Friday, July 27, 2018

Pertama Kali di Jepang, Rusuh Naik Subway Ke Shibuya

Patung Hachiko di Shibuya
Pertama kali menaiki MRT di Jepang, di sini namanya Subway, kami sempat bengong-bengong sangking jelimetnya peta rute yang terpampang di depan kami. Berbeda dengan Singapura dan Kuala Lumpur, bahkan China, MRT di Jepang memang terkenal ribet dan jelimet buat yang belum terbiasa apalagi buat yang baru pertama ke Jepang seperti kami-kami ini. Sempat melakukan riset kecil-kecilan melalui tulisan blog beberapa orang di internet ternyata sedikit membantu. Mengapa saya sebut sedikit, karena khusus untuk kasus ini saya pikir tidak cukup hanya membaca info di blog saja melainkan harus terjun dan merasakan langsung di lapangan dan tanya langsung ke petugasnya biar jelas.

Sebagai salah satu negara maju di Asia, Jepang sudah pasti memiliki transportasi publik yang memadai. Sistem MRT atau Subway yang ada di negara ini merupakan sistem kereta bawah tanah terpadat dan merupakan alternatif utama bagi masyarakat karena kecepatan dan ketepatan waktu yang ditawarkan. Jadi jangan heran di jam sibuk weekday maupun weekend, akan sangat sulit mendapat tempat duduk di dalam subway. Jangankan tempat duduk dapat berdiri dengan ke-dua kaki sendiri saja susah untung (nanti saya cerita pengalaman yang ini). Itu baru dari berdesak-desakan di jam sibuk, belum lagi harus teliti dengan kereta yang dinaiki, karena satu rel bisa dilalui 2 kereta dengan tujuan akhir yang berbeda serta ada beberapa kereta express yang hanya berhenti dibeberapa stasiun dan kereta reguler yang berhenti di setiap stasiun yang dilaluinya, fiuhhhhh..... alamat pe er dihari pertama nih.

Menunggu kereta di stasiun monorel bandara

Suasana pagi di sekitar stasiun monorel bandara Haneda

Hari pertama kami di Jepang, khususnya Tokyo, tantangan pertama kami adalah bagaimana cara mencapai tempat tinggal temannya teman kami dari bandara dengan cepat dan tentunya semurah mungkin. Sudah pasti pilihan kami jatuh pada Subway, walaupun belakangan kami tau kalau bus adalah pilihan paling nyaman mengingat beberapa teman membawa tentengan extra berupa koper yang pastinya akan mengganggu sekali jika dibawa ke dalam Subway. Perlu dicatat, Subway di Jepang khususnya stasiun bawah tanah pada umumnya tidak menyediakan ekskalator untuk turun, kalaupun ada sudah pasti sangat ramai, jadi kebayangkan kalau kita membawa koper segede gaban?. 

Setelah semalaman bertanya di Information Center dan bolak-balik liat rute subway yang ada, kami pun mantap untuk menggunakan subway menuju ke rumah temannya teman kami di kawasan Saginuma. Untuk menuju ke kawasan tersebut yang berada di selatan Tokyo kami harus berganti beberapa kereta. Dari Bandara Haneda kami harus menggunakan airport monorail menuju stasiun subway terdekat, kemudian menaiki kereta menuju Ke Shibuya yang selanjutnya dilanjut ke Shinjuku dan terakhir dari sini baru bisa lanjut dengan kereta menuju Saginuma, seems like easy right? but semua tidak seindah yang dibayangkan begitu melihat dan merasakan situasinya di lapangan. hahahahaha

Adalah salah satu teman saya yang namanya saya samarkan, sebut saja dia Stefany. Belum naik subway dia sudah gugup duluan. Karena sangking exited-nya ingin naik moda transportasi canggih bernama subway, secara di Jogja belum ada. Kita berjalan dengan santai dan PD menuju stasiun monorail dengan mengikuti papan petunjuk yang ada di bandara. Tiket sudah di tangan, sambil menunggu kereta pertama yang berangkat pagi itu, kita melakukan rutinitas turis Indonesia yang umumnya dilakukan jika di tempat baru, ber-selfie ria. Asik mengambil beberapa foto, teman saya Stefany, baru sadar kalau ada sesuatu yang kurang. Dua menit menjelang kereta akan tiba dia baru sadar kalau kopernya tertinggal di ruang tunggu bandara, tempat kami tidur semalaman. Secara cewek, langsung panik dong, segala outfit buat semingguan di Jepang ada di sana. Tanpa pikir panjang dia langsung lari sambil memohon ke petugas untuk diperbolehkan keluar dari stasiun sebentar karena ada barang yang tertinggal. Karena masih sepi, jadi tidak masalah untuk berlarian dengan bebas di dalam stasiun dan bandara. Kebayang dong kalau kejadiannya pas jam sibuk....

Untungnya jepang adalah negara yang aman dan ramah terhadap segala barang bawaan yang tertinggal. 5 menit kami menunggu teman mengambil kopernya yang tertinggal, dia pun melenggang masuk stasiun sambil menggeret kopernya yang tertinggal tadi. Tidak lupa dia senyum ke petugas sambil menunduk ala2 orang Jepang sambil berterimakasih. Hmmmm gayaaaa... Karena masih pagi kereta dari bandara menuju stasiun subway terdekat yang kami tumpangi masih sepi jadi bebas mau duduk dimana saja. Namun ketenangan dan kenyamanan itu sirna ketika kami sampai di stasiun subway di pinggiran Tokyo. Jam baru menunjukkan pukul 6.20 tapi sudah ramai orang berlalu lalang di stasiun. Semakin mendekati pusat kota, kereta yang kami tumpangi semakin sesak dan padat. Di sini kamu akan melihat semua jenis orang Jepang mulai dari para executive yang dandanannya necis hingga karyawan kantor biasa yang berangkat kerja dengan muka bantal. 
Suasana di dalam kereta pagi hari

Kondisi kereta masih sepi
Karena barang bawaan yang ada, kami pun bertahan agar posisi tetap dekat dengan pintu keluar masuk kereta agar mempermudah mobilasi ketika mau turun kereta. Selain kereta yang bisa berbeda dalam satu jalur, tiket yang digunakan juga berbeda. Perlu diketahui, ada beberapa jenis tiket yang digunakan untuk beberapa jenis kereta yang berbeda. Hal ini terjadi karena perusahaan pengelola tiap kereta yang berbeda-beda pula. Hmmmmm sangat berbeda dengan di Singapura kan? Jadi sebelum memutuskan membeli tiket kereta, kamu harus menimbang dan menelaah terlebih dahulu kamu berada di kota mana serta jenis kereta apa yang akan digunakan nantinya untuk berkeliling kota. Setelahnya, baru deh kamu membeli tiket sesuai dengan yang kamu butuhkan. Untuk lengkapnya mengenai jenis tiket ini bisa kamu baca di sini.

Setelah berdesakan dan berpindah beberapa stasiun, kami pun tiba di Shibuya. Tanpa pikir panjang kami langsung keluar dari salah satu stasiun interchange tersibuk di Jepang ini untuk kemudian berganti kereta ke JR line, sejenis kereta komuter yang menghubungkan Tokyo dengan kawasan-kawasan suburban di sekitarnya. Ketika kami sampai di Shibuya, sekitar jam 7, kawasan ini masih sepi aktivitas. Toko-toko pun belum buka. Yang terlihat hanyalah petugas kebersihan dan beberapa orang yang berlalu-lalang menuju ke tempat kerja masing-masing. Karena sudah di Shibuya, tidak lupa kami menyinggahi patung anjing Hachiko, yang pamornya sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia. Kesetiaan anjing bernama Hachiko ini sampai menginspirasi Hollywood untuk mengabadikannya menjadi sebuah film.  Sebagai turis berdompet tipis, kami pun menyempatkan mengambil beberapa foto di sekitar area ruang terbuka dengan latar patung anjing kecil ini.

Suasana Stasiun Shibuya pagi hari

Plaza Hachiko, ruang terbuka tempat berkumpul di Shibuya

Shibuya Crossing, segini itu masih belum ramai.
Tips buat kamu yang ingin menggunakan kereta dari bandara Haneda, sangat disarankan menghindari bawaan yang banyak serta hindari bepergian di jam-jam sibuk seperti masuk pulang kantor dan juga makan siang. Gunakan tas ransel dan minimalisir menenteng sesuatu untuk mempermudah mobilasisi di dalam kereta. Ransel yang dibawa juga jangan terlalu besar, kalau pun ia, berhati-hatilah agar tidak mengganggu orang di dalam kereta. 


2 comments:

  1. Wahhh.. kapan ya bisa liat patung hachiko yang legendaris itu.. hhehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa bang kapan aja kalo mau liat aja, googling aja. hehehehe

      Delete