Friday, October 11, 2019

Banana Laci dan View Sunset dari Atap-Atap Agra

View Taj Mahal yang sangat kontras dengan bangunan di sekitarnya
Hari ke-2 di Agra, sekaligus hari terahkir, kami berencana mengunjungi beberapa tempat yang dekat-dekat saja. Di papan hostel sudah ada beberapa opsi rute-rute pendek yang bisa dikunjungi dalam 1 hari. Kami memilih Jama' Masjid, Agra Fort dan kalau memungkinkan ya Mehtab Bagh. setelah sekian hari gak berurusan dengan scam, hari ini kami mengalaminya lagi. Kali ini sama anak kecil, hahahaha. 

Pendeknya, modusnya seperti ini, melihat kami sibuk memperhatikan papan rute wisata di lobi hostel dia mendekat. Padahal posisinya mau berangkat sekolah. Dia mendekati teman saya, karena gayanya lebih necis hingga memungkinkan didekati dengan modus meminjam sisir. Sisir diberi, lanjut dia nanya-nanya rencana kita seharian. Seperti sudah auto tanggap gitu, dia langsung menawarkan diri untuk mencarikan Tuk Tuk yang bersedia menemani kami selama seharian penuh. Di papan sebenarnya sudah ada tarif Tutuk normal bagi wisatawan mancanegara yang ingin menggunakan jasa Tuk Tuk jika mau kemana-mana. Jadi kita bisa tau harga wajar untuk menawar kalau-kalau harganya di mark up sama yang punya Tuktuk. 

Setelah keluar sebentar si anak kembali dan memberi tahu kalau sudah mendapatkan Tuktuk, padahal si TukTuk emang udah mangkal depan hostel entah dari kapan. Karena sudah beberapa kali kena scam kami ya senyum-senyum aja. Si anak me mark up harga Tuktuknya 50 rupee lebih mahal dari harga yang tertera di papan tulis, hahahahh. Karna masih wajar menurut kami dan itung-itung ngasi uang jajan buat si anak.Jadi lah kami keling seharian mengunakan Tuktuk tersebut dengan harga 350 rupee untuk 2 orang.

Destinasi pertama yang kami kunjungi adalah Jama' Masjid. Bentuknya mirip seperti yang di Delhi mulai dari langgam arsitektur hingga material yang digunakan, tapi ini skalanya lebih kecil. Jaraknya dari hostel cukup jauh, sekitar 15 menit menggunakan Tuktuk. Mesjid ini dibangun oleh anak perempuan Shah Jahan, Jahanara Begum pada tahun 1648. Layaknya tipikal bangunan-bangunan bersejarah di dataran India, bangunan ini juga pastinya berdebu. Satu hal yang unik dari mesjid ini maupun mesjid yang ada di delhi. Ruang sholat utamanya justru ada pada pelataran yang tidak beratap. Bangunan yang diatasnya terdapat 3 kubah, baik yang di Agra dan Delhi, hanya mampu menampung 2 hingga 3 shaft jamaah saja. Sisanya ya diluar bangunan mesjid. Kalau lagi ramai seperti sholat Jum'at atau hari besar umat muslim, pelataran ini langsung dipasangi tenda gitu jika cuaca terik.

Pelataran Jama' Masjid Agra

Tempat wudhu berada di tengah halaman masjid
Anak-anak sedang belajar mengaji di dalam kompleks masjid

Sekitar jam 10 kami bergerak ke destinasi selanjutnya, Agra Fort. Jaraknya dari Mesjid cukup dekat, sekitar 5 menit menggunakan Tuktuk. Nah, Agra Fort ini juga luarnya hampir mirip dengan Red Fort yang ada di Delhi. Karena kita gak sempat buat masuk yang di Delhi, kita maksa buat masuk yang ini. Tiket masuknya 500 rupee per orang, tersedia jasa pemandu jika kita perlu. Tentunya bayar dong yaaaaa, India jarang dapat yang gratis. Anak-anak aja udah "pinter" nyari duit dari turis-turis, hahahaha. Karena kita kere, ya kita cuma bermodalkan wikipedia dan nyempil grup rombongan orang kalau-kalau ada spot yang menarik terus nguping deh, hahahahahaha. 

Gerbang masuk Agra Fort

Jalan masuk ke dalam benteng

Sedikit mengenai benteng ini, Agra Fort merupakan pusat kerajaan Mughal sampai tahun 1638 sebelum akhirnya pindah ke Delhi. Jaraknya dari Taj Mahal sekitar 2,5 km. Ada spot bagus di bagian benteng yang memungkinkan kita memandang Taj Mahal dari kejauhan. Benteng kokoh ini berdiri di lahan seluas 38 hektar. Dilengkapi 2 buah gerbang keluar masuk, Delhi Gate dan Lahore Gate. Lahore Gate sering juga disebut Amar Singh Rathore, merupakan pintu masuk wisatawan saat ini. Sedangkan gerbang satunya di gunakan oleh tentara India dan sifatnya tertutup. Butuh waktu 2 jam untuk menelusuri keseluruhan isi benteng, tapi buat kami lebih dari 2 jam karena ter intrupsi oleh beberapa sesi photo dadakan yang mengharuskan kami menunggu spot sepi terlebih dahulu. Hahahahha....

FYI, Agra Fort ini memiliki banyak spot photo yang bagus loh. Selain itu info sejarah yang didapat dari sini juga sangat banyak, kepanjangan kalau mau dibahas di halaman ini. Mungkin nanti saya buat satu halaman khusus yang membahas benteng ini kali ya? 

Kondisi dalam benteng Agra

Iner court pertama ketika memulai penelusuran benteng

Halaman ini cukup luas dan mayoritas tertutup rumput hijau

Salah satu suasana ruang di dalam benteng

Selain taman luas di dalam benteng juga ada pelataran-pelataran seperti ini

Taman di tengah benteng

Suasana taman utama di dalam Agra Fort

View Taj Mahal dari Agra Fort
Karena perut udah keroncongan, kami keluar dari benteng tepat jam 1 siang. Janji dengan si supir Tuktuk sebenernya jam 2, jadi kami memesan tuktuk lain untuk mencari makan siang. Di parkiran seorang supir menawarkan untuk mengantarkan kami kerestoran terdekat dengan cuma bayaran 40 rupee berdua pulang pergi. Dari harganya sebenernya kami sudah tahu kalau tuktuk ini adalah driver berbentuk calo restoran, hahahaha. Karena sudah lapar dan gak ada opsi lain, kami pun naik tuktuk tersebut. Di luar ekspektasi, kami tiba di sebuah restoran fancy, yang dari penampilannya saja kami sudah mencium kalau ini adalah restoran mahal. 

Sekali lagi karena sudah lapar kami pun masuk. Toh pasti ada menu yang harganya terjangkau (mencoba husnuzdon). Begitu duduk dan ditawarkan menu, mata langsung auto mencari nilai rupee paling kecil, hahahahahaha. Setelah melihat dan menimbang, pilihan jatuh pada Vegetable Thali. Full sayuran bookkk, karena menu daging-dagingan sudah pasti mahal. Ini aja harganya udah 285 rupee per porsinya. Ya udahla ya makannya sayuran minumnannya juga harus tradisional India dong, "Pani". Hahahahaha....

Tepat jam 2 siang kami kembali ke gerbang Agra Fort dan menunggu si supir Tuktuk langganan (gaya ih..). Karena sudah cape dan lelah, kami memutuskan kembali ke Hostel dan tidak melanjutkan ke Mehtab Bagh, jaraknya cukup jauh dari Agra Fort dan si supir minta ongkos ekstra untuk itu. Di Hostel kami selonjoran dan mengumpulkan tenaga beberapa jam sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya.

Setelah charging tenaga selama beberapa jam di lobi hostel (karena sudah check out ya selonjorannya di lobi lah) kami melanjutkan eksplore di sekitaran Taj Mahal. Kami mencari spot photo rooftop dengan pemandangan atap-atap rumah warga yang belakangnya kontras bangunan Taj Mahal. Setelah naik beberapa restoran, kami memutuskan untuk stop di restoran ke 5. Walaupun tidak se fancy dan sebagus cafe-cafe di sekitarnya tapi pemandangannya cukup bagus dan sesuai dengan yang kami cari. Karna tidak enak sama yang punya cafe kami memesan 2 gelas Banana Laci sebagai tiket masuk ke roof top ini. Ya 2 gelas banana laci untuk nongkrong di rooftop selama kuranglebih 2 jam. Hahahaha

Duduk di atap rumah warga seperti ini, sambil menikmati segelas banana laci ditemani pemandangan matahari terbenam dan siluet indah Taj Mahal sukses menahan kami hingga berjam-jam. Kami baru turun ketika mataharinya sudah gak kelihatan lagi, sekitar jam 6 petang. Kami Sholat magrib di mesjid terdekat dan makan di restoran kecil yang makanannya lumayan enak dengan harga terjangkau. Teman saya malah habis 3 gelas banana laci sangking enak dan murahnya. Restorannya terletak di arah selatan Taj Mahal. 

View Taj mahal dari rooftop cafe
Khusus di Agra, kami tidak melakukan survey-survey an bus buat kembali ke Jaipur. Kita go show aja, dengan bermodalkan percaya pada web dan supir Tuktuk, hahahahaha. Selagi rebahan di lobi hotel sore tadi sebenarnya kami sudah mencari beberapa kandidat pool bus yang menjual tiket bus ke Jaipur. Kami mencatat beberapa alamat yang masuk akal, dan malamnya kami menyerahkan alamat tersebut ke supir TukTuk. Rejeki anak sholeh memang ya kan, loket pertama yang kami datangi sukses dan masih tersisa 2 seat lagi. Tak apalah, dapat tempat duduk. Tapi begitu memasuki bus, ini merupakan transportasi terburuk sejauh kami menggunakan bus umum untuk berpindah kota. Ada beberapa penumpang yang tidak memiliki tiket dibiarkan masuk dan selonjoran di gang sempit bus, alhasil bus menjadi padat dan sempit.

Mau komplen juga udah kemalaman, dari pada ditinggal ye kannnn? kita ikhlas aja dah. Temen saya malah, sangking sempitnya tempat duduk yang kami dapat, dia terpaksa selonjoran juga di bawah ngikut local people. Hahahahaha....

Sekian di Agra...
Tunggu kisah berikutnya ya....
Keep jalan-jalan...
Keep eksploringg....




No comments:

Post a Comment