Wednesday, July 25, 2018

Culture Shock !!!! Perkara TOILET bandara di Jepang

Interior Bandara Haneda Jepang

Beruntungnya kuliah di Perguruan Tinggi Negeri Di Jawa, khususnya untuk pendidikan S2, adalah privilege atau kemudahan memperoleh informasi dan akses terhadap segala hal yang berbau akademis. Seperti Student Exchange, Seminar, Konferensi, Beasiswa dan lain sebagainya. Tidak bisa dipungkiri, selama 2 tahun saya menempuh pendidikan S2 di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung, telah sukses membawa saya "jalan-jalan" ke Malang, Pangkal Pinang, dan Jepang yang hampir sebagian dananya di cover oleh kampus, ya gak murni jalan-jalan sih, lebih tepatnya tugas belajar yang disusupi agenda jalan-jalan. Hahahahah..... 

Adalah akhir September 2016, tulisan ilmiah saya diterima oleh salah satu konferensi internasional di Jepang pada saat itu. Karena mengharuskan pemakalah untuk melakukan presentasi, maka berangkatlah saya dan beberapa teman saya ke Jepang. Sebenarnya konferensinya berlangsung hanya 3 hari, namun kami memutuskan extend selama seminggu karena menurut kami ini merupakan kesempatan emas dan sangat sia-sia kalau jauh-jauh ke Jepang hanya untuk seminar tanpa menyempatkan diri untuk meng-explore negeri matahari terbit tersebut. Kita pun sepakat untuk plesir di Jepang selama kurang lebih 10 hari, tentunya dengan perhitungan dana dan waktu yang pas sesuai dengan kantong mahasiswa.

Observation Deck di bandara Haneda Jepang

Interior dalam bandara Haneda
Karena penerbangan yang kami booking dari jakarta berangkatnya jam 6 pagi, maka kami berangkat dari Bandung menggunakan shuttle bus yang langsung menuju Bandara Soeta di hari sebelumnya. Penerbangan menuju Bandara Haneda Jepang memakan waktu sekitar 18 jam. Sebenarnya waktu terbangnya hanya 6 jam, namun karena budget terbatas kami harus memilih penerbangan transit. Dan harga tiket yang sesuai di kantong saat itu adalah maskapai low budget , si merah, yang transit di Kuala Lumpur selama kurang lebih 12 jam. Yang dapat kami lakukan saat itu adalah duduk-duduk gabut di bandara sambil menunggu keberangkatan jam 7 malam. Kami tiba di Bandara Haneda jam 10.30 malam waktu setempat. Karena MRT menuju ke pusat kota berakhir jam 11 malam, kami memutuskan untuk bermalam di bandara dan berangkat dengan menggunakan kereta pertama kesesokan harinya.

Observation deck tempat melihat pesawat lalu lalang

Kawasan pertokoan di dalam bandara (abaikan modelnya....)

Pertama kali tiba di Bandara Haneda mata saya langsung jelalatan memperhatikan interior bandara yang pertama kali saya kunjungi saat itu, ini merupakan rutinitas alami bagi seorang yang berlatarbelakang arsitektur yang  "mengharuskan" kami mencermati tiap detail desain dan material sebuah rancang bangun (tsadappppppp), jadi jangan heran kalau di tengah jalan ketemu orang yang serius memperhatikan sesuatu sambil mengelus atau mengetuk-ngetuk seuah objek bisa jadi dia adalah seorang arsitek. Hahahahahah.... Kondisi yang bersih dengan perpaduan desain yang futuristik menjadikan bandara ini sangat nyaman. Karena jam oprasionalnya 24 jam, maka bukan hanya kami saja yang memutuskan untuk stay di bandara menunggu kereta pagi besok hari. Kondisi yang sudah larut malam berdampak terhadap banyaknya toko-toko di dalam bandara yang sudah tutup. Alhasil kami hanya berjalan-jalan sambil foto-foto di setiap sudut bandara yang menurut kami instagramable. Kami sempatkan naik ke observation deck, tempatnya pengunjung melihat pesawat parkir, take off dan landing. Hingga larut malam memang dapat dilihat Haneda merupakan salah satu bandar udara internasional tersibuk di Jepang. Banyak lokasi di bandara yang bisa dijadikan untuk tempat tidur. Kami lebih memilih di ruang tunggu dekat pintu masuk ke MRT karena lebih ramai dan lebih hangat. 

Ruang tunggu bandara yang kami manfaatkan untuk tiduran

Salah satu teman sedang berdiskusi dengan turis lain yang sedang menunggu penerbangan berikutnya

Kesan saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jepang, khususnya di bandaranya, adalah kebersihan dan keteraturannya. Oh iya... meskipun bukan berpenduduk mayoritas muslim, di bandara ini terdapat beberapa ruang ibadah umat beragama lain, termasuk ruang sholat. Kondisinya sangat bersih dan terawat. Selain itu yang saya kagumi lagi adalah toiletnya, sungguh sangat amat nyaman. Sangking nyamannya saya sempat berpikir untuk tiduran di toilet saja, hahahahahaha...... Bisa bayangin dong toilet dengan closet duduk ini dilengkapi peralatan super canggih dimana kita tinggal pilih kalau mau bilas pakai air hangat atau air dingin. Setelahnya ada opsi blower dimana kita dapat mngeringkan hasil bilasan tersebut tanpa menggunakan tisu (penting). Tiba-tiba saya bengong aja gitu di dalam toilet sangking banyaknya tombol yang harus dioperasikan padahal cuma perkara buang air besar dan kecil doang. Saya yang masih cupu ini yang biasa buang air besar bilas pakai gayung langsung mengalami apa yang mereka sebut culture shock. Ini baru hari pertama lo ya, belum hari-hari lainnya. Ikutin aja terus ceritanya...

No comments:

Post a Comment