Sunday, February 18, 2018

Jalan-Jalan Singkat di Kuala Lumpur

Sultan Abdul Samad Building yang sekaran menjadi kantor pemerintahan
Hari terakhir di Singapura, grup terpecah menjadi dua kelompok. Sebagian memutuskan untuk kembali ke Bandung dan sebagian lagi kembali ke Medan. Tim yang pulang ke Medan memutuskan untuk singgah di Kuala Lumpur dan Pulau Penang terlebih dahulu, jadi kita berangkat via darat sebelum kembali ke Medan dengan menggunakan pesawat langsung dari Penang. Ada 2 opsi menuju ke Kuala Lumpur via darat. Kamu bisa langsung memesan direct bus dari Singapura atau naik bus umum dari Johor Bahru. Saya lebih sering memilih opsi yang ke-2 karena lebih hemat di kantong, akan tetapi konsekuensinya lebih lama karena harus gonta-ganti moda transportasi. Kenapa saya bilang murah? sebagai pembanding misal direct bus dari Singapura harganya SGD 30-40 jika kita naik dari Johor Bahru kita otomatis pakainya ringgit kan? jadi RM 30-40. Kita hanya perlu mencapai terminal bus di Johor Bahru dengan menggunakan public bus yang dapat kita jumpai di stasiun MRT Kranji, which is tiketnya cuma sekitar SGD 2.5 dan tiket busnya sekitar SGD 2.5 (harga tahun 2016). Tetap lebih murah ketimbang kita menggunakan direct bus yang nominal harganya sama tapi mata uang berbeda, cuma ya tinggal pilih saja mau berhemat atau mau yang praktis.

Kita tiba di stasiun bus Johor Bahru sekitar jam 8 malam waktu setempat, dan kemudian memesan tiket bus ke Kuala Lumpur yang berangkat jam 1 malam dengan harga sekitar RM 35. Perjalanan ke Kuala Lumpur memakan waktu 4 sampai 5 jam. Kami sampai di TBS (Terminal Bersepadu Selatan) pada pukul 5 pagi waktu setempat. Sambil menunggu MRT beroperasi kami jalan-jalan di dalam terminal bus yang interiornya mirip bandara udara ini. Setelah puas berjalan-jalan kita memutuskan untuk menuju hostel yang telah kita book sebelumnya melalui aplikasi. Hostel yang kami pesan letaknya dekat dengan kawasan Bukit Bintang. Jadi untuk kesana kami harus berganti moda transportasi dari MRT ke Monorel dan berjalan sekitar 400 meter untuk sampai ke Hostel yang kami pesan. Waktu Check in memang masih lama, jadi kami sengaja datang lebih pagi untuk menitipkan tas dan bebersih karena badan sudah mulai lengket. 
Sultan Abdul Samad Building di Dataran Merdeka

Panggung Bandaraya Teather

Suasana sekitar bangunan Sultan Abdul Samad

Suasana sekitar bangunan Sultan Abdul Samad

Bangunan Museum Tekstil

Jam ikonik yang menjadi ciri khas bangunan Sultan Abdul Samad

Tak banyak yang kami kunjungi di sisa hari ketibaan di Kuala Lumpur. Awalnya kami hanya berniat mengecek tiket shutle bus dari Berjaya Square ke Colmar untuk esok hari. Tapi karena hari masih panjang kami memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar Dataran Merdeka dan mengunjungi beberapa museum yang ada di sana. Sedikit mengenai Dataran Merdeka, disebut demikian karena kemerdekaan Malaysia di kumandangkan pertamakalinya di lapangan luas yang sekarang disebut dengan nama Lapangan Merdeka. Lapangan ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan konservasi dengan arsitektur yang unik. Beberapa bangunan yang ada difungsikan sebagai kantor pemerintahan dan sebagian lagi dijadikan museum. Museum yang kami kunjungi saat itu adalah museum tekstil dan juga Kuala Lumpur Planing Gallery (Mirip seperti URA Singapura baca artikelnya di sini).
Halaman depan Kuala Lumpur City Gallery

Miniatur maket perencanaan penataan kota Kuala Lumpur

Maket bangunan konservasi

Suasana ruang dalam Kuala Lumpur City Gallery

Suasana ruang dalam Kuala Lumpur City Gallery

Suasana sekitar bangunan Kuala Lumpur City Gallery

Souvenir Shop yang ada di dalam galeri

Di dalam museum tekstil kita bisa melihat berbagai perkembangan garmen atau seni kain yang ada di Malaysia. Selain itu terdapat juga berbagai pakaian adat melayu lengkap dengan sejarahnya dipaparkan di dalam museum ini. Sedangkan Kuala Lumpur Planning Gallery, sama seperti namanya, tempat ini menyuguhkan informasi terkait sejarah Kuala Lumpur, perencanaan-perencanaan pembangunan di Kuala Lumpur dan beberapa perencanaan terkait tata kota yang akan dilakukan di masa yang akan datang. Semuanya disajikan dalam bentuk gambar dan maket jadi sangat informatif dan atraktif. Untuk masuk ke galeri ini pengunjung harus membayar tiket masuk seharga RM 5 (harga 2016). Andai saja kota-kota di Indonesia punya yang beginian pasti seru. Selain untuk wisata bisa juga sebagai sarana pembelajaran (kamu bisa baca juga artikel terkait Shanghai City Planning Gallery di sini). Sejauh ini Bandung sudah menjadi pembuka dengan adanya Bandung Planning Gallery.

Proses membatik di dalam museum tekstil

Display berbagai pakaian adat yang ada di dalam museum

Suasana ruang dalam museum tekstil

Karena semalaman kurang tidur, kita pun memutuskan untuk kembali ke hostel, namun sebelumnya kami makan malam dulu di kawasan Bukit Bintang sebelum pulang agar tidur malam ini nyenyak. Karena perjalanan besok masih panjang. Haahahahah...

No comments:

Post a Comment