selanjutnya setelah makan ramen adalah Asakusa Temple. Untuk mencapai destinasi ini kita hanya perlu menaiki subway dan turun di Asakusa Station. Hal yang unik dari kuil ini dibanding kuil-kuil lainnya adalah lampion berwarna merah raksasa yang tergantung di gerbang masuknya. Saat kami sampai di kuil ini sudah gelap dan bangunan utamanya sudah tutup. Alhasil kami hanya jalan-jalan di sekitar kuil karena kawasan sekitarnya juga sangat menarik untuk dikelilingi. Di komplek ini kami berkenalan lagi dengan salah satu teman Stefani yang lain, gadis Jepang yang sempat workshop barengdengannya di Bandung (wahhhh..... tepuk tangan buat mbak yang satu ini karena chanelnya ada di mana-mana). 

Kawasan Asakusa menjelang petang

Gerbang khas kuil asakusa dengan lapion raksasanya

Fokus ke lampionnya jangan modelnya, hahahahaha

Pusat souvenir dan pertokoan di sepanjang jalan menuju ke kuil asakusa

Gerbang Asakusa

Perjalanan malam itu ditutup dengan mengunjungi Tokyo Tower. Tidak lengkap rasanya ke Tokyo kalau belum mengunjungi menara ikonik yang satu ini. Karena sudah gelap dan percuma naik ke atas karena hanya akan terlihat lampu-lampu, ya padahal karena tiketnya mahal ya, kami memutuskan utuk berkeliling di lantai dasarnya saja. Lantai dasar dari menara ini berfungsi sebagai museum dan juga menjual berbagai pernak-pernik berbau Tokyo Tower. Secara singkat musueum yang ada menceritakan tentang kronologi dibangunannya Tokyo Tower serta sejarah singkat perkembangan Kota Tokyo dari masa ke masa. Tak lupa kami pun mengabadikan momen kebersamaan dibawah menara dengan berfoto bersama, yaaaa walaupun mukanya gak keliatan tapi di belakang kami berdiri gagah menara tokyo berwarna merah lengkap dengan kondisi pencahayaan yang menakjubkan.

Foto di bawah Tokyo Tower
Malam sudah semakin larut kami pun memutuskan untuk mengakhiri jalan-jalan untuk hari ini. Karena masih ada besok dan tidak enak juga kalau pulang kemalaman, soalnya numpang rumah orang geng, harus tau diri. Hahahahaha.....