Monday, October 15, 2018

Bertemu Dengan Toyo Ito, Pertamakali Presentasi Berbahasa Ingris

Berfoto bersama Toyo Ito (maaf mbak tep, kepotong)

Ini adalah Highlight utama kedatangan kami ke Jepang, yup International Symposium on Architectural Interchanges in Asia atau singgkatnya ISAIA, sebuah konferensi internasional di bidang arsitektur yang diadakan oleh Architectural Institute of Japan (AIJ), Architectural Institute of Korea (AIK) dan Architectural Society of China (ASC). Konferensi ini diadakan setiap sekali dalam dua tahun dan kali ini yang bertindak sebagai panitia dan tuan rumah adalah Jepang dan berketepatan diadakan di Sendai. 

Pagi itu setelah istirahat semalaman dan mepersiapkan presentasi semaksimal mungkin kami bersiap-siap bertolak ke Tohoku University untuk menghadiri seminar yang mengundang keynote speakers yang salah satu diantaranya adalah arsitek kondang asal Jepang yakni Toyo Ito. Beliau adalah salah sau arsitek legend, menurut saya, sekelas dengan Zaha Hadid yang telah mendapatkan penghargaan Pritzker Prize, sebuah penghargaan bergengsi di bidang arsitektur. Banyak karya-karya beliau bertebaran di Jepang dan beberapa di antaranya sempat saya kunjungi ketika berada di Jepang. Beliau terkenal dengan gubahan arsitektur berkonsep yang banyak dari desain-desainya merupakan manifestasi dari bentuk-bentuk alami seperti akar ranting dan elemen-elemen natural lainnya yang diterjemahkan kedalam bentuk fisik bangunan.

Suasana dalam aula saat key note speaker memaparkan materi

Kalo yang ini saat saya memaparkan materi di ruangan
Beliau membuka acara konferensi dengan melakukan presentasi mengenai beberapa karya-karya beliau yang telah dikerjakan hingga tahun 2016. Selain beliau terdapat dua arsitek yang melakukan paparan termasuk Ryu Choon Soo dari Korea dan juga Li Xiaodong dari China. Paparan yang dilakukan para keynote speaker ini berlangsung hingga jam 12 siang dan dilanjutkan dengan makan siang sebelum dilaksanakan sesi pararel yang mengharuskan para peserta seperti kami-kami ini untuk melakukan paparan terkait paper penelitian kami yang telah lolos seleksi. Paparan dilakukan terpisah sesuai dengan topik penelitian yang dipilih. Bersama dengan researcher dari berbagai negara dengan topik yang sama akan mendengarkan paparan dan membahas paparan tersebut secara bersamaan.

Kami ber 5 memilih topik yang berbeda sehingga ruangan kami pun tidak ada yang sama. Dengan bahasa Inggris yang paspasan saya pun memaparkan penelitian saya mengenai tingkat kenyamanan masyarakat di ruang terbuka publik. Dengan terbata-bata saya, semua vocabulary yang saya ketahui keluar begitu saja dengan gramar yang menurut saya acak-acakan. Show must go on, jadi saya PD aja (padahal aslinya gugup), 10 menit waktu yang diberi untuk memaparkan topik berjalan terasa lama sekali. Untungnya peserta yang berada di dalam ruangan mengerti mengenai topik yang saya bawakan, asumsi, mengingat setidaknya ada 2, 3 orang yang menanyakan dan berdiskusi mengenai topik yang saya sampaikan. Setelah selesai dan mendengarkan beberapa pemateri, saya lega karena bahasa Inggris saya bukanlah yang terburuk, hahahaha. Mungkin karena masih selevel Asia dan bahasa Inggris bukan bahasa ibu jadinya tidak ada yang menurut saya bahasa inggrisnya cukup native, khususnya di ruangan saya berada, karena mayoritas peserta dari Korea dan Jepang.

Ini di ruang berbeda tempat rekan saya memaparkan materi
Sesi di ruangan saya selesai sekitar jam 3 sore. Begitu semuanya beres saya mengunjungi teman saya yang belum selesai di ruangan yang berbeda. Kebetulan masih ada beberapa yang belum presentasi, saya berkesempatan mendengar pemateri dari China dan Jepang. Sama seperti di ruangan saya cara penyampaian mereka juga sama seperti saya, terbata-bata, mungkin ini pertama kalinya juga buat mereka. Semua sesi pada hari ini selesai pada jam 4 sore. Karena seharian sudah lelah kami langsung bergegas pulang ke hotel untuk mandi dan bersiap-siap untuk mencari makan malam. Tapi sebelumnya kami sempat berfoto-foto di perjalanan pulang dan jalan-jalan kecil. 

Konferensi di Jepang ini merupakan konferensi internasional saya yang pertama sebagai pemateri. Walaupun terbata dalam penyampaian tapi masih masih layak dan harus untuk dicoba, karena selalu ada awal dari segala sesuatunya, kalau tidak dicoba ya kapan lagi... Setelah konferensi di Jepang saya menjadi lebih tertarik untuk melakukan hal yang sama lagi di masa yang akan datang. Dan kesempatan itu datang lagi di Jogja, meskipun berbahasa Inggris tapi audience nya rata-rata orang Indonesia jadi levelnya agak sedikit menurun. Hehehehehe....

Kalau yang ini Merdeka setelah semua selesai memaparkan materi masing-masing


No comments:

Post a Comment