Monday, July 30, 2018

Shibuya Crossing, Tempat Melihat Masyarakat Jepang Tumpah Ruah di Jalanan


Shibuya Crossing malam hari saat hujan gerimis mengguyur
Kami sampai di tempatnya Mbak ayu, temennya temen saya, sekitar jam 7.30 pagi. Setelah istirahat sebentar, ngobrol-ngobrol dan juga isi perut sekitar jam makan siang kami bertolak ke Shinzuku untuk membeli tiket bus ke Sendai buat keesokan harinya. Tapi sebelumnya kami menyempatkan untuk berjalan-jalan di sekitar Shibuya sebelum membeli tiket. Suasana Shibuya singa hari sangatlah berbeda dengan ketika kami sampai pagi hari tadi. Toko-toko sudah pada buka dan ribuan orang berlalu lalang kesana-kemari. Sedikit mengenai Shibuya yang saya gali di internet, wilayah ini dikenal sebagai tempat berdirinya sebuah kastil pada zaman edo. Hingga akhirnya Tokyo menjadi kota metropolitan pada tahun 1943, kota-kota suburban seperti Shibuya ini menjadi berkembang dan semakin maju. Hal ini juga didukung dengan dibukannya 2 line metro yang melintasi kawasan ini sehingga menjadikannya menjadi kawasan strategis yang dangat pas untuk membuka lahan bisnis. Jadilah Shibuya seperti saat ini sebagai pusat bisnis dan pertokoan, khususnya di sekitaran Shibuya Station. Berjalan ke arah utara sedikit kita akan menemukan Harajuku, pusat fasion dan nongkrongnya muda-mudi Jepang berpenampilan nyentrik (nanti saya bahas di tulisan berikutnya).

Suasana pertokoan di kawasan Shibuya

Shibuya Crossing sore hari
Selain patung Hachiko yang sangat legendaris, hal terkenal lainnya di kawasan ini adalah zebracross nya, yup Shibuya Crossing. Kalau dipikir-pikir crossing di Shibuya ini tidak ada bedanya dengan crossing-crossing di tempat lainnya, hanya berupa perempatan jalan biasa dimana orang-orang akan meyebrang ketika lampu penyebrangan berubah hijau. So apa yang membuatnya istimewa? Kalau menurut saya sih budaya orang-orangnya lah yang membuat penyebrangan ini menjadi sangat istimewa. Kamu akan dibuat takjub ketika semua orang dengan sabar menunggu lampu untuk menyebrang dan seketika tumpah kejalanan saat lampu penyebrangan berubah hijau disaat lampu berubah merah seketika jalanan langsung kosong diganti dengan kendaraan bermotor yang berlalu-lalang. Shibuya Crossing menjadi salah satu ikonnya Shibuya selain patung Hachiko. Sangking terkenalnya, kawasan penyebrangan ini menjadi lokasi syuting beberapa film Hollywood seperti Fast Furious yang Tokyo Drift, Resident Evil serta beberapa filim romantis lainnya lainnya.

Kami menghabiskan waktu di Shibuya hingga jam 5 sore. Karena suasana saat itu sedang hujan, kami lebih banyak berteduh dan memperhatikan orang berlalu lalang menggunakan payung transparan. Salah satu yang berbekas di memori saya saat di stasiun Shibuya adalah speaker bersuara "SHIBUYA" yang sangat khas di telinga. Suaranya menggunakan suara, yang saya duga adalah suara pria paruh baya, direkam dengan intonasi suara yang cuek. Kuat dugaan, mungkin dia kesal karena suara itu direkam dan sudah mengalami ratusan atau bahkan ribuan kali take sehingga bosan dan kesan cueknya jadi lebih natural. Hahahhaha..... 
Suasana Stasiun Shibuya
Jangan takut tersesat, ikuti papan penunjuk arah
 
Wajah-wajah sumringah H-1 sebelum kejadian
Sesampainya kami Shinjuku Station, kami bertolak ke counter penjualan tiket bus antar kota dengan bermodalkan papan petunjuk yang ada di stasiun. Sangat mudah menemukannya mengingat semuanya sudah sangat terintegrasi di negara ini. Di sini para mahasiswa berdompet tipis berusaha sepenuh hati mencari tiket dengan harga semurah mungkin. Lama mondar-mandir kesana-kemari, alhasil jatuhla pilihan kami ke perusahaan bus milik pemerintah seharga 2000 yen/orang. Bus ini hanya tersedia 2x pemberangkatan dalam seharinya yakni jam 7 pagi dan 4 sore. Kami membeli tiket yang jam 7.00 pagi karena malamnya kami harus sudah registrasi dan makan malam bersama peserta conference di Sendai.

Setelah tiket aman di tangan kami pun bertolak pulang ke rumah mbak Ayu untuk segera istirahat karena besoknya harus bangun pagi dan buru-buru ke stasiun karena tindak mau ketinggalan bus yang kami beli seharga 2000an yen, sekitar 300ribuan kalau di rupiahkan. Tapi apa daya semua tak semanis rencana yang telah disusun..... 

Friday, July 27, 2018

Pertama Kali di Jepang, Rusuh Naik Subway Ke Shibuya

Patung Hachiko di Shibuya
Pertama kali menaiki MRT di Jepang, di sini namanya Subway, kami sempat bengong-bengong sangking jelimetnya peta rute yang terpampang di depan kami. Berbeda dengan Singapura dan Kuala Lumpur, bahkan China, MRT di Jepang memang terkenal ribet dan jelimet buat yang belum terbiasa apalagi buat yang baru pertama ke Jepang seperti kami-kami ini. Sempat melakukan riset kecil-kecilan melalui tulisan blog beberapa orang di internet ternyata sedikit membantu. Mengapa saya sebut sedikit, karena khusus untuk kasus ini saya pikir tidak cukup hanya membaca info di blog saja melainkan harus terjun dan merasakan langsung di lapangan dan tanya langsung ke petugasnya biar jelas.

Sebagai salah satu negara maju di Asia, Jepang sudah pasti memiliki transportasi publik yang memadai. Sistem MRT atau Subway yang ada di negara ini merupakan sistem kereta bawah tanah terpadat dan merupakan alternatif utama bagi masyarakat karena kecepatan dan ketepatan waktu yang ditawarkan. Jadi jangan heran di jam sibuk weekday maupun weekend, akan sangat sulit mendapat tempat duduk di dalam subway. Jangankan tempat duduk dapat berdiri dengan ke-dua kaki sendiri saja susah untung (nanti saya cerita pengalaman yang ini). Itu baru dari berdesak-desakan di jam sibuk, belum lagi harus teliti dengan kereta yang dinaiki, karena satu rel bisa dilalui 2 kereta dengan tujuan akhir yang berbeda serta ada beberapa kereta express yang hanya berhenti dibeberapa stasiun dan kereta reguler yang berhenti di setiap stasiun yang dilaluinya, fiuhhhhh..... alamat pe er dihari pertama nih.

Menunggu kereta di stasiun monorel bandara

Suasana pagi di sekitar stasiun monorel bandara Haneda

Hari pertama kami di Jepang, khususnya Tokyo, tantangan pertama kami adalah bagaimana cara mencapai tempat tinggal temannya teman kami dari bandara dengan cepat dan tentunya semurah mungkin. Sudah pasti pilihan kami jatuh pada Subway, walaupun belakangan kami tau kalau bus adalah pilihan paling nyaman mengingat beberapa teman membawa tentengan extra berupa koper yang pastinya akan mengganggu sekali jika dibawa ke dalam Subway. Perlu dicatat, Subway di Jepang khususnya stasiun bawah tanah pada umumnya tidak menyediakan ekskalator untuk turun, kalaupun ada sudah pasti sangat ramai, jadi kebayangkan kalau kita membawa koper segede gaban?. 

Setelah semalaman bertanya di Information Center dan bolak-balik liat rute subway yang ada, kami pun mantap untuk menggunakan subway menuju ke rumah temannya teman kami di kawasan Saginuma. Untuk menuju ke kawasan tersebut yang berada di selatan Tokyo kami harus berganti beberapa kereta. Dari Bandara Haneda kami harus menggunakan airport monorail menuju stasiun subway terdekat, kemudian menaiki kereta menuju Ke Shibuya yang selanjutnya dilanjut ke Shinjuku dan terakhir dari sini baru bisa lanjut dengan kereta menuju Saginuma, seems like easy right? but semua tidak seindah yang dibayangkan begitu melihat dan merasakan situasinya di lapangan. hahahahaha

Adalah salah satu teman saya yang namanya saya samarkan, sebut saja dia Stefany. Belum naik subway dia sudah gugup duluan. Karena sangking exited-nya ingin naik moda transportasi canggih bernama subway, secara di Jogja belum ada. Kita berjalan dengan santai dan PD menuju stasiun monorail dengan mengikuti papan petunjuk yang ada di bandara. Tiket sudah di tangan, sambil menunggu kereta pertama yang berangkat pagi itu, kita melakukan rutinitas turis Indonesia yang umumnya dilakukan jika di tempat baru, ber-selfie ria. Asik mengambil beberapa foto, teman saya Stefany, baru sadar kalau ada sesuatu yang kurang. Dua menit menjelang kereta akan tiba dia baru sadar kalau kopernya tertinggal di ruang tunggu bandara, tempat kami tidur semalaman. Secara cewek, langsung panik dong, segala outfit buat semingguan di Jepang ada di sana. Tanpa pikir panjang dia langsung lari sambil memohon ke petugas untuk diperbolehkan keluar dari stasiun sebentar karena ada barang yang tertinggal. Karena masih sepi, jadi tidak masalah untuk berlarian dengan bebas di dalam stasiun dan bandara. Kebayang dong kalau kejadiannya pas jam sibuk....

Untungnya jepang adalah negara yang aman dan ramah terhadap segala barang bawaan yang tertinggal. 5 menit kami menunggu teman mengambil kopernya yang tertinggal, dia pun melenggang masuk stasiun sambil menggeret kopernya yang tertinggal tadi. Tidak lupa dia senyum ke petugas sambil menunduk ala2 orang Jepang sambil berterimakasih. Hmmmm gayaaaa... Karena masih pagi kereta dari bandara menuju stasiun subway terdekat yang kami tumpangi masih sepi jadi bebas mau duduk dimana saja. Namun ketenangan dan kenyamanan itu sirna ketika kami sampai di stasiun subway di pinggiran Tokyo. Jam baru menunjukkan pukul 6.20 tapi sudah ramai orang berlalu lalang di stasiun. Semakin mendekati pusat kota, kereta yang kami tumpangi semakin sesak dan padat. Di sini kamu akan melihat semua jenis orang Jepang mulai dari para executive yang dandanannya necis hingga karyawan kantor biasa yang berangkat kerja dengan muka bantal. 
Suasana di dalam kereta pagi hari

Kondisi kereta masih sepi
Karena barang bawaan yang ada, kami pun bertahan agar posisi tetap dekat dengan pintu keluar masuk kereta agar mempermudah mobilasi ketika mau turun kereta. Selain kereta yang bisa berbeda dalam satu jalur, tiket yang digunakan juga berbeda. Perlu diketahui, ada beberapa jenis tiket yang digunakan untuk beberapa jenis kereta yang berbeda. Hal ini terjadi karena perusahaan pengelola tiap kereta yang berbeda-beda pula. Hmmmmm sangat berbeda dengan di Singapura kan? Jadi sebelum memutuskan membeli tiket kereta, kamu harus menimbang dan menelaah terlebih dahulu kamu berada di kota mana serta jenis kereta apa yang akan digunakan nantinya untuk berkeliling kota. Setelahnya, baru deh kamu membeli tiket sesuai dengan yang kamu butuhkan. Untuk lengkapnya mengenai jenis tiket ini bisa kamu baca di sini.

Setelah berdesakan dan berpindah beberapa stasiun, kami pun tiba di Shibuya. Tanpa pikir panjang kami langsung keluar dari salah satu stasiun interchange tersibuk di Jepang ini untuk kemudian berganti kereta ke JR line, sejenis kereta komuter yang menghubungkan Tokyo dengan kawasan-kawasan suburban di sekitarnya. Ketika kami sampai di Shibuya, sekitar jam 7, kawasan ini masih sepi aktivitas. Toko-toko pun belum buka. Yang terlihat hanyalah petugas kebersihan dan beberapa orang yang berlalu-lalang menuju ke tempat kerja masing-masing. Karena sudah di Shibuya, tidak lupa kami menyinggahi patung anjing Hachiko, yang pamornya sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia. Kesetiaan anjing bernama Hachiko ini sampai menginspirasi Hollywood untuk mengabadikannya menjadi sebuah film.  Sebagai turis berdompet tipis, kami pun menyempatkan mengambil beberapa foto di sekitar area ruang terbuka dengan latar patung anjing kecil ini.

Suasana Stasiun Shibuya pagi hari

Plaza Hachiko, ruang terbuka tempat berkumpul di Shibuya

Shibuya Crossing, segini itu masih belum ramai.
Tips buat kamu yang ingin menggunakan kereta dari bandara Haneda, sangat disarankan menghindari bawaan yang banyak serta hindari bepergian di jam-jam sibuk seperti masuk pulang kantor dan juga makan siang. Gunakan tas ransel dan minimalisir menenteng sesuatu untuk mempermudah mobilasisi di dalam kereta. Ransel yang dibawa juga jangan terlalu besar, kalau pun ia, berhati-hatilah agar tidak mengganggu orang di dalam kereta. 


Wednesday, July 25, 2018

Culture Shock !!!! Perkara TOILET bandara di Jepang

Interior Bandara Haneda Jepang

Beruntungnya kuliah di Perguruan Tinggi Negeri Di Jawa, khususnya untuk pendidikan S2, adalah privilege atau kemudahan memperoleh informasi dan akses terhadap segala hal yang berbau akademis. Seperti Student Exchange, Seminar, Konferensi, Beasiswa dan lain sebagainya. Tidak bisa dipungkiri, selama 2 tahun saya menempuh pendidikan S2 di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung, telah sukses membawa saya "jalan-jalan" ke Malang, Pangkal Pinang, dan Jepang yang hampir sebagian dananya di cover oleh kampus, ya gak murni jalan-jalan sih, lebih tepatnya tugas belajar yang disusupi agenda jalan-jalan. Hahahahah..... 

Adalah akhir September 2016, tulisan ilmiah saya diterima oleh salah satu konferensi internasional di Jepang pada saat itu. Karena mengharuskan pemakalah untuk melakukan presentasi, maka berangkatlah saya dan beberapa teman saya ke Jepang. Sebenarnya konferensinya berlangsung hanya 3 hari, namun kami memutuskan extend selama seminggu karena menurut kami ini merupakan kesempatan emas dan sangat sia-sia kalau jauh-jauh ke Jepang hanya untuk seminar tanpa menyempatkan diri untuk meng-explore negeri matahari terbit tersebut. Kita pun sepakat untuk plesir di Jepang selama kurang lebih 10 hari, tentunya dengan perhitungan dana dan waktu yang pas sesuai dengan kantong mahasiswa.

Observation Deck di bandara Haneda Jepang

Interior dalam bandara Haneda
Karena penerbangan yang kami booking dari jakarta berangkatnya jam 6 pagi, maka kami berangkat dari Bandung menggunakan shuttle bus yang langsung menuju Bandara Soeta di hari sebelumnya. Penerbangan menuju Bandara Haneda Jepang memakan waktu sekitar 18 jam. Sebenarnya waktu terbangnya hanya 6 jam, namun karena budget terbatas kami harus memilih penerbangan transit. Dan harga tiket yang sesuai di kantong saat itu adalah maskapai low budget , si merah, yang transit di Kuala Lumpur selama kurang lebih 12 jam. Yang dapat kami lakukan saat itu adalah duduk-duduk gabut di bandara sambil menunggu keberangkatan jam 7 malam. Kami tiba di Bandara Haneda jam 10.30 malam waktu setempat. Karena MRT menuju ke pusat kota berakhir jam 11 malam, kami memutuskan untuk bermalam di bandara dan berangkat dengan menggunakan kereta pertama kesesokan harinya.

Observation deck tempat melihat pesawat lalu lalang

Kawasan pertokoan di dalam bandara (abaikan modelnya....)

Pertama kali tiba di Bandara Haneda mata saya langsung jelalatan memperhatikan interior bandara yang pertama kali saya kunjungi saat itu, ini merupakan rutinitas alami bagi seorang yang berlatarbelakang arsitektur yang  "mengharuskan" kami mencermati tiap detail desain dan material sebuah rancang bangun (tsadappppppp), jadi jangan heran kalau di tengah jalan ketemu orang yang serius memperhatikan sesuatu sambil mengelus atau mengetuk-ngetuk seuah objek bisa jadi dia adalah seorang arsitek. Hahahahahah.... Kondisi yang bersih dengan perpaduan desain yang futuristik menjadikan bandara ini sangat nyaman. Karena jam oprasionalnya 24 jam, maka bukan hanya kami saja yang memutuskan untuk stay di bandara menunggu kereta pagi besok hari. Kondisi yang sudah larut malam berdampak terhadap banyaknya toko-toko di dalam bandara yang sudah tutup. Alhasil kami hanya berjalan-jalan sambil foto-foto di setiap sudut bandara yang menurut kami instagramable. Kami sempatkan naik ke observation deck, tempatnya pengunjung melihat pesawat parkir, take off dan landing. Hingga larut malam memang dapat dilihat Haneda merupakan salah satu bandar udara internasional tersibuk di Jepang. Banyak lokasi di bandara yang bisa dijadikan untuk tempat tidur. Kami lebih memilih di ruang tunggu dekat pintu masuk ke MRT karena lebih ramai dan lebih hangat. 

Ruang tunggu bandara yang kami manfaatkan untuk tiduran

Salah satu teman sedang berdiskusi dengan turis lain yang sedang menunggu penerbangan berikutnya

Kesan saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jepang, khususnya di bandaranya, adalah kebersihan dan keteraturannya. Oh iya... meskipun bukan berpenduduk mayoritas muslim, di bandara ini terdapat beberapa ruang ibadah umat beragama lain, termasuk ruang sholat. Kondisinya sangat bersih dan terawat. Selain itu yang saya kagumi lagi adalah toiletnya, sungguh sangat amat nyaman. Sangking nyamannya saya sempat berpikir untuk tiduran di toilet saja, hahahahahaha...... Bisa bayangin dong toilet dengan closet duduk ini dilengkapi peralatan super canggih dimana kita tinggal pilih kalau mau bilas pakai air hangat atau air dingin. Setelahnya ada opsi blower dimana kita dapat mngeringkan hasil bilasan tersebut tanpa menggunakan tisu (penting). Tiba-tiba saya bengong aja gitu di dalam toilet sangking banyaknya tombol yang harus dioperasikan padahal cuma perkara buang air besar dan kecil doang. Saya yang masih cupu ini yang biasa buang air besar bilas pakai gayung langsung mengalami apa yang mereka sebut culture shock. Ini baru hari pertama lo ya, belum hari-hari lainnya. Ikutin aja terus ceritanya...