Sunday, February 3, 2019

Eksplore Jaipur Hari Kedua, Masih Bergelut dengan SCAM

Hawa Mahal
Hari ke-2 di Jaipur, hari terakhir sebelum kami bertolak ke Delhi. Pagi hari kami sudah disibukkan dengan mencari tiket menuju ke Delhi. Hostel yang kami tumpangi sungguh tidak bisa memberikan solusi, mungkin karna kami mesannya dadakan kali ya, husnuzdhon ajah. Dipagi hari yang lumayan dingin, kami berangkat ke stasiun kereta api Jaipur. Kami memang sudah berkeinginan untuk setidaknya mencoba kereta api, at least sekali selama di India. Namun benar kata rekan-rekan yang sudah duluan ngelayap ke India, kalau membeli tiket kereta api on the spot itu jarang sekali dapat, minimal kita sudah harus memesannya 3 hari sebelum atau lebih gampang mantaunya kita harus punya aplikasi lokal yang bisa mencek ketersediaan kursi kereta pada tanggal dan hari yang kita inginkan. Cuman mendaftar aplikasi jalan-jalan di India tidak segampang di Indonesia, instalnya sih gampang namun registrasinya cukup ribet karena kita harus log in dengan nomor lokal dan kalau kita ingin mendapat nomor lokal harus registrasi menggunakan tanda pengenal dan dikenakan biaya tambahan.

Setelah tak ada harapan di stasiun kereta api, kami pun bertolak ke Sydicam, kawasan pool bus yang melayani trayek antar kota di Jaipur. Di sini terjadi drama lagi, masih dengan supir Tuktuk. Di awal kita sudah sepakat dengan harga 5 rupe/orang dengan rute stasiun-sydicam. Tidak terjadi tawar menawar yang alot memang pada saat itu. Apa karna dia memang tidak mengerti bahasa Inggris, atau memang pura-pura tidak mengerti. Kami pun pada awalnya sudah curiga karena murah banget dengan jarak yang sama ketika kami dari hostel ke stasiun yang diminta 50 rupe/2 orang. 

Sesampainya di Sydicam, kami turun dan menyerahkan pecahan 10 rupe. Dia langsung marah, yang kami gak tahu maksud dan inti percakapan yang beliau sampaikan. Sontak sekeliling langsung ramai dengan calo-calo bus, dan kami pun langsung dikerubuti. Karena tidak mau masalah makin panjang kami pun membayar ongkos tuktuk 150 rupe untuk 2 orang setelah awalnya dia meminta 100 rupe/orang. Dari insiden tersebut, kami kalau memesan tuktuk selalu sedia pena dan kertas untuk menyepakati ongkos yang dipahami oleh kedua belah pihak.

Kami banyak mendapat info di Sydicam, di lokasi ini juga ternyata ada terminal bus ekonomi, yang busnya semacam metromini (tanpa AC dan duduknya berhimpit-himpitan), ada juga bus dengan AC dan kursi yang empuk. Untuk perjalanan jauh ada bus jenis sleeper dari kelas teri hingga kelas kakap. Tergantung ketersediaan budget kita berapa. Setelah mendapat info kalau bus ke Delhi itu tersedia setiap jamnya. Kami pun dengan tenang melanjutkan explore Jaipur hari ke-2 setelah sebelumnya check out dan meninggalkan tas di Hostel. Tur hari ini kami pergi jalan di sekitaran Pink City, Albert Hall, Hawa Mahal dan paling jauh Galtaji. Pertama, kami order tuktuk ke Hawa mahal karena kami baru lewat saja kemarin belum sempat foto. Tuktuk dari Sydicam ke kawasan ini 100 rupe/2 orang. 


View dari cafe arahan si kawan

Bentuk fasade bangunan Hawa Mahal

Sesampainya di Hawa Mahal, sudah sekitar jam 10 pagi, suasana sudah mulai ramai dan banyak yang berfoto2. Hawa Mahal sendiri dibangun oleh sang raja untuk putri-putrinya menyaksikan kehidupan masyarakat di luar istana. Jadi para putri dan selir-selirnya di sediakan bangunan yang fasade bangunan nya penuh jendela-jelndela kecil untuk "mengintip" ke arah jalan raya. Bangunannya sendiri sangat unik karena bentuknya mirip sarang lebah dan secara keseluruhan berbentuk seperti mahkota yang mengerucut dibagian atasnya. 

Hawa Mahal terletak di pusat keramaian, khususnya wisatawan, di Jaipur. Jadi jangan heran kalau akan banyak warga lokal berpakaian rapi yang akan mendekati kamu ketika asik berfoto-foto di sini. PDKTnya akan mulai dari dia menebak kita berasal darimana, kemudian kalau sesuai dia akan bilang punya kenalan di sana, atau dia akan berencana ke sana, terus setelah perbicangan berjalan lancar baru dia mulai mengajak kamu ke cafe kenalannya, ke toko souvenir kenalannya, ke toko textil kenalannya dan menawarkan paket tur miliknya. Kira-kira seperti itu alurnya, diingat ya.... hahahaha

Dan entah scam atau tidak kami pun mengalami hal serupa. Pertama, seseorang berpakaian rapi berteriak dari kejauhan ketika kami sedang asik mengambil foto. "Indonesia", teriaknya. Karena senang ada yang ngeh kita dari Indonesia, kita langsung kaget (padahal kentara ya mukanya kalau bukan Malaysia ya Indonesia, ia kali Nigeria). 

Dia mulai melancarkan jurusnya, dia bilang punya "pacar" orang Aceh yang baru berkunjung ke Jaipur. Dia menunjukkan visa Malaysia, Singapur, dan Indonesia, menjelaskan dia berencana berlibur kesana selama 2 bulan bersama pacarnya. Dan seketika kami diajak ke cafenya yang belum selesai (dan mau aja), tepat di seberang Hawa Mahal, jadi kami bisa menikmati bangunan dan suasana jalanan yang ramai sambil bersantai. Makan berdua habis 720 rupe dengan menu toast dan 2 gelas jeruk. Sambil makan dia video call dengan "pacar" yang diceritakannya sebelumnya. Ternyata domisilinya di Lokhseumawe, terlalu sempurna buat sebuah scam kan? Tapi kami ikut aja permainannya, hingga bertukar kontak dan janji ketemuan kalau berkesempatan ke Jaipur lagi dan sebagainya dan sebagainya. Bertepatan hari Jum'at dan dia ternyata muslim juga, kami di ajak solat jum'at bareng di mesjid terdekat. Jadi menurut kalian ini masih scam atau gak? hahahaha.....

Usai sholat jum'at kami bergegas ke Albert Hall, sebuah museum di Jaipur yang dulunya dirancang untuk menjadi Town Hall. Bangunan ini berisi artefak-artefak bersejarah termasuk lukisan, karpet, keramik, patung dan berbagai jenis kristal. Bangunan berada di luar benteng Pink City. Berbentuk simetris sehingga memunculkan kesan monumental berpadu denga gaya arsitektur Indo-Saracenic, yakni perpaduan antara gothic (bukan sazkia loh ya), hindu dan mughal. Dihalamannya sendiri sangat banyak merpati, jadi tau lah ya karena kemarin kurang puas berfoto dengan sekawanan merpati di Amber Fort, semuanya kami lampiaskan di sini. Hahahahaha.... Tiket masuk ke Albert Hall adalah 300 rupe/orang dan diskon setengahnya jika bisa menunjukkan student card. Jadilah kami 450 rupe/2 orang karena teman saya punya kartu pelajar.


Bermain bersama merpati di depan Albert Hall

Tempat spot photo menarik di dalam iner court Albert Hall

Suasana dalam museum

View dari lantai 2 museum


Puas berkeliling di dalam museum, kami bergerilya di luar museum mencari tuktuk yang mau membawa kami ke Galtaji. Kami pun medapatkan harga 100 rupe buat berdua, awalnya ragu dengan harga tersebut. Cuma ketika kami konversikan cuma sekitar 20an ribu berarti cuma 10.000/orangnya kami langsung naik saja. Setelah melihat perjalanan yang ditempuh dan kondisi tuktuk yang mati segan hidup tak mampu ketika melalui tanjakan kami jadi kasihan dengan harga 100 rupe tadi. Sesampainya di Galtaji dia menyarankan untuk mennunggu dan bersedia membawa kami pulang, karena situasi di sana memang sangat sepi. Dan kalau dia pulang juga belum tentu dapat penumpang di perjalanan. Setelah sepakat dia  menunggu, kami pun masuk ke kuil.


Pemandangan perbukitan menuju ke Galtaji

Suasana komplek kawasan kuil Galtaji

Danau yang menjadi tempat mandi kera 
Kuil ini dikenal juga dengan nama Hanuman Temple. Jadi dari namanya uda kebayang dong ya kalau di sini bakal banyak mangki. Jaraknya sekitar 10 km dari Jaipur, mendaki gunung lewati lembah (semakin iba dengan supir tuktuk yang cuma dibayar 100 rupe). Kuil berada di hutan konservasi, jadi sepi banget selama perjalanannya. Di sepanjang perjalanan banyak terdapat merak berkeliaran. Tiket masuk kuil GRATIS, tapi kamera dikenakan charge 100 rupe/kamera. 

Terdapat beberapa kuil di dalam komplek Galtaji ini, masing-masing dewa diberi kuil yang berbeda-beda. Di dalamnya terdapat kolam dan air terjun yang digunakan para petapa untuk mandi. Di sini juga kita kena scam lo, hahahahaha. Harusnya untuk semua hal yang berbau agama gak ada paksaan dong ya. Tapi ketika dia meminta sumbangan seiklas hati di dalam kaleng sudah terpampang pecahan rupe terbesar 2000 rupee, sekitar 400 ribuan rupiah. Karna gak mau dipaksa saya juga ngakalin dong. Kebetupan di dompet cuma punya selembar pecahan 100 rupee, dan beberapa uang rupiah. Saya ngeles cuma punya ini, sambil menunjukkan dompet. Kalau mau saya kasih ini, sambil nunjuk pecahan 50.000 rupiah. Setelah berpikir beberapa saat (elahhhh gaya dianya) dia kemudian cuma minta selembar uang 100 saya. Alhamdulillah, untung pecahan rupe gak saya simpen di dompet jadi sukses menghindar. Hahahahaha.... 

Galtaji Temple


Salah satu spot photo menarik di depan lower tank Galtaji
Jadi tips nih ya buat yang mau ke India. Jangan mudah percaya sama orang di sana. Memang sih gak semua warga lokal itu tukang scam, tapi ada baiknya kalau selalu waspada. Baik itu di tempat wisata, terminal, hostel, bahkan kuil, kalau ada orang yang mendekati dan menawarkan sesuatu jangan langsung diterima. Kalau tidak mau berdebat cuekin aja jalan terus. Tapi kalau mau ngeladenin dan punya tenaga berlebih lanjut aja, dan taksir harga yang dia tawaar, masuk akal atau ngak. Kalau gak cocok yah tinggalin ajah. Ujungnya dia pasti mengumpat sih, cuma dalam bahasa India yang kita juga gak paham, balas aja ngumpat dalam bahasa daerah masing-masing. Hahahahahah....


2 comments:

  1. Aku gak kesampaian ke Galtaji. Pengen cuma waktu udah mepet.
    Haha ini mau ke India lagi ya? next, emang mesti lebih tegas dan muka dingin di sana.

    Omnduut.com

    ReplyDelete