Friday, August 3, 2018

Sendai, Kota di Utara Tokyo yang Menjadi Saksi Bisu Dahsyatnya Gempa dan Tsunami 2011

Kawasan kampus Tohoku University
Kami tiba di Sendai 30 menit lebih awal, mungkin karna penumpangnya hanya kami saja ya? Hal pertama yang kami lakukan setibanya di Terminal Sendai adalah mencari informasi transportasi ke Tohoku University untuk melakukan registrasi ulang peserta conference. Setelah bertanya ke beberapa orang di terminal dan googling di internet kami berangkat menuju Tohoku University menggunakan MRT. Sama seperti Tokyo, suasana Sendai saat itu juga gerimis. Oh ia kita berangkat ke Jepang sekitar akhir September, belum masuk musim dingin tapi karena taifun jadi tiap hari itu hujan atau gerimis.
Rest area diperjalanan menuju Sendai
Sedikit highlight tentang Sendai, kota ini merupakan ibukota dari Prefecture Miyagi dan berada di sebelah utara Tokyo. Didirikan sekitar tahun 1600 dan memiliki julukan sebagai City of Trees. Selain itu, Sendai merupakan 1 dari 20 kota di Jepang yang masuk kedalam kota yang didesain atau direncanakan secara khusus. Di tahun 2011 terjadi gempa besar berskala 9.0 SR yang mengakibatkan gelombang Tsunami yang menghancurkan sebagian besar kota Sendai. 5 tahun berselang ketika mengunjungi kota ini tidak terlihat sedikitpun bekas destruktif yang disebabkan oleh gempa dan tsunami. Kota sudah sepenuhnya pulih dan berfungsi sebagai mana mestinya. 

Sendai lebih "humanis" kalau menurut saya dibandingkan dengan Tokyo yang lebih padat dan ramai. Di sini kita masih bisa menemui ibu-ibu berjalan dengan anaknya di tengah kota dengan santai, para lansia juga masih dengan nyaman beraktivitas di tengah kota. Berbeda dengan kondisi kota Tokyo yang sudah padat dan sibuk oleh para pekerja-pekerja yang tiap harinya bergerak kaku dengan rutinitas yang sama. Selama conference kami akan tinggal di Sendai selama 3 malam 4 hari. 2 hari full merupakan kegiatan conference dan sisanya sudah pasti jalan-jalan di sekitaran Sendai.

Hutan di belakan kampus Tohoku
Selesai registrasi di Tohoku University, sekitar jam 4.30 an sore, kami pun bergegas menuju hostel yang telah kami booking, kami memilih lokasi strategis di tengah kota, hal ini bertujuan untuk mempermudah mobilisasi jika ingin berjalan-jalan tanpa banyak menggunakan transportasi publik. Dari kampus kami menaiki MRT ke Sendai Sentral, kemudian melanjutkan dengan bus ke hostel. Sebenarnya terdapat stasiun MRT yang dekat dengan Hostel, namun karena sudah malam dan direview hostel menyebutkan lebih gampang dengan menggunakan bus, maka kamipun akhirnya menggunakan bus umum. Karena kami tidak bisa membaca huruf Jepang, kamipun hanya bisa menghintung jumlah pemberhetian halte hingga sampai ke halte pemberhentian terdekat dengan hostel. Hostel yang kami booking per malamnya sekitar 140an ribu. Kondisi hostelnya sangat rapi dan nyaman untuk ukuran hostel budget, gaya bangunannya tipikal rumah tinggal reguler orang Jepang dengan lantai kayu dan pintu geser. 

Memilih makan malam yang sesuai kantong dan halal
Selain kami di hostel juga terdapat beberapa peserta conference dari Tokyo yang menginap di sini, kami baru mengetahuninya keesokan harinya. Karena sudah lelah dan kondisi diluar hujan, sisa malam pun hanya dimanfaatkan untuk istirahat dan mempersiapkan bahan presentasi buat besok.

1 comment:

  1. Wah aku masukin itinerary ke Sendai pas buat visa dan bisa dapat free :)

    ReplyDelete