Monday, October 15, 2018

Dari Sendai Mediatheque hingga Nyasar ke RED Distriknya Sendai

Interior Sendai Mediatheque
Di sela-sela jadwal presentasi yang padat selama dua hari, kami hanya punya waktu senggang sore dan malam hari. Karena sudah kadung di Sendai, sayang dong kalau waktunya tidak dimanfaatkan untuk berjalan-jalan keliling kota? Makanya pas selesai hari pertama prensentasi kami menyempatkan diri untuk berkeliling kampus Tohoku diperjalanan pulang ke hostel. Kampus di kawasan Kawauchi ini berada dekat dengan perbukitan, kalau tau Doraemon (pasti tau lah ya, kalau gak masa kecilmu kurang bahagia berarti broos and sis :D), seperti bukit dibelakang sekolahnya Nobita dan kawan-kawan. Kawasan kampus dipenuhi pohon-pohon besar, dekat kampus ada sebuah Kastil bercat putih, kami singgah untuk berfoto sebentar kemudian melanjutkan perjalanan ke sebuah kuil terdekat, Miyagi Prefecture Gokoku Shrine. Jalan menuju kekuil ini berliku dan melalui hutan dengan jalanan yang sangat sepi. Jadi pemandangan kiri-kanannya apalagi kalau bukan pepohonan. Suasana gerimis yang berubah menjadi hujan ringan menambah berat perjalanan menuju ke kuil. Karena sudah terlanjur setengah jalan, pantang pulang sebelum sampai dong.....

Kuil putih di persimpangan jalan

Jalan sepi menuju kuil di perbukitan

Berfoto di depan kuil Gokoku

Kuil ini berdiri sekitar abad ke-19, dan dikhususkan untuk mengenang pengorbanan para pahlawan Jepang selama proses restorasi Meiji pada tahun 1868. "Gokoku" dalam bahasa Jepang berarti "pelindung" dengan kata lain kuil ini merupakan sebuah simbol pelindung bagi negara, yakni Jepang. Selain kuil utama yang merupakan tempat berdoa, di dalam komplek kawasan juga terdapat beberapa bangunan-bangunan pendukung dan lapangan memorial. Karena hujan jadi kami hanya bisa berfoto seadanya saja. Yang penting ada jejaklah, bukti kalau sudah pernah mengunjungi tempat ini.

Saya asumsikan berisikan doa-doa

Ini juga sepertinya berisi doa-doa

Malamnya, setelah tiba di hotel dan mandi, kami berjalan-jalan di sekitar hotel. Berjarak 2 km terdapat bangunan karya arsitek Toyo Ito, Sendai Mediatheque. Berhubung belum tutup, saat itu sekitar jam 7 malam, kami menyempatkan masuk ke bagian dalam bangunan. Bangunan ini sendiri resmi dibuka pada Januari 2001 dan berfungsi sebagai creative center. Di dalamnya terdapat galery, perpustakaan, ruang pertemuan, bioskop kecil, dan ruang pameran terbuka yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Struktur utama dari bangunan ini menjadi suatu ciri khas yang sangat unik. Kolomnya terbuat dari pipa baja yang disusun melingkar dengan diameter tertentu yang nantinya akan menopang floor slabs yang menjadi tumpuan berdiri pengunjung di tiap lantainya. Dinding luar bangunan sendiri terbuat dari kaca, sehingga memberi kesan luas dan transparan, dimana pengunjung dapat dengan bebas melihat susana diluar bangunan maupun sebaliknya.

Kolom-kolom di dalam Sendai Mediatheque yang terbuat dari pipa baja

Keliling bangunan yang dilapisi dinding kaca transparan

Ruang duduk di lantai 2 dekat ruang baca

Puas berkeliling di dalam bangunan, kami melanjutkan untuk mencari makan malam, berhubung jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sangat susah mencari makan di Jepang, khususnya buat muslim. Karena sudah lapar kami membeli nasi dengan irisan daging tipis-tipis. Hmmmmmmm, jangan tanya rasanya, karena sudah lapar dan dipastikan tidak mengandung yang haram-haram, apapun dimakan demi mengisi perut yang mulai menjerit. Usai makan kami melanjutkan perjalanan yang tidak terencana pada malam itu. Saat itu kami melihat sebuah jalan yang mirip seperti gang dengan gapura di depannya bertuliskan Kokobuncho. Tanpa pikir panjang kamipun langsung berangkat melintasi jalan tersebut dan baru menyadari kalau area tersebut merupakan zona merahnya Sendai atau dengan kata lain RED Districtnya Sendai, tempat dimana  para karyawan kantor mabuk-mabukan dan bermain "wanita". Tak heran sepanjang jalan dipenuhi pria-pria berjas hitam, stelannya mirip mafia-mafia yang ada di filim-filim asia. Karena suasananya sangat tidak kondusif kamipun sangat berhati-hati dan tidak berani mengeluakan kamera.

Menuju ke Kokobuncho, bapaknya pake batique

Suasana di sepanjang jalan Kokobuncho, ngambil diam-diam

Salah satu koridor perbelanjaan, bukan Kokobuncho lagi

Malam semakin larut dan kaki sudah tidak sanggup lagi melangkah, kami memutuskan untuk kembali ke hostel karena besok masih ada jadwal presentasi hari terakhir. 

No comments:

Post a Comment