Sunday, February 18, 2018

Colmar Tropicale, Resort Mewah dengan Suasana Pedesaan Prancis

Perkampungan Prancis di tengah hutan Berjaya Hills
Ini di Paris???? Tentu bukan. Duit masih jauh dari kata cukup untuk melakukan plesir sampai ke Eropa sana, mudah-mudahan suatu hari nanti kejadian, tentunya dengan si dia, Amiiiin. Hari ke-2 di Kuala Lumpur kita memutuskan untuk mengunjungi Colmar Tropicale, sebuah resort mewah di kawasan Berjaya Hills Kampung Bukit Tinggi, bukan Padang lo ya. Kami memutuskan untuk berkunjung ke kawasan resort mewah ini karena jaraknya yang sangat jauh, sekitar 1 jam lebih berkendara. ada 2 cara untuk menuju ke kawasan ini. Yang pertama adalah dengan menggunakan shuttle bus yang berangkat dari Berjaya Square dan yang ke dua adalah dengan kendaraan pribadi. Karena tidak memungkinkan untuk opsi no. 2 kita harus memesan tiket shuttle bus yang loketnya berada di Berjaya Square. Harga tiketnya bukan main-main lo, RM 60 untuk tiket pp (sekitar 200an ribu rupiah). Atau kalau datangnya ramean bisa ikutan caranya mbak Lia yang bisa dibaca di sini

Pintu masuk resort yang melewati jembatan

Gerbang depan resort

Gerbang depan resort

Gerbang depan resort

Karena niatannya memang pulang hari, maka kita memutuskan untuk berangkat dengan menggunakan bus paling awal, yakni jam 9.30 waktu setempat. Tiket RM 60 tersebut sudah termasuk tiket masuk kawasan Colmar dan juga tiket masuk ke Japanese Village serta Botanical Garden. Selama kurang lebih sejam berkendara kita akan memasuki dataran tinggi yang kiri kanannya merupakan hutan lebat. Bisa diprediksi bahwa kawasan resort mewah ini berada ditengah hutan dengan kondisi udara yang masih bersih. Pertama kali memasuki kawasan resort kita sudah disambut dengan gerbang masuk yang mirip seperti gate di pedesaan Prancis (walaupun belum pernah, tau lah saya dari foto-foto). Kawasan ini memang menggunakan konsep desain perdesaan Prancis yang bentuknya mirip dengan Kawasan Colmar asli yang ada di Prancis. Ketika masuk kedalam kawasan resort, kita serasa bukan berada di Malaysia lo. Bagaimana tidak, bangunan-bangunan bergaya abad pertengahan, gotic, renaissance dan juga konsep timber framing di setiap dinding-dinding bangunan semakin memperkuat karakter kawasan ini sebagai perkampungan Prancis. 

Suasana di dalam resort

Suasana setelah memasuki gerbang masuk utama

Salah satu suasana gang yang ada di dalam resort

Gaya bangunan yang mendominasi kawasan resort

Gaya bangunan yang mendominasi kawasan resort

Timber Framing pada dinding bangunan yang menjadi ciri khas gaya bangunan Colmar

Layaknya resort mewah dan memang difungsikan sebagai kawasan liburan keluarga, maka fasilitas-fasilitas di resort ini sudah sangat memadai. Namun untuk kaum pejalan berkantong tipis sudah cukuplah menikmati indahnya resort sambil mengabadikan beberapa spot menarik untuk dibawa pulang ke rumah, hahahaha. Setelah puas menjajal tiap sudut resort kami pun bergegas menuju 2 tempat wisata lainnya yang sudah include dengan tiket seharga RM 60 kami, yakni Japanese Vilage dan juga Botanical Garden. Walaupun masih satu komplek kawasan, namun jaraknya jauh mennnn. Oleh sebab itu pihak pengelola sudah menyediakan shutle bus yang wara-wiri menjemput dan mengembalikan wisatawan ke tempat asalnya. 

Suasana Botanical Garden di Japanese Village

Danau dan Sungai buatan di dalam taman

Rumah bergaya Jepang yang menjadi icon kawasan Japanese Village

Tidak ada yang istimewa memang untuk kedua destinasi terakhir ini, seperti namanya, Japanese Village lebih seperti taman dengan konsep landscape Jepang yang didalamnya terdapat rumah Jepang, hahahaha.... Namun untuk wisatawan yang sudah bosan dengan suasana perkotaan Kuala Lumpur, tempat ini bisalah menjadi pelarian kalau mau liat ijo-ijo dan suara gemercik air terjun yang menyejukkan hati (tsedappppp). Diluar dugaan ternyata explore kawasan resort dan kawan-kawannya ini ternyata tidak memakan waktu yang lama. Kami pun memutuskan untuk kembali ke Kuala Lumpur jam 4 sore. Dan sisa waktu kami gunakan untuk berjalan-jalan di sekitar Petronas Tower sebelum kami kembali ke Hostel mengambil barang-barang karena tepat jam 12 malam kami akan bertolak ke Penang dari terminal BTS (TBS), kalau menyebut terminal ini saya jadi ingat pengalaman menarik ketika pertama kali masuk ke terminal bus rasa bandara ini, ceritanya bisa dibaca di sini.

So, buat yang mau ke Prancis dan punya budget terbatas, Colmar ini bisa menjadi opsi yang kamu masukkan ke list kunjungan ketika ke Kuala Lumpur. Namun kalau kamu pengen ke Menara Eifel dengan si dia, maka Colmar bukan opsi yang tepat karena baik Eifel maupun si dia tidak akan kamu temukan di sana. Hahahahahaha.....

Selamat berlibur.....


Jalan-Jalan Singkat di Kuala Lumpur

Sultan Abdul Samad Building yang sekaran menjadi kantor pemerintahan
Hari terakhir di Singapura, grup terpecah menjadi dua kelompok. Sebagian memutuskan untuk kembali ke Bandung dan sebagian lagi kembali ke Medan. Tim yang pulang ke Medan memutuskan untuk singgah di Kuala Lumpur dan Pulau Penang terlebih dahulu, jadi kita berangkat via darat sebelum kembali ke Medan dengan menggunakan pesawat langsung dari Penang. Ada 2 opsi menuju ke Kuala Lumpur via darat. Kamu bisa langsung memesan direct bus dari Singapura atau naik bus umum dari Johor Bahru. Saya lebih sering memilih opsi yang ke-2 karena lebih hemat di kantong, akan tetapi konsekuensinya lebih lama karena harus gonta-ganti moda transportasi. Kenapa saya bilang murah? sebagai pembanding misal direct bus dari Singapura harganya SGD 30-40 jika kita naik dari Johor Bahru kita otomatis pakainya ringgit kan? jadi RM 30-40. Kita hanya perlu mencapai terminal bus di Johor Bahru dengan menggunakan public bus yang dapat kita jumpai di stasiun MRT Kranji, which is tiketnya cuma sekitar SGD 2.5 dan tiket busnya sekitar SGD 2.5 (harga tahun 2016). Tetap lebih murah ketimbang kita menggunakan direct bus yang nominal harganya sama tapi mata uang berbeda, cuma ya tinggal pilih saja mau berhemat atau mau yang praktis.

Kita tiba di stasiun bus Johor Bahru sekitar jam 8 malam waktu setempat, dan kemudian memesan tiket bus ke Kuala Lumpur yang berangkat jam 1 malam dengan harga sekitar RM 35. Perjalanan ke Kuala Lumpur memakan waktu 4 sampai 5 jam. Kami sampai di TBS (Terminal Bersepadu Selatan) pada pukul 5 pagi waktu setempat. Sambil menunggu MRT beroperasi kami jalan-jalan di dalam terminal bus yang interiornya mirip bandara udara ini. Setelah puas berjalan-jalan kita memutuskan untuk menuju hostel yang telah kita book sebelumnya melalui aplikasi. Hostel yang kami pesan letaknya dekat dengan kawasan Bukit Bintang. Jadi untuk kesana kami harus berganti moda transportasi dari MRT ke Monorel dan berjalan sekitar 400 meter untuk sampai ke Hostel yang kami pesan. Waktu Check in memang masih lama, jadi kami sengaja datang lebih pagi untuk menitipkan tas dan bebersih karena badan sudah mulai lengket. 
Sultan Abdul Samad Building di Dataran Merdeka

Panggung Bandaraya Teather

Suasana sekitar bangunan Sultan Abdul Samad

Suasana sekitar bangunan Sultan Abdul Samad

Bangunan Museum Tekstil

Jam ikonik yang menjadi ciri khas bangunan Sultan Abdul Samad

Tak banyak yang kami kunjungi di sisa hari ketibaan di Kuala Lumpur. Awalnya kami hanya berniat mengecek tiket shutle bus dari Berjaya Square ke Colmar untuk esok hari. Tapi karena hari masih panjang kami memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar Dataran Merdeka dan mengunjungi beberapa museum yang ada di sana. Sedikit mengenai Dataran Merdeka, disebut demikian karena kemerdekaan Malaysia di kumandangkan pertamakalinya di lapangan luas yang sekarang disebut dengan nama Lapangan Merdeka. Lapangan ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan konservasi dengan arsitektur yang unik. Beberapa bangunan yang ada difungsikan sebagai kantor pemerintahan dan sebagian lagi dijadikan museum. Museum yang kami kunjungi saat itu adalah museum tekstil dan juga Kuala Lumpur Planing Gallery (Mirip seperti URA Singapura baca artikelnya di sini).
Halaman depan Kuala Lumpur City Gallery

Miniatur maket perencanaan penataan kota Kuala Lumpur

Maket bangunan konservasi

Suasana ruang dalam Kuala Lumpur City Gallery

Suasana ruang dalam Kuala Lumpur City Gallery

Suasana sekitar bangunan Kuala Lumpur City Gallery

Souvenir Shop yang ada di dalam galeri

Di dalam museum tekstil kita bisa melihat berbagai perkembangan garmen atau seni kain yang ada di Malaysia. Selain itu terdapat juga berbagai pakaian adat melayu lengkap dengan sejarahnya dipaparkan di dalam museum ini. Sedangkan Kuala Lumpur Planning Gallery, sama seperti namanya, tempat ini menyuguhkan informasi terkait sejarah Kuala Lumpur, perencanaan-perencanaan pembangunan di Kuala Lumpur dan beberapa perencanaan terkait tata kota yang akan dilakukan di masa yang akan datang. Semuanya disajikan dalam bentuk gambar dan maket jadi sangat informatif dan atraktif. Untuk masuk ke galeri ini pengunjung harus membayar tiket masuk seharga RM 5 (harga 2016). Andai saja kota-kota di Indonesia punya yang beginian pasti seru. Selain untuk wisata bisa juga sebagai sarana pembelajaran (kamu bisa baca juga artikel terkait Shanghai City Planning Gallery di sini). Sejauh ini Bandung sudah menjadi pembuka dengan adanya Bandung Planning Gallery.

Proses membatik di dalam museum tekstil

Display berbagai pakaian adat yang ada di dalam museum

Suasana ruang dalam museum tekstil

Karena semalaman kurang tidur, kita pun memutuskan untuk kembali ke hostel, namun sebelumnya kami makan malam dulu di kawasan Bukit Bintang sebelum pulang agar tidur malam ini nyenyak. Karena perjalanan besok masih panjang. Haahahahah...

Friday, February 16, 2018

Dana Terbatas, Waktu Terbatas dan Ingin Keluar Negeri ? Singapura Tepat Menjadi Pilihan

Patung Merlion yang menjadi icon Singapura

Kenapa Singapura? Bukan Malaysia atau mungkin Thailand. Menurut saya dengan budget yang sangat terbatas, ingin bersantai menikmati liburan dan sejenak lari dari rutinitas keseharian, Singapura merupakan salah satu pilihan yang tepat. Yah walaupun biaya hidup di Singapura lebih mahal dari Malaysia, Singapura tetap menjadi pilihan terbaik karena kemudahan akses dan mobilitas yang sangat mudah (khususnya buat pemula). Dengan dana 3 sampai 4 juta kamu sudah bisa menghabiskan waktu di sana selama kurang lebih 3 hari 2 malam, tergantung mau gaya liburan seperti apa yang dianut, kalau saya sih dengan dana segitu bisa sampai 1 minggu. Biaya liburan bisa ditekan tergantung jenis akomodasi seperti apa yang anda inginkan, mulai dari budget hostel sekamar rame-rame hingga hotel berbintang dengan fasilitas kolam renang di lantai tertinggi.

Taman buatan di Marina Garden By The Bay

Super Tree di Marina Garden by The Bay

Dari segi sarana tranportasi, Singapura sudah memiliki sistem transportasi yang saling terintegrasi, malah menurut saya merupakan yang paling bagus se-Asia Tenggara. Kamu dapat memanfaatkan MRT (Sejenis kereta api yang relnya bisa di permukaan tanah, bawah tanah atau bahkan melayang di atas tanah), Bus Umum, dan apabila punya budget lebih dan gak mau berdesak-desakan kamu dapat memanfaatkan taksi (tidak disarankan apabila ingin menghemat biaya perjalanan). Jaringan transportasi publik seperti Bus dan MRT yang terdapat di Singapura, sudah menjangkau sebagian besar destinasi wisata yang ada di negara tersebut, tinggal pandai-pandai kita saja memadukan penggunaan Bus dan MRT serta rajin-rajin browsing atau lihat map. Untuk sistem tiketing nya sendiri cukup praktis, kamu bisa beli tiket sekali jalan di mesin penjual tiket atau membeli kartu yang dapat di isi ulang dan digunakan untuk Bus dan MRT. Kamu bisa mendapatkannya di counter-counter informasi yang terdapat di setiap stasiun MRT. Nah, menariknya untuk wisatawan terdapat Touristpass yang dapat digunakan sepuasnya tanpa perlu takut kehabisan nilai deposit kartu. Kamu dapat membeli Touristpass dengan masa berlaku 1 hari (24 jam), 2 hari dan maksimal 3 hari. Hargannya sekitar S$ 10 (untuk 1 hari) ditambah deposit S$ 10 yang bisa kamu minta kembali saat pengembalian kartu. Kartu ini bisa kamu pergunakan untuk Bus dan MRT sepuasnya selama masa berlaku kartunya belum habis.
Singapore Touristpass (ranselsibungsu)
Suasana stasiun MRT bawah tanah

Untuk destinasi wisata, inilah salah satu yang menjadi alasan saya memilih Singapura sebagai opsi untuk pemula. Singapura punya beragam pilihan destinasi wisata. Wisata budaya sperti Perkampungan Bugis, Pecinan, dan Melayu (bisa lihat ulasannya di sini). Kalau kamu tertarik dengan Arsitektur dan Kota, Singapura memiliki koleksi bangunan-bangunan lama dan baru yang sangat iconic dan moderen (lihat ulasannya di sini) atau kalau mau lihat info mengenai Singapura bisa langsung datang ke URA (Urban Redevelopment Authority) di tempat ini mereka memiliki galery yang terbuka untuk umum dan memajang sejarah perkembangan Singapura hingga rencana-rencana pengembangan kota dimasa yang akan datang (ulasannya bisa lihat di sini). Untuk yang suka dengan alam, taman dan hutan Singapura juga punya lo (ulasannya bisa dilihat di sini). Atau kalian penikmat wisata belanja? di Singapura banyak beragam pilihan mulai dari barang-barang imitasi berkualitas bagus kamu dapat menemukannya di area Bugis atau mau barang-barang bermerek dengan harga-harga fantastis kamu bisa menemukannya di sepanjang Orchard Road.
Pusat perbelanjaan Bugis

Pusat perbelanjaan VIVO

Kawasan Orchard Road

Beberapa hal di atas lah yang membuat saya memilih Singapura menjadi kota atau negara yang bisa kamu kunjungi dengan dana dan waktu yang terbatas. Kondisi transportasi umumnya sangat memudahkan ditambah dengan berbagai pilihan destinasi wisata yang ditawarkan sangat bervariasi. Memangsih harga-harga di Singapura itu relatif sangat mahal dibandingkan dengan di Indonesia, tapi menurut saya itu semua dapat diatasi dengan managemen kontrol pengeluaran yang telah diperhitungkan. Tergantung kebutuhan kita mau seperti apa. 

So, masih bingung mau kemana dengan dana terbatas dan waktu seadanya? tunggu apa lagi, rencanakan liburanmu, kumpulkan duitmu langsung cusssss berburu tiket murah.....

Suka Arsitektur? Beberapa Bangunan Ini Harus Masuk List Kunjungan Ketika Kamu Di Singapura

NTU School of Art Inner court
Hari ke-3 di Singapura pada tahun 2016 lalu, saya dan teman-teman berencana mengunjungi beberapa bangunan-bangunan yang menurut kami unik dan memiliki nilai arsitektur yang tinggi (tsadappp.....). Latar pendidikan yang sama, arsitektur, mendorong kami untuk mengunjungi beberapa bangunan-bangunan unik lainnya yang masih ada di Singapura. Hari itu kami mengunjungi National Museum of Singapore, SOETA, dan NTU. Letak National Gallery dengan SOETA berdekatan satu dengan yang lain. Kalau NTU harus menggunakan MRT dan Bus dengan memakan waktu sekitar 45 menit dari pusat kota.


Eksterior National Gallery Singapore

Interior National Gallery Singapore

Eksterior bangunan NAtional Gallery Singapore

Pagi itu kami bergerak ke National Gallery pada pukul 10 pagi, sebelumnya saya dan teman saya terlebih dahulu pergi ke Handerson Wave kembali karena salah satu teman saya belum sempat mengunjungi jembatan ini bersama kami pada hari sebelumnya. Alhasil kami berangkat pagi-pagi sekali sekitar jam 8 pagi dan baru bergabung dengan rombongan yang lainnya sekitar jam 10 pagi. Berbeda dengan National City Gallery, National Museum of Singapore lebih banyak memajang benda-benda bersejarah yang terkait dengan sejarah negara Singapura tempo dulu. Bangunannya sendiri dirancang dengan campuran gaya Neo-palladian dan Renaissance dengan kubah yang sangat khas pada bagian depan bangunan. Bentuknya yang unik dan gaya arsitektur yang khas menjadikan bangunan ini sangat photogenic jika diabadikan dengan kamera. Bangunan ini telah mengalami beberapakali perbaikan namun tetap mempertahankan bentuk aslinya.


Eksterior SOTA

Tangga Masuk Utama SOTA

Lobi utama bangunan SOTA

Berjalan 2 blok ke arah utara kalian akan menemukan SOTA (School of The Arts Singapore). Mencerminkan nama dan fungsinya, penggunaan material kayu pada fasade bangunannya menjadikan bangunan ini memiliki nilai seni yang cukup tinggi. Bangunan ini dirancang oleh salah satu konsultan arsitektur ternama di asia, dan salah satu ciri khas bangunan-bangunan yang dirancang oleh konsultan ini selain dari segi desain bangunan yang berbeda dengan yang lain adalah unsur-unsur alami yang disematkan pada tiap rancangannya seperti penggunaan vegetasi sebagai bagian dari pembentuk wajah bangunan. Maka tak heran di setiap bangunan-bangunan yang dirancang oleh konsultan arsitektur ini akan ditemui tanaman-tanaman rambat ataupun roof garden yang menjadi elemen tambahan yang memperindah bangunan.

Eksterior NTU School of Art

Eksterior NTU School of Art

Eksterior NTU School of Art

Waktu menunjukkan pukul 2 siang, kami bergegas dan bersiap-siap untuk menuju NTU (Nanyang Technological University). Kawasan kampus ini terletak agak jauh dari pusat kota Singapura, sehingga kami harus menggunakan MRT dan Bus untuk mencapainya. pertama kami menggunakan MRT dan turun di Jurong East Station barulah dari sana terdapat bus yang langsung menuju ke kawasan kampus NTU. Sangking luasnya kawasan kampus, bus umum yang berseliweran di jalan-jalan raya di Singapura, membuka rute khusus untuk melayani penghuni kampus NTU. 


Eksterior NTU The Hive

Interior NTU The Hive

Dua bangunan yang menarik perhatian kami di kawasan kampus ini adalah gedung School of Art, Design and Media dan yang terbaru adalah The Hive. Gedung School of Art merupakan salah satu gedung yang bagi mahasiswa arsitektur selalu menjadi preseden kaji banding apabila ingin merancang bangunan dengan tema green ataupun hi-tech. Bentuk bangunannya yang futuristik dan dinamis dipadukan dengan penggunaan roof garden yang katanya dapat mengurangi suhu ruangan didalam bangunan tersebut. Bangunan kedua dan yang paling baru di kawasan NTU adalah The Hive, bangunan yang difungsikan sebagai learning hub nya kawasan kampus ini di daulat sebagai salah satu bangunan yang masuk ke dalam konsep ecocampusnya NTU, hal ini dapat dilihat dari penggunaan material yang meminimalisir biaya perawatan serta konsep bangunan yang mengutamakan konsep pengkondisian udara alami. Kalau dari kacamata awam bangunan ini lebih mirip tumpukan kotak dinsum yang disusun secara melingkar.


Interior NTU The Hive

Interior NTU The Hive

Interior NTU The Hive

Interior NTU The Hive

Waktu menunjukkan jam 5 sore dan hari semakin gelap, kami memutuskan untuk kembali ke hostel karena tidak ada lagi yang bisa di nikmati saat gelap di kawasan kampus ini. Empat bangunan yang saya jelaskan di atas merupakan beberapa dari skian banyak bangunan-bangunan menarik lainnya di Singapura. Jika kamu berlatar belakang pendidikan arsitektur dan tertarik mengunjungi beberapa di antaranya, ke empat bangunan yang saya sebutkan tadi bisa kamu masukkan ke list perjalanan selama di Singapura. 


Interior Lassale
Dihari yang berbeda, karena hari terakhir di Singapura, kami menyempatkan berkunjung ke beberapa bangunan unik lainnya sebelum bertolak ke Kuala Lumpur. Seperti Lassale College of The Arts dan Colourful Houses Katong. Lassale College of The Arts merupakan sebuah kampus berarsitektur moderen yang bertempat di Rochor Rd. Kalian bisa mencapai bangunan unik ini dengan menggunakan MRT (berhenti di Rochor Station) atau pun bus umum. Begitu keluar dari stasiun MRT kalian akan melihat bangunan berwarna hitam kontras dimana bagian dalamnya seperti terbelah dan terbuat dari material kaca. Bangunan ini dibangun pada tahun 2007 dengan konsep pahatan ngarai sebagai interpretasi proses pembentukan alam sebagai bentuk seni alamiah. 


Kawasan berikutnya yang kami kunjungi adalah Colourful Houses Katong yang berada di kawasan Joo Chiat Rd. Kawasan ini dipenuhi oleh bangunan-bangunan lama yang masih terjaga keasliannya. salah satu spot yang unik yang kami kunjungi saat itu adalah deretan ruko-ruko lama yang di cat warna-warni sehingga menjadi icon kawasan tersebut. Kalian bisa mengunjungi kawasan ini dengan menaiki MRT (turun di Eunos Station) kemudian bisa melanjutkan dengan berjalan kaki atau menaiki bus.

Deretan rumah warna-warni di kawasan Joo Chiat Rd
Nah, buat kamu yang ingin mengunjungi bangunan-bangunan unik yang istagramable di Singapura, tunggu apa lagi. Masukkan bangunan dan kawasan-kawasan yang telah saya sebutkan ke dalam list kunjungan kamu sewaktu di Singapura. Selamat berArsitekturriaaa.....

(All picture taken by Ahmad Mansuri Alkindi)