Sunday, March 31, 2019

Hari Terakhir di Delhi, Menuju Agra dengan Menggunakan Bus Umum

Sebagian dari reruntuhan di kompleks Qutab Minar
Hari ke-3 di Delhi, setelah sarapan, mandi dan check out. Kami melanjutkan perjalanan di sisa hari sebelum pindah lokasi ke Agra. Sedikit info transportasi, kami sebenernya pengen banget naik itu yang namanaya kereta api di India. Pengen ngerasain gitu, gimana sumpeknya, ramainya, joroknya gerbong kereta api di India itu (kata orang-orang sih). Tapi apa daya, sejak dari Jaipur-Delhi dan Delhi-Agra, kami gak kebagian tiket barang kelas ekonomi satupun gengs. Katanya sih amannya harus pesen 3 hari atau seminggu sebelum berangkat, tapi kan kita punya jadwal fleksibel banget, ngaret malah, jadi takut aja gitu kita ditingal kereta. Jadi sedikit pembelajaran buat kamu yang ingin menggunakan jasa kereta api di India, booking lah jauh-jauh hari. Bisa sih on the spot pada hari yang sama, tapi ya gitu, untung-untungan. Bisa dapat bisa enggak. Hahahahaha

Buat kamu yang mau nyobain naik bus dari Delhi ke Agra, bisa langsung dari Anand Vihar Bus Terminal. Dari sini bus berangkat setiap 2 jam sekali hingga jam 10 malam. Untuk menuju terminal, kamu bisa menggunakan MRT Jalur Biru dan berhenti di Anand Vihar ISBT Station. 

But, kami belum mau berangkat...

Destinasi terakhir yang kami kunjungi sebelum bertolak ke Agra adalah Qutab Minar dan Lotus Temple. Pertama kami mengunjungi Lotus Temple dulu, mengingat hari masih pagi dan belum terlalu panas. Untuk menuju Lotus Temple ini kita dapat menggunakan MRT Jalur Ungu dan berhenti di Stasiun Kalkaji Mandir. Dari stasiun kita masih harus berjalan beberpa meter lagi, hingga akhirnya sampai di gerbang masuk kuil. Tapi sayang sodara-sodara, kuilnya tutup. dan kita hanya bisa menyaksikan kemegahan kuil dari luar pagar saja, SAD. 

Fotonya dari balik kerangkeng gays...
Biar kerangkengnya ilang di zoom dikit. Hahahaha
Yang ini fotonya sambil jinjit dari pagar

Puas foto-foto dari luar kami melanjutkan perjalanan ke Qutb Minar. Dari Lotus Temple kami naik MRT dan bertukar jalur ke yang berwarna oranye hingga akhirnya kami turun di Stasiun Qutab Minar. Dari stasiun kami masih melanjutkan perjalanan dengan menggunakan tutuk, karena jarak yang lumayan jauh kalau harus berjalan kaki, ongkos tuktuk setelah kami tawar 30 rupee untuk berdua. Sesampainya di gerbang pintu masuk, kami membeli tiket untuk wisatawan manca negara seharga 500 rupee.

Satu hal yang menarik di beberapa tempat wisata yang kami kunjungi sejauh ini adalah, antrian untuk warga lokal dan wisatawan manca negara itu selalu dipisahkan. Jadi jangan jiper duluan kalau kalian menemukan antrian meliuk-liuk kayak ular, karna itu biasanya antian buat warga lokal. Untuk wisatawan mancanegara umumnya lebih sepi dan lancar. 

Suasana pintu masuk kompleks Qutab Minar
Semakin ramai ketika masuk kedalam kompleks
Yang menjadi primadona

Begitu memasuki kawasan Komplek Qutab Minar ini, menara  setinggi 73 meter langsung menjadi point of view kawasan. Mulai dibangun pada tahun 1192, desain menara mengadopsi desain Minaret of Jam yang ada di Afghanistan. Selain minaret yang menjadi primadona kawasan, terdapat bangunan-bangunan lain juga di sekitarnya, seperti beberapa bangunan makam dan juga pelataran mesjid yang dulunya difungsikan untuk tempat ibadah. Melihat indahnya ukiran dan relif yang terdapat di setiap dinding bangunan dan menara membuat saya terkagum-kagum sekaligus takjub akan kemampuan seniman-seniman India zaman dulu. Mereka mampu membuat desain sebagus dan serapih ini, bahkan dengan skala yang cukup besar, pada zaman dulu yang bahkan teknologi pun serba terbatas.

Ukiran di dinding menaranya gengs... Rapi dan detail banget kan??

Penampakan bagian bangunan yang masih berdiri utuh

Berfoto bersama sang primadona

Beberapa detai di dinding-dinding bangunan

Beberapa sudut bangunan yang bagus untuk tempat foto

Foto dulu sebelum pulang. Hahahaha

Setelah puas keliling kawasan Qutab Minar dan mengambil beberapa foto, kami memutuskan untuk kembali ke hostel untuk mengambil barang-barang yang dititipkan. Kami berencana berangkat ke Agra tepan jam 2 siang agar tidak kemalaman ketika nanti tiba di Agranya. 

Begitu tiba di terminal bis, kami langsung mencari bus tujuan Agra. Untungnya ada Goverment bus, sebutan mereka untuk bus umum, yang akan berangkat 15 menit lagi sesaat setelah kami sampai di terminal. Tiketnya sebenernya 300 rupe per orang, cuma saya tawar 570 rupe untuk berdua, lumayan kan 30 rupe untuk tambahan ongkos tuktuk ke hostel sesampainya di Agra nanti. Hahahahahaha..

Perjalanan ke Agra di tempuh dalam waktu 4-5 jam, untungnya jalur yang kami lalui kali ini sangat mulus. Berbeda dengan jalur Jaipur-Delhi yang penuh guncangan dan godaan, hahahahaha. Karena merupakan tujuan favorit mungkin pemerintah memperbaiki akses Delhi-Agra agar nyaman dan lebih efisien, karena banyak juga lo touris yang mengambil one day trip dari Delhi dengan tujuan hanya ingin mengunjungi Taj Mahal. Jadi berangkat subuh pulang petang gitu.

Dengan perjalanan mulus tersebut, dan kondisi bus yang lumayan nyaman (gak berdesak-desakan), kami sampai di Agra sekitar pukul 7 malam. Kami memilih hostel yang dekat dengan gerbang masuk Taj Mahal agar bisa ngantri tiket subuh-subuh. Dari terminal bus, kami naik TukTuk dengan harga yang sudah di nego 150 rupe buat berdua. Tuktuk yang pertama kami naiki habis bensin, dan kami diturunkan di tengah jalan. Sebenarnya dia menyuruh kami menunggu sembari dia mengisi dan mencari bensin yang entah dimana. Tapi begitu dia pergi, bagai mangsa empuk kami langsung di sambar oleh supir Tuktuk yang lain. Yah kami ngikut aja, dengan harga yang sama dan kami gak rugi juga, hahahaha. Maaf supir Tuktuk yang ke satu mungkin malam ini anda belum beruntung. Hahahahah

Sekian cerita Delhi di hari terakhir.
Penasaran dengan Agra?? 
Tunggu cerita selanjutnya ya...