Thursday, November 15, 2018

Eksplore Tokyo Part 1

Yoyogi Stadium

Tiba di terminal bus Ikebukuro terlalu pagi adalah salah satu keputusan yang kurang tepat. Begitu turun dari bus, kami langsung mencari toilet umum untuk sekedar mencuci muka dan menggosok gigi. Keluar dari terminal suasana jalanan masih sangat sepi, hanya terlihat satu dua orang yang bersiap untuk berangkat kerja. Hal yang kami lakukan setelah keluar terminal adalah mencari stasiun komuter menuju rumah Mbak Ayu di Saginuma. Kami terpaksa memutar sangat jauh karena shortcut yang melintasi sebuah mall masih ditutup. Alhasil kamipun berjalan bergerombolan menginjakkan kaki di paving yang masih basah akibat embun atau gerimis yang mengguyur tempat ini tadi malam. Karena merupakan kawasan pertokan dan mayoritas kawasan entertaiment, tak heran kalau sepagi ini kawasan ikebukuro ini masih sepi. Kami tiba di stasiun Ikebukuro sekitar jam 6.30 pagi, dan diluar dugaan, stasiun bawah tanah ini sudah sangat ramai sekali berbeda dengan suasana di luar yang seperti kota mati.


Ikebukuro di pagi hari

Kondisi terminal yang masih sepi

Di sini kabut pagi masih nutupin gedung2 tinggi gitu lo

Jalanan di kawasan Ikebukuro

Tampak beberapa warga yang bersiap memulai aktivitas hariannya

Suasana stasiun bawah tanah yang sudah ramai

Sesampainya di rumah Mbak Ayu kami bergegas mandi dan sarapan untuk melanjutkan perjalanan menjelejah Kota Tokyo, jangan kasi kendor mennnnn. Tujuan pertama pagi itu adalah Harajuku, Yoyogi Stadium, dan Meiji Jingu Temple. Semua destinasi itu letaknya berdekatan dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Stasiun terdekat untuk ketiga destinasi tersebut adalah Harajuku Station. 

Tempat pertama yang kami kunjungi tak lain adalah kawasan Harajuku Street, karena kami berhenti di stasiunnya. Harajuku merupakan salah satu distrik di Shibuya. Kawasan ini terkenal sebagai pusat berkumpulnya anak-anak muda Jepang yang super duper kreatif, jadi jangan heran kalau ketika berkunjung ke tempat ini kalian akan banyak menemukan anak-anak muda Jepang berdandan dengan gaya "unik" dan "nyentrik". Di kawasan ini bertebaran butik-butik dengan style fashion yang berbeda dengan yang lainnya. Jadi jika kamu ingin merasakan atmosfir nyentriknya anak-anak muda Jepang, tempat ini adalah pilihan yang tepat.

Harajuku Station


Persimpangan Harajuku Street yang tepat berada di depan Harajuku Station


Kondisi kawasan Harajuku saat weekend


Setelah Harajuku, tujuan selanjutnya adalah Yoyogi Stadium. Destinasi ini bisa dicapai dengan berjalan kaki dari Harajuku Station sekitar 200an meter. Karena lagi weekend, suasana kawasan Harajuku, Yoyogi Stadium dan Meiji Jinggu sangatlah ramai. Kami tertarik mengunjungi stadion ini karena memiliki bentuk arsitektur yang unik. Hal yang membuat bangunan ini unik adalah bentuk atapnya. Kalau kalian memiliki background pendidikan arsitektur pasti familiar dengan bentuk atap dengan struktur suspensi dan tentunya kalian juga akan kenal dengan arsitek yang mendesainnya, Kenzo Tange. Puas berfoto dan mengamati bentuk struktur stadion yang unik ini kami pun bergerak menuju Meiji Jingu Temple. Lokasinya tepat berada di depan stadion. Siap-siap berjalan kaki guys, karena untuk mencapai bangunan utama kuil ini kamu harus berjalan sekitar 800an meter. Tapi tenang, jarak tersebut akan terasa ringan karena kita akan disuguhkan pemandangan hutan yang sangat asri dan bersih, berasa bukan lagi ditengah hiruk pikuknya kota Tokyo. Bangunan ini didedikasikan untuk Kaisar Meiji yang merupakan kaisar pertama di zaman Jepang moderen.

Tapilan bangunan Yoyogi stadium


Bentukan atap Yoyogi stadium

Selfie depan gerbang masuk Meiji Temple

Lampu jalan di sepanjang perjalanan menuju ke kuil


Gerbang ikonik yang sama seperti di gerbang masuk


Ada beberapa spot foto ketje diperjalanan menuju kuil



Suasana dalam kuil yang ramai


Semacam kartu permohonan/ doa dan harapan



Full team foto depan kuil Meiji

Puas bermain di dalam kuil, sangat ramai karena ada upacara pernikahan di dalamnya, kami memutuskan untuk mencari makan siang. Beruntungnya kami saat itu stefani kedatangan teman SMP nya dari jogja yang lagi menempuh pendidikan di Jepang. Karena perut sudah keroncongan kamipun dibawa untuk makan ramen, yang katanya terenak se Shinjuku, dan yang penting HALAL. Bila tertarik kalian bisa cari lokasinya di Google maps "shinjuku gyoen ramen ouka". Kalian hanya perlu menggunakan  subway dan berhenti di stasiun Shinjuku-Gyoemmae. Tips dari teman yang sudah tinggal lebih lama dari kami di Jepang, kalau makan mie itu kita harus menyeruputnya hingga keluar bunyi. Hal ini sudah lumrah jika makan di restoran Jepang, khususnya jika tempat makan berada berada tepat di depan kokinya. Seruput menyeruput ini menandakan makanan yang dihidangkan enak dan secara tidak langsung etika tersebut dianggap sebagai penghargaan kepada kokinya.

Foto di depan restoran sama yang punya warung ramen

Interior dalam warung ramen

Jam menunjukkan pukul 4 sore, dan cuaca saat itu sedang gerimis. Destinasi selanjutnya setelah makan ramen adalah Asakusa Temple. Untuk mencapai destinasi ini kita hanya perlu menaiki subway dan turun di Asakusa Station. Hal yang unik dari kuil ini dibanding kuil-kuil lainnya adalah lampion berwarna merah raksasa yang tergantung di gerbang masuknya. Saat kami sampai di kuil ini sudah gelap dan bangunan utamanya sudah tutup. Alhasil kami hanya jalan-jalan di sekitar kuil karena kawasan sekitarnya juga sangat menarik untuk dikelilingi. Di komplek ini kami berkenalan lagi dengan salah satu teman Stefani yang lain, gadis Jepang yang sempat workshop barengdengannya di Bandung (wahhhh..... tepuk tangan buat mbak yang satu ini karena chanelnya ada di mana-mana). 

Kawasan Asakusa menjelang petang

Gerbang khas kuil asakusa dengan lapion raksasanya

Fokus ke lampionnya jangan modelnya, hahahahaha

Pusat souvenir dan pertokoan di sepanjang jalan menuju ke kuil asakusa

Gerbang Asakusa

Perjalanan malam itu ditutup dengan mengunjungi Tokyo Tower. Tidak lengkap rasanya ke Tokyo kalau belum mengunjungi menara ikonik yang satu ini. Karena sudah gelap dan percuma naik ke atas karena hanya akan terlihat lampu-lampu, ya padahal karena tiketnya mahal ya, kami memutuskan utuk berkeliling di lantai dasarnya saja. Lantai dasar dari menara ini berfungsi sebagai museum dan juga menjual berbagai pernak-pernik berbau Tokyo Tower. Secara singkat musueum yang ada menceritakan tentang kronologi dibangunannya Tokyo Tower serta sejarah singkat perkembangan Kota Tokyo dari masa ke masa. Tak lupa kami pun mengabadikan momen kebersamaan dibawah menara dengan berfoto bersama, yaaaa walaupun mukanya gak keliatan tapi di belakang kami berdiri gagah menara tokyo berwarna merah lengkap dengan kondisi pencahayaan yang menakjubkan.

Foto di bawah Tokyo Tower
Malam sudah semakin larut kami pun memutuskan untuk mengakhiri jalan-jalan untuk hari ini. Karena masih ada besok dan tidak enak juga kalau pulang kemalaman, soalnya numpang rumah orang geng, harus tau diri. Hahahahaha..... 

No comments:

Post a Comment