Wednesday, October 17, 2018

Mepet di Hari Terakhir, Masih Sempat Jalan-Jalan di Sendai

Kota Sendai dari puncak AER Building

Dalam perjalanan menelusuri tiket ke Tokyo, kami menyempatkan berjalan-jalan di Sendai, mengingat belum pernah melihat sendai di pagi hari perkara jadwal presentasi yang melulu dipagi hari. Perjalanan mencari tiket kami berhenti sejenak di area pertokoan yang sangat unik di Jepang. Di sepanjang koridor yang kami lalui masih terdapat beberapa toko bergaya bangunan tradisional, walaupun di sekitarnya sudah dipenuhi bangunan-bangunan moderen 2 hingga 6 lantai lebih. Dengan adanya toko-toko bergaya tradisional tersebut, ciri khas koridor semakin kuat menandakan bahwa kita sedang ada di Jepang. Karena bertepatan jam masuk kerja, jalanan ramai dengan para pekerja yang berlalu lalang di sepanjang jalur pedestrian. Saya sempat berfoto di zebra-cross bertepatan saat semua para pekerja-pekerja ini sedang menyebrang. Selain koridor pertokoan yang saya ceritakan, terdapat pula beberapa jalan-jalan atau lebih tepatnya lorong-lorong kecil yang memberi pengalaman ruang yang sangat berbeda. Sama halnya dengan gang di Indonesia, akan tetapi di sini lebih bersih dan lebih teratur. Jadi sangat photogenic ketika dijadikan latar untuk berfoto.

Salah satu toko bergaya tradisional yang masih nyempil di pusat pertokoan Sendai

Salah satu koridor pertokoan yang cukup ramai di Sendai

Kondisi jalanan di pagi hari

Puas berjalan-jalan di sepanjang koridor pertokoan hingga menelusuri koridor-koridor kecilnya, kami bertolak ke salah satu pusat perbelanjaan di Sendai. Sebelumnya kami mendapat info dari hasil browsing bahwa di pusat perbelanjaan tersebut terdapat menara observasi yang bisa melihat kota Sendai dari ketingian 37 lantai. Berhubung kita para pejalan pecinta gratisan, pergilah kita ke pusat perbelanjaan tersebut, The AER Building. Dari ketinggian lebih dari 170 meter kita bisa melihat kota Sendai dari atas melalui ke empat sisi bangunan menaranya. Puas berfoto-foto kami pun turun untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya.

Sisi lain Sendai dari puncak AER Building

Sisi lain Sendai dari puncak AER Building

Waktu sudah menunjukkan jam 2 siang, destinasi berikutnya yang kami datangi adalah sebuah kuil di pinggiran kota Sendai, Zuiho-ji Temple. Sebenarnya ini tujuan random karena pada saat itu kita hanya berniat melihat-lihat kawasan permukiman di pinggiran Kota Sendai namun di pertengahan jalan kita melihat papan petunjuk yang mengarahkan kita utuk mengunjungi kuil ini. Karena sudah kadung di TKP kita menyempatkan masuk ke dalam komplek kuil. Terdapat jalan menanjak ketika memasuki area kuil karena lokasi yang kita kunjungi berada di kawasan perbukitan. Masuk ke kawasan kuil ini kita disuguhkan pemandangan yang lebih alami karena kiriiiiiii kanaaaaaaannnnnn kulihat saja banyak pepohonannnn (apasihhhhh). Kalau pernah nonton filim Twilight yang adegan kejar-kejaran di tengah hutan sambil manjat-manjat pohon (ini twilight apa tarzan sih?), suasana persis seperti itu cuman kurangnya di sini tidak ada Bella ataupun Edward Cullen yang manjat-manjat pohon. Pohon-pohon di sini bukan main besarnya, dapat diperkirakan dong umurnya berapa. Suasana kuil sangat sepi, bisa dibilang cuman ada kami saja di dalam, sekelompok mahasiswa Indonesia berdompet tipis.

Kawasan pinggiran kota Sendai yang bersih dan rapi

Tetep ingat sholat dong yah dimanapun berada (bukan pencitraan hanya mengingatkan)
Permukiman di pinggiran Kota Sendai

Permukiman di gerbang masuk kuil

Jalan menanjak menuju kuil

Pepohonan yang terdapat di kawasan kuil

Berfoto di depan salah satu kuil

Hari mulai gelap, mahasiswa berdompet tipis sudah mulai lelah, kami memutuskan untuk kembali ke hostel. Kami menyempatkan singgah di minimarket untuk membeli beberapa makan malam sebelum tiba di Hostel. Tak banyak yang kami bisa kami lakukan di Hostel selain mengisi daya hape yang mulai melemah sembari bersistirahat sebelum akhirnya berpamitan ke pegawai hostel. Banyak hal-hal menarik yang kami peroleh di kota ini, mulai dari pengalaman presentasi yang sama sekali baru dan berbeda dari biasanya, suasana kota yang bersih serta orang-orangnya yang ramah. Di Sendai kami berkesempatan menyaksikan potret kehidupan masyarakat Jepang dari sisi yang berbeda. Masyarakat di sini lebih santai dan lebih manusiawi dibandingkan Tokyo yang sudah hampir kaku karena kesibukan masing-masing. 

Foto terakhir bersama penghuni hostel

Dari sini sudah tau dong gambaran cerita perpisahan kami dengan pegawai hostel? Seperti saya ceritakan sebelumnya, gerimis mengantar kepergian kami dari sebuah hostel kecil di tengah jantung Kota Sendai.....

Tuesday, October 16, 2018

Drama Penelusuran Tiket Pulang ke Tokyo

Suasana Sendai di pagi hari

Tak banyak yang bisa kami lakukan di hari terakhir jadwal presentasi. Karena setelahnya ada acara penutupan dan dinner bersama peserta konferensi. Alhasil setelah acara makan-makan, yang sebenarnya tidak banyak yang bisa kami makan, kami memutuskan untuk pulang dan beristirahat karena besok malamnya mau pulang ke Tokyo. Kami berencana mengambil jadwal bus malam agar bisa berjalan-jalan sembari menunggu keberangkatan bus, selain itu kami juga hemat akomodasi dan tidak harus merepotkan Mbak ayu untuk satu penginapan satu malamnya, karena kita akan tidur di bus. Hahahaha... 

Check out jam 9 pagi, kami menitipkan tas di hostel, sebagian ada yang tinggal di hostel sembari kami mencari tiket pulang ke Tokyo untuk nanti malam. Nasib sebagai pemula dan berdompet tipis, kami harus menelusuri loket penjualan tiket bus satu per satu sembari membandingkan harga. Dengan cara seperti ini, tidak mudah mendapatkan harga tiket yang pas apalagi kami berangkat dihari yang sama. Untuk pesan online juga sudah pernah kami coba dengan meminta tolong petugas hostel, namun karena kami berangkatnya pada saat weekend sebagian besar tiket dengan harga murah sudah terjual habis. 

Geng pemburu tiket

Interior lobi hostel yang cozy banget

Sebagai persiapan, 2 teman saya yang tinggal di hostel mengkondisikan resepsionisnya untuk memesankan tiket termurah untuk keberangkatan tengah malam, sedangkan saya dengan 2 teman lainnya bertugas mencari tiket murah dengan menelusuri loket-loket penjualan tiket yang buka pada hari itu. Dengan tekad yang bulat dan yakin pada pagi hari itu kami bergegas menuju loket bus yang akan kami datangi. Setelah lelah dioper kesana kemari serta kendala bahasa yang sulit dimengerti kedua belah pihak, kami pun menyerah dan gagal mendapat tiket dengan cara bergeriliya. Harapan terakhir adalah petugas hotel, dalam perjalanan pulang ke hostel kami dihubungi teman yang stay di hostel bahwa mereka mendapat tiket dengan harga sekitar 500 ribuan per orang di jam 11 malam. Karena sudah lelah berjalan, kami pun mengiakan untuk mengambil tiket tersebut karena waktu juga sudah menunjukkan jam 12 siang. 

Tiket yang sudah dibooking online tinggal dibayar di gerai minimarket dan kami mendapat semacam kata kunci yang dapat digunakan untuk memperoleh boarding pas dari website kami memesan tiket. 

Setelah drama tiket yang melelahkan kamipun memutuskan untuk berpamitan ke petugas hostel dan berterimakasih sudah dibantu selama kami ada di Sendai. Gerimis ringan mejadi saksi bisu perpisahan antara mahasiswa-mahasiswa Indonesia berdompet tipis dengan pegawai hostel Sendai yang ramah (yang ini lebai sih). Kami bergegas ke stasiun Subway terdekat untuk kemudian berangkat ke loket pemberangkatan bus antar kota. 

Foto dong sama pengelola hostel yang helpful banget, ini yang selfiin mamang tukang bersih-bersih. Hahahahah

Pesan buat para pembaca, jangan menganggap enteng segala hal, termasuk masalah beli membeli tiket atau pun penginapan. Di zaman serba canggih saat sekarang ini semuanya sudah sangat mudah, apalagi di negara maju seperti Jepang. Namun "mudah" yang ada kami salah artikan dengan "menggampangkan" berbagai hal termasuk dalam memperoleh tiket bus di Jepang. Hal-hal "mudah" tersebut hanya bisa kamu dapatkan jika kamu punya Credit Card yang bisa di gesek atau minimal Debit Card juga gak masalah dan yang kedua kamu harus punya akses internet dimanapun kapanpun. Jadi buat sobat-sobat missquen yang kemana-mana bawa cash, siap-siap untuk kerja ekstra ya..... hahahahah

Monday, October 15, 2018

Dari Sendai Mediatheque hingga Nyasar ke RED Distriknya Sendai

Interior Sendai Mediatheque
Di sela-sela jadwal presentasi yang padat selama dua hari, kami hanya punya waktu senggang sore dan malam hari. Karena sudah kadung di Sendai, sayang dong kalau waktunya tidak dimanfaatkan untuk berjalan-jalan keliling kota? Makanya pas selesai hari pertama prensentasi kami menyempatkan diri untuk berkeliling kampus Tohoku diperjalanan pulang ke hostel. Kampus di kawasan Kawauchi ini berada dekat dengan perbukitan, kalau tau Doraemon (pasti tau lah ya, kalau gak masa kecilmu kurang bahagia berarti broos and sis :D), seperti bukit dibelakang sekolahnya Nobita dan kawan-kawan. Kawasan kampus dipenuhi pohon-pohon besar, dekat kampus ada sebuah Kastil bercat putih, kami singgah untuk berfoto sebentar kemudian melanjutkan perjalanan ke sebuah kuil terdekat, Miyagi Prefecture Gokoku Shrine. Jalan menuju kekuil ini berliku dan melalui hutan dengan jalanan yang sangat sepi. Jadi pemandangan kiri-kanannya apalagi kalau bukan pepohonan. Suasana gerimis yang berubah menjadi hujan ringan menambah berat perjalanan menuju ke kuil. Karena sudah terlanjur setengah jalan, pantang pulang sebelum sampai dong.....

Kuil putih di persimpangan jalan

Jalan sepi menuju kuil di perbukitan

Berfoto di depan kuil Gokoku

Kuil ini berdiri sekitar abad ke-19, dan dikhususkan untuk mengenang pengorbanan para pahlawan Jepang selama proses restorasi Meiji pada tahun 1868. "Gokoku" dalam bahasa Jepang berarti "pelindung" dengan kata lain kuil ini merupakan sebuah simbol pelindung bagi negara, yakni Jepang. Selain kuil utama yang merupakan tempat berdoa, di dalam komplek kawasan juga terdapat beberapa bangunan-bangunan pendukung dan lapangan memorial. Karena hujan jadi kami hanya bisa berfoto seadanya saja. Yang penting ada jejaklah, bukti kalau sudah pernah mengunjungi tempat ini.

Saya asumsikan berisikan doa-doa

Ini juga sepertinya berisi doa-doa

Malamnya, setelah tiba di hotel dan mandi, kami berjalan-jalan di sekitar hotel. Berjarak 2 km terdapat bangunan karya arsitek Toyo Ito, Sendai Mediatheque. Berhubung belum tutup, saat itu sekitar jam 7 malam, kami menyempatkan masuk ke bagian dalam bangunan. Bangunan ini sendiri resmi dibuka pada Januari 2001 dan berfungsi sebagai creative center. Di dalamnya terdapat galery, perpustakaan, ruang pertemuan, bioskop kecil, dan ruang pameran terbuka yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Struktur utama dari bangunan ini menjadi suatu ciri khas yang sangat unik. Kolomnya terbuat dari pipa baja yang disusun melingkar dengan diameter tertentu yang nantinya akan menopang floor slabs yang menjadi tumpuan berdiri pengunjung di tiap lantainya. Dinding luar bangunan sendiri terbuat dari kaca, sehingga memberi kesan luas dan transparan, dimana pengunjung dapat dengan bebas melihat susana diluar bangunan maupun sebaliknya.

Kolom-kolom di dalam Sendai Mediatheque yang terbuat dari pipa baja

Keliling bangunan yang dilapisi dinding kaca transparan

Ruang duduk di lantai 2 dekat ruang baca

Puas berkeliling di dalam bangunan, kami melanjutkan untuk mencari makan malam, berhubung jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sangat susah mencari makan di Jepang, khususnya buat muslim. Karena sudah lapar kami membeli nasi dengan irisan daging tipis-tipis. Hmmmmmmm, jangan tanya rasanya, karena sudah lapar dan dipastikan tidak mengandung yang haram-haram, apapun dimakan demi mengisi perut yang mulai menjerit. Usai makan kami melanjutkan perjalanan yang tidak terencana pada malam itu. Saat itu kami melihat sebuah jalan yang mirip seperti gang dengan gapura di depannya bertuliskan Kokobuncho. Tanpa pikir panjang kamipun langsung berangkat melintasi jalan tersebut dan baru menyadari kalau area tersebut merupakan zona merahnya Sendai atau dengan kata lain RED Districtnya Sendai, tempat dimana  para karyawan kantor mabuk-mabukan dan bermain "wanita". Tak heran sepanjang jalan dipenuhi pria-pria berjas hitam, stelannya mirip mafia-mafia yang ada di filim-filim asia. Karena suasananya sangat tidak kondusif kamipun sangat berhati-hati dan tidak berani mengeluakan kamera.

Menuju ke Kokobuncho, bapaknya pake batique

Suasana di sepanjang jalan Kokobuncho, ngambil diam-diam

Salah satu koridor perbelanjaan, bukan Kokobuncho lagi

Malam semakin larut dan kaki sudah tidak sanggup lagi melangkah, kami memutuskan untuk kembali ke hostel karena besok masih ada jadwal presentasi hari terakhir. 

Bertemu Dengan Toyo Ito, Pertamakali Presentasi Berbahasa Ingris

Berfoto bersama Toyo Ito (maaf mbak tep, kepotong)

Ini adalah Highlight utama kedatangan kami ke Jepang, yup International Symposium on Architectural Interchanges in Asia atau singgkatnya ISAIA, sebuah konferensi internasional di bidang arsitektur yang diadakan oleh Architectural Institute of Japan (AIJ), Architectural Institute of Korea (AIK) dan Architectural Society of China (ASC). Konferensi ini diadakan setiap sekali dalam dua tahun dan kali ini yang bertindak sebagai panitia dan tuan rumah adalah Jepang dan berketepatan diadakan di Sendai. 

Pagi itu setelah istirahat semalaman dan mepersiapkan presentasi semaksimal mungkin kami bersiap-siap bertolak ke Tohoku University untuk menghadiri seminar yang mengundang keynote speakers yang salah satu diantaranya adalah arsitek kondang asal Jepang yakni Toyo Ito. Beliau adalah salah sau arsitek legend, menurut saya, sekelas dengan Zaha Hadid yang telah mendapatkan penghargaan Pritzker Prize, sebuah penghargaan bergengsi di bidang arsitektur. Banyak karya-karya beliau bertebaran di Jepang dan beberapa di antaranya sempat saya kunjungi ketika berada di Jepang. Beliau terkenal dengan gubahan arsitektur berkonsep yang banyak dari desain-desainya merupakan manifestasi dari bentuk-bentuk alami seperti akar ranting dan elemen-elemen natural lainnya yang diterjemahkan kedalam bentuk fisik bangunan.

Suasana dalam aula saat key note speaker memaparkan materi

Kalo yang ini saat saya memaparkan materi di ruangan
Beliau membuka acara konferensi dengan melakukan presentasi mengenai beberapa karya-karya beliau yang telah dikerjakan hingga tahun 2016. Selain beliau terdapat dua arsitek yang melakukan paparan termasuk Ryu Choon Soo dari Korea dan juga Li Xiaodong dari China. Paparan yang dilakukan para keynote speaker ini berlangsung hingga jam 12 siang dan dilanjutkan dengan makan siang sebelum dilaksanakan sesi pararel yang mengharuskan para peserta seperti kami-kami ini untuk melakukan paparan terkait paper penelitian kami yang telah lolos seleksi. Paparan dilakukan terpisah sesuai dengan topik penelitian yang dipilih. Bersama dengan researcher dari berbagai negara dengan topik yang sama akan mendengarkan paparan dan membahas paparan tersebut secara bersamaan.

Kami ber 5 memilih topik yang berbeda sehingga ruangan kami pun tidak ada yang sama. Dengan bahasa Inggris yang paspasan saya pun memaparkan penelitian saya mengenai tingkat kenyamanan masyarakat di ruang terbuka publik. Dengan terbata-bata saya, semua vocabulary yang saya ketahui keluar begitu saja dengan gramar yang menurut saya acak-acakan. Show must go on, jadi saya PD aja (padahal aslinya gugup), 10 menit waktu yang diberi untuk memaparkan topik berjalan terasa lama sekali. Untungnya peserta yang berada di dalam ruangan mengerti mengenai topik yang saya bawakan, asumsi, mengingat setidaknya ada 2, 3 orang yang menanyakan dan berdiskusi mengenai topik yang saya sampaikan. Setelah selesai dan mendengarkan beberapa pemateri, saya lega karena bahasa Inggris saya bukanlah yang terburuk, hahahaha. Mungkin karena masih selevel Asia dan bahasa Inggris bukan bahasa ibu jadinya tidak ada yang menurut saya bahasa inggrisnya cukup native, khususnya di ruangan saya berada, karena mayoritas peserta dari Korea dan Jepang.

Ini di ruang berbeda tempat rekan saya memaparkan materi
Sesi di ruangan saya selesai sekitar jam 3 sore. Begitu semuanya beres saya mengunjungi teman saya yang belum selesai di ruangan yang berbeda. Kebetulan masih ada beberapa yang belum presentasi, saya berkesempatan mendengar pemateri dari China dan Jepang. Sama seperti di ruangan saya cara penyampaian mereka juga sama seperti saya, terbata-bata, mungkin ini pertama kalinya juga buat mereka. Semua sesi pada hari ini selesai pada jam 4 sore. Karena seharian sudah lelah kami langsung bergegas pulang ke hotel untuk mandi dan bersiap-siap untuk mencari makan malam. Tapi sebelumnya kami sempat berfoto-foto di perjalanan pulang dan jalan-jalan kecil. 

Konferensi di Jepang ini merupakan konferensi internasional saya yang pertama sebagai pemateri. Walaupun terbata dalam penyampaian tapi masih masih layak dan harus untuk dicoba, karena selalu ada awal dari segala sesuatunya, kalau tidak dicoba ya kapan lagi... Setelah konferensi di Jepang saya menjadi lebih tertarik untuk melakukan hal yang sama lagi di masa yang akan datang. Dan kesempatan itu datang lagi di Jogja, meskipun berbahasa Inggris tapi audience nya rata-rata orang Indonesia jadi levelnya agak sedikit menurun. Hehehehehe....

Kalau yang ini Merdeka setelah semua selesai memaparkan materi masing-masing